Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Megebeg-gebegan di Tukadmungga, Digelar saat Pengrupukan, Pemuda Berebut Kepala Godel

I Putu Mardika • Kamis, 27 Maret 2025 | 05:21 WIB

Caru godel yang kepalanya akan diperebutkan sebagai tradisi megebeg-gebegan di Desa Adat Tukad Mungga
Caru godel yang kepalanya akan diperebutkan sebagai tradisi megebeg-gebegan di Desa Adat Tukad Mungga
BALIEXPRESS.ID-Perayaan Tradisi Megebeg-gebegan Godel kembali akan dilaksanakan Krama Desa Adat Tukadmungga, Kecamatan/Kabupaten Buleleng pada Jumat (28/3) mendatang. Ritual ini dilaksanakan bertepatan dengan pengrupukan untuk menyambut Nyepi Saka 1947 pada Sabtu (29/3) medatang.

Kelian Adat Dharmajati Desa Tukadmungga, Ketut Wicana mengatakan tradisi sudah diwariskan secara turun temurun oleh para pendahulunya.

Umumnya, di Bali banten caru biasanya di lebar (buang Red) usai prosesi pecaruan.

Namun, sarana caru berupa daging godel (anak sapi) ini justru diperebutkan oleh truna-truni di empat banjar yang ada di Desa Tukadmungga.

Bahkan, daging godel tersebut usai diperebutkan, selanjutnya dikonsumsi secara bersama-sama.

Sebelum dimulai, diawali dengan upacara pecaruan yang dilakukan di Perempatan Agung (Catus Pata) oleh masyarakat Desa Tukadmungga.

Krama memohon ijin atau ngaturang piuningke pura-pura, baik itu pura Khayangan Tiga maupun pura-pura pesanakan (Pura Tegal Penangsaran, Pura Beji dan Pura Tirta) dengan menggunakan banten apejatian atau banten pejati lengkap dengan runtutannya agar prosesi berjalan lancar.

Godel atau anak sapi yang dijadikan caru terlebih dahulu menjalani prosesi mapepada di Perempatan Agung (Catus Pata) Desa Adat Dharmajati Tukadmungga.

Godel tersebut  diarak mengeliling Pelinggih Taksu Gede (Pelinggih Pecalang Agung) yang berada ditengah-tengah Perempatan Agung (Catus Pata) sebanyak tiga kali.

“Konsep yang digunakan yaitu Murwa Daksina, yang artinya bergerak menuju keatas atau menuju tingkatan yang lebih tinggi. Dengan harapan roh dari hewan yang digunakan untuk upakara, dapat terlahir kembali menjadi makhluk yang derajatnya lebih tinggi,” jelasnya.

Tepat pukul 16.00 Wita, suara kul-kul pun dibunyikan oleh prajuru adat. Ini menjadi tanda jika persembahyangan sudah dimulai.

Maka warga lanang dan istri desa Adat Dharmajati Tukadmungga mulai berdatangan untuk melaksanakan persembahyangan bersama di Pura Dalem dengan membawa sarana banten (sesajen) yang berisi nasi selem (hitam), putih dan membawa danyuh (daun kelapa kering).

Acara terus berlanjut dengan pecaruan.

Dimana, sarana yang digunakan adalah caru panca sata. Sarana ini dengan memakai lima ekor ayam yaitu ayam berbulu putih, ayam berbulu merah atau biing, ayam berbulu kuning atau siungan, ayam berbulu hitam atau ireng dan ayam berbulu campuran atau brumbun.

Disamping caru Panca Sata diletakkan caru Godel dengn posisi pertama kepala, tangan, kaki atau grigis, setelah itu ditutupi oleh kulitnya atau bayang-bayang disertakan olahan godel 99 (sembilan puluh Sembilan) tanding.

Diantaranya sate pulung pulung lawar barak dan putih, dilengkapi dengan segehan cacahan warna merah dan putih , tumpeng , tulung, keben, dan kuangen dan kesemua jumlahnya 99 (sembilan puluh sembilan) tanding sesuai dengan jumlah urip suku patnya yaitu seekor Godel (anak sapi),

“Setelah tiga kali mengelilingi caru, sanggah cucuk dibuang, hanya tersisa caru Godel. Nah sarana inilah yang akan dipakai sarana Megebeg-gebegan untuk diperebutkan oleh truna-truni yang ada di empat banjar adat di Tukadmungga,” paparnya.

Begiitu aba-aba upacara Megebeg-gebegan Godel dimulai, keempat banjar yakni Banjar Dharma Semadi, Dharma Yasa, Dharma Yadnya dan Dharma Kerti langsung bertarung untuk memperebutkan kepala godel tersebut.

Suasana semarak ditambah tepuk tangan karma yang menyaksikan pun semakin menambah kegembiraan tradisi ini.

“Tidak hanya ada kegembiraan, kebersamaan, dan kekompakan warga, terutama kalangan pemuda,” jelas Ketut Wicana.

Jika kepala godel tersebut berhasil dimenangkan, maka dilanjutkan dengan memasak kepala godel itu sebagai hidangan.

Bahkan, seluruh truna-truni yang terlibat megebeg-gebegan itu juga ikut untuk menyantap daging godel yang telah dimasak.“Secara tidak langsung ini mempererat solidaritas, sportifitas lewat ritual Megebeg-gebegan,” sebutnya.

Diceritakan Wicana, tradisi Megebeg-gebegan tak lepas dari kisah masa lalu, dimana tanaman padi di Desa Tukadmungga pernah diserang hama tikus. Tak pelak, membuat paceklik Desa Tukadmungga. 

Warga yang bingung akhirnya memohon petunjuk leluhur. Hingga mendapatkan petunjuk agar desa melaksanakan pacaruan sebelum Hari Raya Nyepi dengan sarana seekor sapi.  Syaratnya, sapi yang dijadikan sarana pacaruan tidak dibolehkan dalam keadaan cacat.

Kondisinya juga harus dalam keadaan sehat. Namun dalam pawisik (petunjuk gaib) itu dikatakan jenis kelamin sapi boleh memakai betina ataupun jantan.

Tradisi Megebeg-gebegan di Desa Tukadmungga menjadi tradisi yang tidak di miliki desa lainya di Kabupaten Buleleng.

“Kami akan terus meneruskan tradisi ini, dan akan tetap dilestarikan dengan tujuan menjaga persatuan dan mempererat persaudaraan krama desa,” pungkas Wicana. (dik)

 

 

Editor : I Putu Mardika
#sapi #nyepi #tukadmungga #megebeg gebegan #tradisi #buleleng