Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ogoh-Ogoh Lembu Merah Menuai Kontroversi, Banjar Pagan Kelod Bantah Ada Unsur Politik

Wiwin Meliana • Senin, 31 Maret 2025 | 16:08 WIB

Warna merah pada ogoh-ogoh Lembu Merah dituding sebagai pesanan politik
Warna merah pada ogoh-ogoh Lembu Merah dituding sebagai pesanan politik

BALIEXPRESS.ID-Tak hanya dituding sebabkan pemalinan, namun pemilihan warga ogoh-ogoh Lembu Merah juga menjadi perbincangan.

Sejumlah warganet di media sosial menuding jika warna merah pada ogoh-ogoh Lembu Merah merupakan pesanan partai.

Baca Juga: Warga Kena Sanksi Kasepekang di Nusa Penida Dievakuasi ke SKB Banjarangkan, Ini Pertimbangannya

Menanggapi hal tersebut, ST Satya Dharma Yowana, Banjar Pagan Kelod, Sumerta Kauh angkat suara.

Kepada Bali Express, Ketua ST Satya Dharma Yowana menyebut tidak ada unsur politik dalam pembuatan ogoh-ogoh Lembu Merah.

Tudingan pemilihan warna merah pun dibantah merupakan pesanan salah satu partai.

Warna merah digunakan sebagai simbol keberanian dan kekuatan.

Baca Juga: Peringati Hari Raya Nyepi, BRI Peduli Salurkan Bantuan Sembako Hingga Renovasi Pura

“Tidak ada unsur politik di dalam penggarapan ini, kami memilih warna merah untuk menggambarkan keberanian, kegembiraan dan kekuatan terhadap STT kami,” jelasnya Senin (31/03/2025).

Sebelumnya, Ogoh-ogoh Lembu Merah yang diarak ke Catur Muka pada malam Pengerupukan, Jumat (28/03/2025) menjadi sorotan.

Pasalnya, Lembu merupakan sarana yang digunakan dalam upacara ngaben di Bali.

 Lembu digunakan sebagai tempat membakar jenazah dan petunjuk jalan ke surga bagi roh yang meninggal. 

Banyak warganet yang nyeletuk bahwa pengarakan ogoh-ogoh berupa Lembu ke Catur Muka dapat menyebabkan pemalinan.

Pemalinan adalah kepercayaan dalam masyarakat Bali yang menganggap bahwa pelanggaran kesepakatan ruang dan waktu dapat berakibat buruk. 

Baca Juga: Istirahat Sejenak, Rest Area Grup MIND ID Bikin Perjalanan Aman

Ketua ST Satya Dharma Yowana menyebut sebelum memutuskan untuk membeli ogoh-ogoh lembu, pihaknya telah berdiskusi dengan sejumlah tokoh agama dan adat.

“Secara niskala kami diskusi dengan beberapa tokoh termasuk, pemangku, balian, tempat pembuatan lembu dan terakhir untuk meyakinkan kami minta petunjuk sareng Ida nak lingsir Ratu Peranda yang lokasinya masih di wewidangan Sumerta,” jelasnya kepada Bali Express pada Senin (31/03/2025).

Dari diskusi yang dilakukan, bahwa lembu yang tidak diupacarai dan tidak tidak ada petulangan adalah lembu yang bukan digunakan untuk upacara Ngaben.

Baca Juga: Ogoh-ogoh Lembu Merah Dituding Sebabkan Pemalinan, Begini Penjelasan ST Satya Dharma Yowana

“Semua memberikan jawaban positif, termasuk ida nak lingsir. Bahwasanya lembu yang tidak di upacarai + tidak ada petulangan (tempat bakar layon didalam) adalah lembu yg bukan digunakan untuk upacara ngaben. Artinya benda tersebut adalah benda mati,” jelasnya.

 

 

Editor : Wiwin Meliana
#pagan kelod #ogoh ogoh #lembu #politik