BALIEXPRESS.ID - Kesucian Hari Raya Nyepi di Bali ternoda. Sejumlah oknum warga nekat melanggar aturan Catur Brata Penyepian yang dilaksanakan umat Hindu Bali dengan berkeliaran menggunakan motor.
Salah satu kejadian yang mencuri perhatian terjadi di Desa Adat Batuyang, Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali.
Nengah Sana, warga Gang Kokokan, Desa Batubulan, menjadi sorotan setelah aksinya mengendarai motor saat Nyepi dihentikan oleh pecalang.
Baca Juga: Misteri Hilangnya Kakek Sudirga di Tabanan: Tim SAR Sisir Sungai dan Pura Dalem!
Tak pelak, ia pun harus berurusan dengan prajuru adat setempat.
Nengah Sana diminta untuk menghadap prajuru adat dan memohon maaf di Pura Dalem dengan menghaturkan banten pejati.
Banten pejati berisi daksina, ketupat, dan soda. Tak hanya itu, ia juga menyampaikan permohonan maafnya secara terbuka melalui media sosial Desa Adat Batuyang.
Baca Juga: Kronologi Kecelakaan Tragis Saat Subuh: Motor vs Truk Misterius di Tikungan, Dua Remaja Tewas!
"Om Swastiastu, saya Nengah Sana, tinggal di Gang Kokokan, Desa Adat Batuyang, Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati. Saya memohon maaf kepada Bendesa, Prajuru, pecalang dan warga Batuyang semua. Karena saya sudah memiliki kesalahan melanggar pelaksanaan Nyepi," ujarnya dengan nada penyesalan.
"Mulai saat ini, saya menghaturkan pejati di Pura Dalem. Saya mohon maaf secara sekala dan niskala. Saya berjanji tidak akan melanggar pelaksanaan Nyepi lagi," tegasnya.
Anak Agung Ngurah, Ketua Pecalang Desa Adat Batuyang, mengapresiasi langkah Nengah Sana yang telah memohon maaf secara terbuka.
"Saya hanya menjalankan aturan di wilayah desa adat Batuyang. Kami tegakkan aturan tidak tumpang tindih. Warga adat dan warga pendatang tetap kami tindak jika ada kesalahan," jelasnya.
Ia berharap, kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua pihak agar Nyepi berikutnya berjalan lebih tertib.
"Besok, Nyepi lagi, agar tertib. Itu permintaan kami kepada warga adat dan juga warga pendatang," pungkasnya. ***
Baca Juga: Kisah Cinta Segitiga Berujung Maut: Seorang Pria Tembak Korban hingga Tewas di Depan Kantor Desa!
Editor : I Putu Suyatra