BALIEXPRESS.ID – Komitmen Dinas Kebudayaan (Disbud) Klungkung dalam menjaga kelestarian seni dan budaya kembali diwujudkan melalui penyelenggaraan workshop bertajuk Atraksi Melestarikan Seni dan Kebudayaan Kabupaten Klungkung atau disingkat Aksiku.
Program tahunan ini akan berlangsung mulai Mei hingga September 2025, berlokasi di kawasan Museum Semarajaya, Klungkung.
Kepala Dinas Kebudayaan Klungkung, I Ketut Suadnyana mengungkapkan bahwa kegiatan workshop akan melibatkan 10 sanggar seni dari total 66 sanggar yang terdaftar di Kabupaten Klungkung. Setiap workshop akan diikuti oleh dua sanggar, dan dijadwalkan berlangsung lima kali selama periode kegiatan.
"Pemilihan sanggar dilakukan secara bergiliran setiap tahun. Untuk tahun ini, kami akan tetapkan sanggar-sanggar terpilih pada Februari 2025," jelasnya, didampingi Kasubag Tata Usaha UPTD Museum Semarajaya, Ida Bagus Gde Wibawa Adnyana.
Workshop ini menjadi bagian penting dari strategi pelestarian budaya yang menyasar generasi muda. Selain memberikan ruang berekspresi, kegiatan ini juga ditujukan untuk meningkatkan kualitas karya seni melalui pendampingan intensif. Guna mendukung pelaksanaan, Disbud telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 100 juta yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2025.
“Dengan adanya workshop ini, kami ingin menghidupkan kembali semangat berkesenian di kalangan generasi muda. Kami berharap dari kegiatan ini akan lahir seniman-seniman muda yang mampu meneruskan dan mengembangkan warisan budaya Bali,” ujar Suadnyana.
Sebelumnya, pada tahun 2024, Disbud Klungkung melalui UPTD Museum Semarajaya juga telah sukses menyelenggarakan workshop seni tradisional, seperti pelatihan Bapang Barong, Gamelan Selonding, dan Gamelan Saron. Kegiatan tersebut mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat dan komunitas seni lokal.
Tak berhenti di workshop, program Aksiku 2025 juga akan ditutup dengan lomba baleganjur tingkat remaja yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang. Lomba ini sekaligus menjadi ajang unjuk kemampuan dari para peserta yang telah mengikuti workshop.
“Pendekatan pelestarian budaya tidak bisa dilakukan secara parsial. Harus berkelanjutan dan menyentuh langsung pelaku seni di akar rumput,” tandas Suadnyana. Ia pun berharap melalui program ini, Klungkung dapat terus berkembang sebagai pusat pelestarian seni dan budaya Bali, sekaligus menjadi wahana bagi tumbuhnya regenerasi seniman-seniman lokal yang tangguh. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana