SINGARAJA, BALI EXPRESS - Langit Desa Pemuteran pagi itu cerah, seolah ikut menyambut langkah tegas Kapolres Buleleng AKBP Ida Bagus Widwan Sutadi, yang turun langsung ke lahan jagung milik warga, Selasa (15/04).
Bersama jajaran dan para pemangku kebijakan, ia tak hanya ikut memanen jagung, tapi juga mendengarkan langsung keluhan para petani yang sudah terlalu lama terjebak dalam persoalan klasik: panen melimpah, pasar sepi.
Bertempat di Banjar Dinas Sendang Pasir, Kecamatan Gerokgak, kegiatan panen jagung ini menjadi lebih dari sekadar seremoni. Hadir mendampingi, Kapolsek Gerokgak Kompol I Made Derawi, Kepala Dinas Pertanian Buleleng Gede Melandrat, Dirut Perumda Swatantra Buleleng I Gede Boby Suryanto, serta perangkat desa dan para pengepul hasil tani. Semua hadir, namun yang paling menonjol hari itu adalah suara dari para petani sendiri.
Di tengah panas ladang, rombongan turut memetik jagung, menyentuh langsung hasil kerja keras para petani yang belakangan ini merasa dikhianati pasar. Tak berhenti di situ, rombongan juga mengecek gudang milik pengepul. Di sinilah kenyataan pahit tampak nyata—jagung menumpuk, tak tahu ke mana harus dijual.
“Ini bukan sekadar kunjungan. Kami datang menanggapi keluhan yang sebelumnya ramai diberitakan, soal 60 hektar lahan jagung di Pemuteran yang hasilnya sulit dipasarkan,” tegas Kapolres Widwan.
Baca Juga: Goak Poleng dan Mimpi Kemandirian Pangan, Langkah Berani Buleleng Menanam Harapan
Ia menambahkan bahwa keterlibatan institusinya merupakan bagian dari peran TNI-Polri dalam mendukung program ketahanan pangan nasional.
Bahkan, demi mendorong petani agar tetap semangat bertanam, Polres Buleleng menyiapkan bantuan bibit jagung unggul merek Goak Poleng. Namun, tak hanya bibit yang dibutuhkan. Keluhan lebih besar datang dari Mat Rasidi, seorang petani setempat yang menyuarakan realita di lapangan. Pupuk langka, bibit mahal, harga jual rendah, dan akses jalan yang rusak parah.
Keluhan itu ditanggapi serius. “Kami tidak akan tinggal diam. Masalah ini akan kami pelajari dan koordinasikan dengan pemerintah daerah. Soal jalan tani, kita akan usulkan untuk segera diperbaiki,” ujar Widwan, menegaskan niatnya menjembatani jeritan petani dengan keputusan di tingkat atas.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Gede Melanderat menyampaikan bahwa Buleleng menargetkan perluasan tanam jagung hingga 6.600 hektar, seraya menggarisbawahi pentingnya bibit unggul dan perawatan intensif. Namun pertanyaannya, untuk apa perluasan lahan, jika hasilnya tak bisa dijual?
Menjawab kekhawatiran itu, Dirut Perumda Swatantra, I Gede Boby Suryanto pun angkat suara. Ia menjanjikan komitmen untuk menyerap hasil panen petani.
“Jika pasar tidak menyerap, kami yang akan ambil,” ucapnya, memberi harapan di tengah kegetiran.
Kegiatan ini menjadi gambaran bahwa ketahanan pangan tidak bisa hanya dibangun di atas kertas strategi. Ia tumbuh dari lahan yang basah oleh peluh petani, dari jagung-jagung yang belum tentu laku, dan dari suara-suara kecil yang jarang terdengar. ***
Editor : Dian Suryantini