Gunung Sampah Dadakan di Badung Saat Galungan: Ke Mana Larinya Ratusan Ton Limbah?
Putu Resa Kertawedangga• Jumat, 25 April 2025 | 02:42 WIB
DIANGKUT: Proses pengangkutan sampah oleh petugas DLHK Badung di sejumlah wilayah Kabupaten Badung.
BALIEXPRESS.ID - Perayaan Hari Raya Galungan yang meriah di Kabupaten Badung, Bali, menyisakan "gunung" misterius!
Sebuah lonjakan volume sampah yang signifikan, mencapai 15 persen dari hari biasa, tercatat selama Galungan dan Umanis Galungan. Ke mana perginya ratusan ton limbah ini dalam waktu singkat?
Pemandangan peningkatan volume sampah memang menjadi fenomena lazim setiap Hari Raya umat Hindu Bali.
Berbagai sarana upacara yang digunakan dalam perayaan ini menjadi penyumbang utama lonjakan tersebut.
Kepala Bidang Kebersihan dan Limbah B3, Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DLHK) Badung, Anak Agung Gede Agung Dalem, tak menampik adanya fenomena ini.
Bahkan, ia menyebutkan bahwa peningkatan volume sampah nyaris merata di seluruh wilayah "Gumi Keris".
"Peningkatan volume sampah ini karena Hari Raya Galungan, peningkatannya 15 persen," ujarnya saat dikonfirmasi Kamis (24/4).
Lantas, wilayah mana saja yang menjadi penyumbang terbesar "gunung" sampah dadakan ini?
Gung Dalem mengungkapkan bahwa peningkatan signifikan terjadi di wilayah yang didominasi penduduk asli, seperti di Badung Utara.
Tak hanya itu, wilayah Badung Selatan, terutama Kelurahan Kuta dan Kedonganan, yang notabene merupakan kawasan pariwisata, juga mengalami lonjakan serupa.
"Volume sampah yang terbanyak di Kerobokan, Kuta, dan Kedonganan. Di wilayah Utara lainnya juga banyak peningkatan sampah," ungkapnya.
Data ini tentu menarik perhatian, mengingat Kuta dan Kedonganan dikenal dengan aktivitas pariwisatanya, sementara wilayah Badung Utara memiliki karakteristik yang berbeda.
Namun, di tengah peningkatan volume sampah yang mencapai angka fantastis, muncul sebuah pertanyaan besar: ke mana perginya 620 ton sampah yang tercatat selama dua hari terakhir?
Apakah DLHK Badung memiliki "pasukan" khusus yang bergerak cepat membersihkan sisa-sisa perayaan?
Gung Dalem memberikan sedikit pencerahan. Ia menjelaskan bahwa tidak seluruh wilayah Badung bergantung pada pengangkutan dari DLHK.
Banyak desa yang telah memiliki sistem pengelolaan sampah mandiri.
"Ada yang langsung diangkut desa, ada juga jasa angkut sampah," paparnya.
Meskipun demikian, angka 620 ton dalam dua hari tetaplah jumlah yang besar. Bagaimana DLHK Badung dan desa-desa mandiri ini mampu mengatasi lonjakan drastis tersebut?
Apakah ada strategi khusus yang diterapkan saat hari raya? Mungkinkah ada inovasi pengelolaan sampah yang "ajaib" di balik layar?
Fenomena "gunung" sampah dadakan saat Galungan dan penanganannya yang relatif cepat ini menyimpan sebuah cerita menarik tentang kesiapsiagaan dan sistem pengelolaan sampah di Badung. ***