SINGARAJA, BALI EXPRESS – Di bawah sengatan matahari yang membakar ubun-ubun, sosok renta dengan langkah pelan tampak menyusuri jalanan pantura Buleleng Barat. Topinya lusuh, bajunya pudar, dan di bahunya tergantung ongkek—tongkat kayu panjang yang telah menemaninya puluhan tahun. Namanya Januri, penjual kacang rebus dan tahu bumbu petis yang setia menapaki jalan dari Bali hingga Banyuwangi, saban hari tanpa keluh kesah.
Ongkek tua itu menggantungkan rejeki. Di depannya, puluhan bungkus tahu goreng berbalut daun pisang dan plastik kuning menggoda selera. Di belakangnya, ikatan kacang tanah rebus tersusun rapi. Kadang ada juga telur puyuh rebus melengkapi dagangannya.
Ia menjajakan semua itu sembari berjalan kaki, dari satu desa ke desa lain, dari pura ke pura, dari satu keramaian ke keramaian lainnya.
“Kalau ada yang beli ya alhamdulillah. Kalau tidak ya tidak apa-apa. Namanya juga jualan,” ucap Januri dengan senyum yang tak pernah benar-benar pudar, meski sering ditolak pembeli yang kini dimanjakan oleh varian jajanan kekinian.
Setiap pagi, pukul 04.00 WITA, Januri sudah bersiap. Ia menyeberang dari Desa Glagah, Banyuwangi menuju Gilimanuk. Turun dari kapal, langkahnya langsung membelah jalan. Sepanjang perjalanan menuju Buleleng Barat, ia berdagang sambil berjalan kaki. Katanya, itu sekaligus olahraga. “Masih muda ini, jalan kaki saja,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Baca Juga: DPRD Buleleng Soroti Masalah Pendidikan dan Pengangguran dalam Rekomendasi LKPJ Bupati 2024
Sudah lebih dari 50 tahun Januri menjual dagangan di jalur pantura. Ia tak ingat pasti kapan mulai, yang jelas sejak Pura Pulaki belum seluas dan semegah sekarang. Rutenya tetap. Dari Gilimanuk, menyusuri Sumberklampok, hingga ke Celukan Bawang. Pulang pun jalan kaki, menyeberang, lalu kembali ke Bali keesokan harinya.
“Orang lain bermimpi bisa ke Bali, saya bisa tiap hari. Nikmati saja, seperti liburan,” katanya ringan.
Namun perjalanannya tak selalu mulus. Kawanan monyet nakal kerap menyerbu dagangannya, terutama di kawasan Sumberklampok dan Pulaki.
“Monyetnya bandel, dari dulu begitu. Kadang direbutin kalau lengah,” ceritanya santai.
Jika kemalaman, Januri tak memaksakan diri pulang. Ia lebih memilih tidur di pos kamling atau di depan warung, menunggu pagi menyingsing. “Sudah biasa, kadang dua hari baru pulang,” ungkapnya.
Kini, seiring usia yang makin menua, Januri sesekali menggunakan sepeda motor untuk mengejar waktu. Meski begitu, semangatnya tak pernah surut. “Usia boleh tua, semangat tetap muda,” selorohnya kepada pembeli.
Jika dagangannya habis, Januri bisa membawa pulang hingga Rp 450 ribu per hari. Itu belum dipotong biaya produksi dan transportasi. Ia selalu menargetkan tahu dan telur habis hari itu juga, sebab keduanya tak bisa disimpan lama. Kacang masih bisa dijual kembali esok hari.
Puluhan tahun berjualan, Januri pun hafal luar kepala jadwal piodalan pura di Buleleng Barat. Ia tahu kapan harus bersiap karena tahu petis dan kacangnya pasti diburu. “Dari Purnama, Tilem, sampai odalan, saya hafal. Kalau tidak sakit pasti jualan,” ujarnya mantap.
Dari hasil berjualan inilah ia membiayai pendidikan anak-anaknya, bahkan sampai membantu kuliah cucunya. Ia dibantu oleh sang ibu menyiapkan dagangan. Istri dan anak sulungnya telah tiada—keduanya tenggelam dalam tragedi kapal karam di Gilimanuk. Kini ia tinggal bersama empat anak lainnya, yang bungsu masih duduk di bangku SMP. ***
Editor : Dian Suryantini