SINGARAJA, BALI EXPRESS - Di balik rimbunnya kebun cengkih Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng, tumbuh sosok mungil yang kini bikin geger di dunia panjat tebing.
Namanya Kadek Adi Asih, akrab disapa Asih. Gadis belia kelahiran 22 November 2006 ini baru saja mencuri perhatian dunia lewat penampilannya di Piala Dunia Panjat Tebing 2025 di Bali. Tak main-main, pada laga debutnya di level dunia, Asih sukses membawa pulang medali perunggu — sebuah capaian yang mengejutkan sekaligus membanggakan pada kategori Speed Woman, IFSC 2025.
Asih sejatinya, bukan dari keluarga atlet. Bukan pula dari pusat pelatihan olahraga mewah. Asih tumbuh di tengah alam yang liar dan mendidik. Jurang, sungai, dan pohon-pohon cengkih. Masa kecilnya dihabiskan memanjat pohon untuk membantu ayahnya, Komang Redi Astrawan, seorang buruh pemetik cengkih. Siapa sangka, rutinitas memetik cengkih itulah yang jadi dasar kekuatan dan ketangkasannya di papan panjat.
“Biasa naik turun jurang, panjat pohon, main di sungai. Itu sudah jadi bagian dari hari-hari saya,” kenang Asih dengan senyum malu-malu.
Ibunya, Luh Putu Sutarjani, adalah staf administrasi di Terminal Banyuasri, Singaraja. Keseharian keluarga mereka sederhana. Tapi semangat dan dukungan yang mereka berikan tak pernah setengah hati.
Baca Juga: Mengenal Kadek Adiasih Si Pemanjat Mungil dari Buleleng, Calon Penakluk Papan Panjat Tebing Dunia
Kini, gadis yang sempat bersekolah di SDN 1 Gitgit, lalu SMPN 4 Singaraja dan baru saja lulus dari SMAN 2 Singaraja, sudah mencatatkan namanya di papan kompetisi dunia. Bukan hanya tampil — ia naik podium, dan bersanding dengan nama-nama besar seperti Miroslaw Aleksandra (Polandia) dan Zhou Yafei (China).
Catatan waktunya di babak final speed putri, 7,27 detik, cukup untuk mengalahkan atlet Korea Selatan yang lebih berpengalaman, Jeong Jimin. Momen ketika Jimin terpeleset dan Asih melesat ke garis akhir memicu sorak sorai ribuan penonton di Peninsula, Nusa Dua, Bali.
“Awalnya saya tidak menyangka bisa lolos final, apalagi dapat medali. Tapi terima kasih buat timnas dan penonton yang terus menyemangati,” ujarnya usai lomba, sambil menyeka air mata bahagia.
Debut ini bukan hanya kejutan, tapi juga menjadi pembuktian. Asih memang sempat menunjukkan taringnya di Asian Youth Cup 2023 di Singapura, dengan menyabet juara tiga. Tapi naik podium di Piala Dunia, di usia 17 tahun, adalah kisah yang tak banyak dimiliki atlet lain.
Kini, harapan besar mulai disematkan. Asih disebut-sebut sebagai calon andalan Indonesia di Olimpiade Los Angeles 2028. KONI Buleleng dan FPTI Buleleng pun mulai mempersiapkan dukungan penuh agar prestasinya terus menanjak.
Bonus dari kemenangan yang ia raih juga tak hanya jadi kebanggaan, tapi sudah langsung bermanfaat. Namun Asih belum mau larut dalam euforia. Ia tahu jalan menuju puncak masih panjang dan penuh tantangan.
“Saya tetap latihan serius. Masih banyak lomba menunggu. Saya ingin jadi atlet panjat profesional yang bisa membanggakan Indonesia,” tuturnya tegas.
Dari pohon cengkih di lereng Gitgit, kini Asih tengah memanjat mimpi ke puncak dunia. Dengan semangat, dukungan keluarga, dan akar yang kuat dari tanah kelahirannya, bukan tidak mungkin suatu hari nanti dunia panjat tebing akan mengenalnya bukan hanya sebagai kejutan — tapi sebagai legenda. ***
Editor : Dian Suryantini