Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Buleleng Darurat Literasi? Langkah Cepat Disdikpora Ungkap Fakta Mengejutkan di Balik Siswa Sulit Membaca!

Dian Suryantini • Selasa, 6 Mei 2025 | 13:20 WIB

Plt. Kepala Disdikpora Buleleng, Putu Ariadi Pribadi.
Plt. Kepala Disdikpora Buleleng, Putu Ariadi Pribadi.

BALIEXPRESS.ID - Sebuah alarm kewaspadaan berbunyi nyaring di Kabupaten Buleleng! Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) setempat bergerak sigap menanggapi isu krusial terkait sejumlah siswa di tingkat dasar dan menengah pertama yang belum mampu membaca dan menulis dengan lancar.

Langkah-langkah super intensif pun langsung digeber untuk mengurai benang kusut permasalahan ini.

Plt. Kepala Disdikpora Buleleng, Putu Ariadi Pribadi, menegaskan bahwa penentuan nasib siswa, apakah layak naik kelas atau lulus, sepenuhnya berada di tangan benteng terakhir pendidikan: dewan guru dan kepala sekolah.

Baca Juga: Bali Tak Hanya Melukat! Tren Amulet atau Jimat Meroket di Kalangan Wisatawan dan Anak Muda, Ada Apa?

"Jika ditemukan murid yang belum tuntas, gurulah yang berwenang memutuskan. Objektivitas guru, terutama untuk siswa SD yang fondasi literasinya belum kuat, menjadi pertimbangan utama," ujarnya tegas, Senin (5/5).

Bukan Sekadar Lulus atau Tidak! Ada Misteri di Balik Kesulitan Siswa?

Yang lebih mengejutkan, Disdikpora tak hanya fokus pada persoalan akademis semata.

Bersama Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Undiksha, mereka justru melakukan investigasi mendalam untuk mengungkap kemungkinan adanya faktor lain, termasuk dugaan disleksia, yang menghambat kemampuan literasi siswa.

Sebuah program pendampingan 1 lawan 1 yang belum pernah terjadi sebelumnya diluncurkan di seluruh SMP se-Buleleng!

Baca Juga: Pelaku Pembunuhan Wanita dalam Mobil di Denpasar Positif Pakai Benzo

Bayangkan, dari 60 SMP, setiap siswa yang teridentifikasi kesulitan membaca dan menulis didampingi secara intensif oleh seorang mahasiswa, dengan supervisi ketat dari dosen pendamping di tiap sekolah.

"Pendampingan ini bukan sekadar mengajari membaca dan menulis. Kami ingin memahami kondisi fisik, psikis, dan kendala lain yang mungkin dialami siswa, baru kemudian menentukan metode pembelajaran yang tepat," beber Putu Ariadi.

Ratusan Sekolah Dasar "Diobok-obok"! Screening Massal Ungkap Potensi Masalah Lebih Dalam?

Tak berhenti di SMP, Disdikpora juga mengambil langkah antisipasi besar-besaran di tingkat Sekolah Dasar.

Sebanyak 842 SD yang memiliki siswa kelas 4, 5, dan 6 akan menjalani screening kemampuan membaca dan menulis secara massal dalam minggu ini!

Hebatnya, kegiatan ini juga melibatkan sinergi dengan mahasiswa dari Undiksha, STAHN Mpu Kuturan, dan berbagai lembaga pendidikan lainnya.

Hasilnya ditargetkan rampung dalam waktu singkat, hanya lima hari!

"Untuk siswa yang terindikasi memiliki masalah, kami akan melakukan assessment lebih lanjut bersama konselor psikologi dari Pradnyagama pada 7 Mei di SMPN 1 Singaraja. Kami sudah menyurati kepala sekolah agar siswa yang bersangkutan diantar langsung," ungkapnya.

Trauma Masa Lalu Jadi Biang Keladi? Disdikpora Gandeng Psikolog Ungkap Fakta Tersembunyi!

Lebih jauh, Disdikpora juga menaruh perhatian serius pada faktor non-akademik yang mungkin menjadi penghalang kemampuan literasi siswa.

Baca Juga: Puja Astu Mpungku Sarana Ngarga Tirta, Diucapkan Usai Pentas Wayang  

"Anak-anak ini terkadang terlihat sehat dan aktif, namun mudah lupa dengan pelajaran. Kami menduga ada kemungkinan mereka pernah mengalami trauma fisik atau kejadian lain yang memengaruhi kemampuan kognitif mereka," tutur Putu Ariadi.

Langkah berani Disdikpora Buleleng ini tentu patut diapresiasi. Alih-alih hanya fokus pada angka kelulusan, mereka justru berupaya mengurai akar permasalahan yang mungkin tersembunyi di balik kesulitan belajar siswa.

Akankah screening massal ini mengungkap fakta-fakta mengejutkan lainnya? Bagaimana nasib siswa-siswa yang teridentifikasi bermasalah? Ikuti terus perkembangan berita menarik ini! ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#Kabupaten Buleleng #membaca #siswa