Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Siti Maimunah, Lansia 89 Tahun Calon Jamaah Haji Tertua dari Pegayaman

Dian Suryantini • Kamis, 8 Mei 2025 | 20:50 WIB

Siti Maimunah (Hijab merah) dan anaknya, Mariati (hijab putih).
Siti Maimunah (Hijab merah) dan anaknya, Mariati (hijab putih).

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Pagi itu langit mendung. Cuaca di Desa Pegayaman, kecamatan Sukasada, Buleleng terasa sejuk. Orang-orang ramai berdatangan ke mesjid Jami' Safinatusalam. Rupanya mereka akan melakukan doa Walimahtur Sapar bersama warga—tradisi penuh doa dan harap untuk para jemaah haji.

Ya, doa itu dilakukan untuk para calon jemaah haji dari desa Pegayaman termasuk Siti Maimunah binti Gozali. Ia tercatat sebagai calon jemaah haji tertua dari Bali. Usianya 89 tahun. Namun, keberangkatannya nanti, ia tidak sendiri. Mariati akan mendampinginya. Mariati adalah putri kandungnya. Usianya 52 tahun.

Mariati bercerita. Tahun 2019, nama sang ibu terdaftar. Saat itu, usia lanjut belum menjadi penghalang. Siti Maimunah masih kuat berjalan ke kebun, tersenyum cerah ketika telepon dari Kementerian Agama Kabupaten Buleleng datang. Namun kebahagiaan itu rupanya hanya sebentar.

“Waktu dapat kabar ibu lolos, beliau senang sekali. Tapi saya belum ditetapkan sebagai pendamping. Ibu jadi kepikiran terus. Mungkin itu yang membuatnya drop,” cerita Mariati saat ditemui di rumahnya, Kamis (8/5).

Beberapa bulan setelahnya, serangan jantung pertama datang. Rumah sakit menjadi tempat singgah baru. Manasik sempat diikuti lima kali, tapi selebihnya, Siti Maimunah hanya bisa berbaring. Anak-anaknya mulai ragu. Tapi Mariati tidak menyerah. Ia berjuang agar bisa menjadi pendamping ibunya — bukan hanya karena kasih sayang semata, tapi karena kebutuhan yang tak bisa digantikan orang lain.

“Saya tahu persis, ibu nggak mungkin bisa sendiri. Harus ada yang bantu sampai ke kamar mandi, ke tempat tidur. Kalau didampingi laki-laki, kan enggak bisa masuk ke kamar. Itu enggak efektif. Dan saya anak perempuannya. Saya tahu persis kebutuhannya,” kata Mariati.

Baca Juga: 99 Jemaah Haji Kembali ke Buleleng

Akhirnya, perjuangan itu membuahkan hasil. Kementerian Agama menyetujui Mariati sebagai pendamping. Embarkasi Surabaya, kloter 71. Keberangkatan dijadwalkan pada 21 Mei 2025, pukul 12 siang.

Dari Pegayaman, mereka akan berangkat bersama 380 jemaah lain — termasuk dua pendamping dari desa yang sama. Tapi hanya satu jemaah yang tertua dari desa itu, Siti Maimunah, 89 tahun, kelahiran 1935.

“Bapak saya sudah meninggal 23 tahun lalu. Sekarang tinggal saya dan ibu. Jadi tanggung jawab ini tidak ringan. Tapi saya bersyukur bisa mengembannya,” ujarnya.

Ia tak main-main dalam mempersiapkan keberangkatan. Salah satu kekhawatirannya adalah soal obat-obatan.

“Ibu saya punya jadwal kontrol akhir bulan, tapi berangkatnya tanggal 21. Jadi saya harus minta resep lebih dulu, beli sendiri obat untuk 45 hari. Karena BPJS nggak bisa cover kalau dibawa ke luar negeri,” tuturnya.

Ia konsultasi ke dokter jantung, dokter penyakit dalam, memastikan setiap kebutuhan ibunya terpenuhi. Dari logistik hingga kebutuhan pribadi — semua dikemas rapi sejak dua bulan sebelum keberangkatan. Tak ada ruang untuk salah. Tak ada celah untuk menyesal di kemudian hari.

Di sela persiapan, Mariati juga ikut acara Walimahtur Sapar, doa bersama jemaah haji dari desa. Momen itu menguatkannya.

“Saya merasa tidak sendiri. Di Pegayaman, ada tiga orang yang jadi pendamping. Kami saling mengenal. Jadi ada teman bicara, saling bantu juga,” imbuhnya.

Namun, di balik semua itu, satu hal yang terus menggema dalam pikirannya adalah ibadah ibunya harus tuntas, harus khusyuk.

“Saya ini cuma tangan kanan ibu saya. Kalau saya bisa ibadah juga, itu bonus. Tapi kalau tidak, saya rela. Yang penting ibu bisa menyelesaikan semua rukunnya,” tutup Mariati.

Editor : Dian Suryantini
#bali #embarkasi #jemaah #Juli #pegayaman #haji #buleleng #surabaya