Tari Nyenuk bukan sekadar tontonan estetika. Ia adalah simbol — cermin hubungan manusia dengan alam semesta, atau dalam konsep Bali dikenal sebagai bhuana alit (mikrokosmos) dan bhuana agung (makrokosmos). Lewat gerak, warna, dan irama, tarian ini menyampaikan pesan harmoni antara alam dan manusia.
Menurut Bendesa Adat Sangsit Dauh Yeh, I Wayan Wisara, tarian ini adalah bentuk syukur masyarakat kepada Tuhan atas perlindungan dan berkah yang telah diterima. “Tari Nyenuk tampil di bagian akhir rangkaian upacara. Itu momen puncak rasa syukur,” jelasnya.
Para penari mengenakan pakaian dengan warna-warna simbolik. Merah berarti keberanian, putih untuk kesucian, kuning lambang kebijaksanaan, hitam merepresentasikan kekuatan dan ketenangan, sementara warna loreng melambangkan keberagaman dan keharmonisan.
Lebih dari itu, tarian ini juga menjadi bentuk penghormatan kepada lima manifestasi Tuhan di lima penjuru mata angin. Dewa Siwa (putih/timur), Dewa Brahma (merah/selatan), Dewa Mahadewa (kuning/barat), Dewa Wisnu (hitam/utara), dan Panca Datu di tengah.
Sebelum pentas, para penari melakoni prosesi memasar di bale pedanaan — sebuah simbol interaksi masyarakat dalam kehidupan sosial dan ekonomi sehari-hari, seolah-olah mereka sedang berada di pasar.
Tak hanya menampilkan penari, seluruh warga desa dari berbagai usia dan lapisan sosial terlibat. Masyarakat membentuk arak-arakan yang membawa hasil bumi dan makanan tradisional. Para pria mengusung tegen-tegenan berisi kelapa, tebu, buah, dan umbi-umbian, sedangkan para wanita membawa beras, gula, bunga, dan sesajen.
“Tarian ini mengajarkan bahwa semua orang punya peran penting dalam menjaga tradisi,” tambah Wisara. “Dari anak-anak hingga orang tua, semua ambil bagian,” lanjutnya.
Selain ritual di dalam pura yang dimeriahkan gamelan, tembang, dan seni tradisional lainnya, ada pula pawai budaya sejauh 1 kilometer. Dimulai dari Pura Desa, arak-arakan berjalan mengelilingi pasar sebelum kembali ke pura.
Seluruh prosesi menjadi bentuk nyata gotong-royong, rasa syukur, dan kecintaan masyarakat terhadap warisan leluhur mereka.
“Upacara ini bukan hanya tentang masa lalu. Ini pesan untuk generasi sekarang dan mendatang. Jagalah tradisi, karena di situlah jati diri kita sebagai orang Bali,” tutupnya. ***
Editor : Dian Suryantini