SINGARAJA, BALI EXPRESS - Di sebuah pagi yang tenang di Desa Bengkala, Buleleng, suara tawa anak-anak menyatu dengan desir angin yang lembut. Lapangan sekolah yang biasanya lengang, hari itu dipenuhi wajah-wajah penuh semangat.
SD Negeri 2 Bengkala—sekolah inklusi yang tak banyak disebut dalam berita utama—menjadi saksi dari sebuah gerakan literasi yang sederhana, namun menyimpan asa besar: SAJAK BANGSA.
Bukan sembarang sajak. Ini adalah akronim dari Sastra Jadi Kebiasaan, Bangun Nalar untuk Generasi Sadar Aksara, sebuah program literasi yang dirancang oleh Bali Edukasi, organisasi nirlaba yang lebih mengandalkan ketulusan ketimbang sorotan publik.
Mereka hadir tanpa protokol rumit, tanpa janji politis, hanya membawa satu niat yakni menanamkan kecintaan pada membaca, terutama lewat buku-buku berbahasa Inggris, kepada anak-anak Bali—dari yang reguler hingga yang berkebutuhan khusus.
Program ini dimulai sejak Januari 2025 dan akan berakhir pada Mei tahun yang sama. Gede Gunawan, I Komang Adiartha Negara dan Made Hery Santosa adalah tiga orang pendidik dari Undiksha Singaraja yang mengawal kegiatan itu dengan wadah Bali Edukasi.
Meski hanya lima bulan, namun, bagi mereka yang hadir—baik relawan, guru, maupun siswa—waktu itu cukup untuk menyalakan api kecil dalam jiwa yang haus akan makna.
Baca Juga: Mengatasi Tingginya Kasus Disleksia di Bali, Solusi Melalui Bahan Bacaan Ramah Disleksia
Menurut Dosen Pendidikan Bahasa Inggris Undiksha Singaraja, Made Hery Santosa Indonesia, survei PISA 2022 dari OECD, berada di peringkat ke-69 dari 81 negara dalam hal literasi membaca. Skornya 369. Jauh di bawah rata-rata.
Bali Edukasi menjawab dengan aksi. Pada 17 Januari 2025, 23 relawan dan 10 pengurus datang ke SD Negeri 2 Bengkala. Mereka tak membawa kurikulum kaku, melainkan aktivitas yang menyentuh sisi emosional.
Perkenalan hangat, membaca bersama, bermain kata, dan menyusun puisi akrostik dengan kata kunci seperti Open, Your, dan Eyes.
“Tak sekadar mengajar membaca, kami menanamkan keberanian untuk menyuarakan isi hati melalui puisi,” ujar Hery, Jumat (16/5).
Yang membuat kegiatan ini berbeda adalah pendekatan inklusifnya. Anak-anak berkebutuhan khusus tidak dipisahkan. Mereka dirangkul, dibimbing, dan diberi ruang yang sama.
“Salah satu siswa, berinisial KS, bahkan memberikan testimoni positif. Katanya, ia senang sekali bisa ikut merangkai puisi dan membaca bersama kakak-kakak relawan. Bagi KS dan teman-temannya, ini bukan sekadar kegiatan sekolah. Ini adalah panggung kecil tempat mereka bisa bersinar,” imbuh Hery.
Pada 7 Maret 2025, kegiatan berlanjut. Kali ini siswa tidak hanya membaca, tapi juga membuat puisi akrostik. Bingkai sudah disiapkan, fragmen puisi sudah dipotong rapi—tugas anak-anak hanya menyusunnya agar utuh. Sebuah permainan sederhana yang diam-diam melatih logika, estetika, dan empati.
Kegiatan ini bukan tentang hasil. Ini tentang proses, tentang perasaan memiliki, tentang melihat anak-anak tersenyum bangga ketika puisi mereka selesai. Tentang mendengar suara kecil berkata, “Aku bisa.”
Dosen Pendidikan Bahasa Inggris dari Undiksha Singaraja, Made Hery Santosa, menyebut bahwa literasi membaca masih jadi tantangan serius di Indonesia. Dan benar saja, jika tak ditopang oleh inisiatif nyata seperti SAJAK BANGSA, angka-angka dalam laporan OECD hanya akan menjadi statistik kosong.
Namun SAJAK BANGSA hadir dengan pendekatan yang membumi: ketulusan, keikhlasan, kekeluargaan. Nilai-nilai yang mungkin terdengar klise, tapi justru menjadi bahan bakar utama untuk perubahan yang berkelanjutan.
Bali Edukasi membuktikan bahwa untuk membuat perubahan, tak selalu harus lewat proyek miliaran rupiah. Cukup sekelompok orang yang mau mendengarkan, hadir, dan membaca bersama anak-anak.
“Ketika kegiatan berakhir nanti di bulan Mei, mungkin tidak semua anak akan langsung menjadi pembaca ulung. Tapi mereka sudah mengenal buku sebagai teman. Mereka tahu bahwa kata-kata bisa menjadi pelindung, pelipur, bahkan pelontar mimpi. Dan mungkin, dari sebuah sekolah kecil di Buleleng, akan tumbuh generasi baru yang tak hanya mampu membaca buku, tapi juga membaca dunia,” kata dia. ***
Editor : Dian Suryantini