SINGARAJA, BALI EXPRESS - Di antara rimbun tanaman yang mungil dan tertata rapi dalam pot-pot kecil, duduklah seorang lelaki bernama Hendrik Zumario. Orang-orang biasa memanggilnya Rio. Ia lahir di Blitar pada tahun 1979, dan sejak awal dekade 2000-an, hatinya telah terpaut pada dunia bonsai—tanaman kerdil yang bukan sekadar hiasan, tapi juga karya seni bernapas panjang.
“Awalnya sih karena teman-teman. Di lingkungan saya banyak yang suka bonsai, lama-lama ya ikut-ikutan,” kata Rio sambil tersenyum, matanya mengarah ke salah satu tanaman di depannya.
Ia menunjuk pohon sacang yang bentuknya unik, rimbun namun berkarakter. “Yang itu harganya dua puluh juta,” ujarnya santai. “Itu masih mentah, tapi umurnya sekitar dua puluh tahunan,” ujarnya lagi, menunjuk bonsai lain.
Bonsai bukan tanaman sembarangan. Ia tidak tumbuh cepat seperti tomat atau cabai dalam pot plastik. Membuat bonsai butuh ketelatenan, bahkan dedikasi. “Kalau nggak sabar, jangan harap punya bonsai bagus,” ujar Rio. Ia mengibaratkan merawat bonsai seperti membesarkan anak. Bahkan kadang lebih perhatian dari merawat diri sendiri.
Proses Rio mengenal bonsai dimulai dari belajar pada "abang-abangan"—sebutan khasnya untuk senior-senior sesama pecinta tanaman. Dari sana, ia bukan hanya paham teknik mengerdilkan pohon, tetapi juga memahami filosofi dan nilai estetika dari tiap batang dan daun yang ia bentuk.
Bagi Rio, bonsai bukan sekadar hobi. Ini sudah menjadi napas hidup. Ia tak hanya merancang dan merawat bonsai dari nol, tapi juga membeli dari orang lain, kemudian merawatnya hingga tampil cantik dan layak jual.
Salah satu kebanggaan terbesarnya adalah saat pernah menjual bonsai seharga Rp150 juta. “Dulu, waktu masih ramai-ramainya pameran, jual bonsai bisa sangat menguntungkan,” kenangnya.
Baca Juga: Ratusan Bonsai Ramaikan Pameran Sudamala Bonsai 2025 di RTH Bung Karno
Ia pun pernah mencicipi manisnya prestasi dengan menyabet juara pertama dalam sebuah pameran bonsai. Namun kini, gairah pasar mulai meredup. “Sekarang banyak orang bikin bonsai sendiri, mungkin karena pameran makin sering, hampir di semua kota ada,” kata Rio.
Meski begitu, Rio tetap setia. Ia kini lebih fokus menjual bonsai daripada ikut pameran. Tapi kecintaannya tak luntur. Bahkan ketika tiga bonsai miliknya digondol maling, ia tetap sabar dan tertawa getir. “Namanya juga cinta. Ya, susah dijelaskan,” ucapnya sambil tergelak.
Bonsai, bagi Rio, bukan sekadar pot berisi pohon kecil. Ia adalah pelajaran tentang waktu, dedikasi, dan kesabaran. Dan di balik keindahan setiap batang pohon yang ia bentuk, ada cerita hidup seorang lelaki Blitar yang tak pernah berhenti merawat cintanya—meski kadang harus kehilangan. ***
Editor : Dian Suryantini