SINGARAJA, BALI EXPRESS – Di tengah hamparan kebun strawberry di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng, seorang pemuda bernama Kadek Gandhi menyulap buah-buahan yang sering terbuang menjadi produk bernilai tinggi. Anak petani strawberry ini tak hanya melihat strawberry sebagai buah segar biasa, tetapi juga sebagai peluang besar untuk berinovasi.
Berawal dari rasa prihatin terhadap hasil panen yang sering membusuk saat harga anjlok, Gandhi mulai memutar otak. Buah-buah yang tak sempat terjual kerap kali dibuang, sementara orangtuanya sebagai petani hanya bisa pasrah dengan harga dari pengepul.
“Kalau panen raya, 100 persen dijual ke pengepul. Tapi harganya sering dimainin. Apalagi pas musim hujan, buah cepat busuk,” ujar Gandhi.
Berbekal latar belakang akademik di jurusan Agribisnis Universitas Udayana dan semangat untuk berbuat lebih, Gandhi pun membuat karya ilmiah tentang pengolahan strawberry pasca panen. Karya itu tak hanya membawanya menjadi juara nasional, tapi juga menjadi titik awal lahirnya inovasi produk olahan strawberry.
Tahun 2018, ia mulai mengolah strawberry menjadi minuman fermentasi sejenis wine. Ia menyebutnya wine rumahan. Prosesnya cukup detil. Strawberry segar dibersihkan, dibekukan, lalu direbus, didinginkan, dan difermentasi dengan ragi khusus selama dua minggu.
Setelah itu, dilakukan proses pematangan selama empat bulan. Dari 50 kilogram buah, bisa dihasilkan 30 liter hasil fermentasi. Tak hanya lezat, tapi juga menjanjikan secara ekonomi—omzetnya kini tembus Rp 10 juta per bulan.
Namun jalan Gandhi tak selalu mulus. Ia mengalami banyak kegagalan di awal, terutama karena persoalan higienitas. “Kalau alat gak bersih, langsung gagal. Rasanya jadi aneh, warnanya juga gak bagus,” ungkapnya.
Ia pun harus terus bereksperimen hampir setiap minggu. Baru saat pandemi melanda dan aktivitas lebih banyak di rumah, ia menemukan formula yang pas.
Tak hanya itu, Gandhi juga mengembangkan produk olahan lain seperti dry fruit atau buah kering. Bedanya, untuk produk ini ia memakai buah strawberry yang besar. Buah dipotong-potong lalu dikeringkan dengan mesin pengering, dan dikemas secara menarik. Produk ini jadi alternatif oleh-oleh khas dari Pancasari, yang sebelumnya hanya dikenal lewat buah segar yang cepat busuk.
Langkah Gandhi ini bukan hanya soal bisnis. Ia juga melihat ini sebagai solusi jangka panjang bagi petani. “Kalau gak ada produk turunan, harganya akan begini terus. Ini bagian dari pengolahan pasca panen, supaya hasil panen gak sia-sia,” tuturnya.
Kadek Gandhi tak hanya menciptakan produk. Ia mengubah cara pandang terhadap pertanian. Bahwa dari kebun sederhana, bisa lahir karya luar biasa. Dan dari buah yang sering dianggap remeh, bisa muncul produk mewah yang membanggakan. ***
Editor : Dian Suryantini