Penunjukan ini menjadi tonggak penting dalam upaya kampus ini mengarusutamakan warisan budaya Bali Utara sekaligus memperkuat narasi pluralisme yang tumbuh subur di Buleleng.
Pawai atau Peed Aya dalam PKB bukan semata-mata ajang parade kesenian, melainkan etalase budaya yang menampilkan kekayaan lokal dari masing-masing kabupaten dan kota di Bali.
Dalam kesempatan ini, Institut Mpu Kuturan hadir dengan konsep tematik yang kuat, mengangkat keberagaman budaya dan religiusitas yang hidup berdampingan secara harmonis di Buleleng.
Salah satu sumber inspirasi utama dari pengemasan konsep pluralisme ini adalah keberadaan Pura Gambung Anglayang, atau yang dikenal juga sebagai Pura Pancasila, yang terletak di Desa Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan.
Pura ini menjadi simbol kerukunan antarumat beragama yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat setempat dan menjadi miniatur toleransi di Bali Utara.
Kehadiran Institut Mpu Kuturan dalam barisan pawai diawali oleh penampilan Jegeg Bagus Buleleng yang mengenakan busana adat Payas Agung khas Buleleng.
Busana ini merupakan perpaduan megah antara kain songket, tenun endek sutra Mastuli, serta tatanan rambut pusung songgeng yang mencerminkan keagungan adat istiadat Buleleng dalam rupa visual yang elegan.
Di belakang barisan Jegeg Bagus, tampil barisan Uparengga yang membawa atribut sakral seperti kober Singa Ambara Radja, simbol swastika, payung, serta lelontek.
Atribut-atribut ini tidak hanya memperkuat nilai estetika tetapi juga mencerminkan kekuatan spiritual dan simbol perlindungan dalam kebudayaan Hindu Bali.
Keunikan pawai Institut Mpu Kuturan semakin menonjol pada barisan ketiga, di mana berbagai kesenian dari komunitas lintas budaya di Buleleng ditampilkan.
Janger klasik dari Desa Menyali, kesenian Burdah Islami dari Desa Pegayaman, Barong Sai dari Klenteng Ling Gwan Kiong di Singaraja, hingga Boneka Gendong dari Desa Les—semuanya tampil dalam harmoni, memperlihatkan wajah multikultural Buleleng yang inklusif dan dinamis.
Tarian kreasi “Bungan Deeng” menjadi suguhan utama berikutnya. Tarian ini menggambarkan penghormatan terakhir dalam rangkaian upacara Ngaben Utama, dengan bungan deeng sebagai simbol kasih sayang dan pengabdian keluarga kepada leluhur.
Tarian ini memperkuat aspek spiritual sekaligus nilai estetis yang luhur dari masyarakat Bali Utara.
Lebih lanjut, barisan berikutnya menampilkan representasi rumah adat Bandung Rangki dari Desa Pedawa, Kecamatan Banjar.
Barisan ini menarasikan kehidupan masyarakat Pedawa yang identik dengan aktivitas nuwakin, yakni memanen dan mengolah nira dari pohon aren menjadi gula merah khas desa tersebut.
Sebagai pamungkas, tampil barisan Adi Mredangga yang mengusung dinamika gamelan Baleganjur khas Bali Utara.
Musik energik ini mengiringi keseluruhan narasi dengan daya tarik ritmis yang kuat, sekaligus menutup penampilan Bala Garnita Institut Mpu Kuturan dengan gegap gempita.
Koordinator Tim Kesenian Institut Mpu Kuturan, I Putu Ardiyasa, menyampaikan bahwa partisipasi dalam pawai ini merupakan bagian dari visi kampus untuk menjadikan dirinya sebagai pusat kajian Bali Utara.
Melalui seni dan budaya, Institut berupaya mendorong reaktualisasi nilai-nilai lokal dalam bentuk pertunjukan dan ekspresi budaya.
“Kami menjalankan instruksi pimpinan untuk menjadikan kampus ini sebagai simpul kajian Bali Utara. Melalui kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, kami ingin menjaga kelangsungan budaya dengan basis akademik dan pelibatan komunitas,” ujar Ardiyasa.
Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya tak cukup hanya dengan perlindungan, namun juga memerlukan pengembangan berkelanjutan. Oleh karena itu, dibutuhkan langkah kolektif yang melibatkan unsur pemerintah, masyarakat adat, akademisi, dan pelaku seni.
“Maka saya ingin mengajak sekali lagi: mari kita lakukan gerakan bersama dalam perlindungan, pengembangan, pembinaan, dan pemanfaatan kebudayaan. Ini bukan semata kerja seni, tetapi kerja peradaban,” pungkas Ardiyasa. (dik)
Editor : I Putu Mardika