BALIEXPRESS.ID-Selain Prof. I Wayan Dibia, nama Prof. Dr. I Made Bandem juga tak luput jadi sorotan publik.
Hal ini lantaran isu pelarangan seniman petruk tampil pada ajang PKB 2025.
Prof Bandem sendiri merupakan salah satu tim kurasi seni pada PKB tahun ini.
Baca Juga: Puitika Tari: Warisan Estetik Prof. I Wayan Dibia yang Menyulam Puisi dari Gerak Tari
Menoleh ke belakang, Prof. Dr. I Made Bandem, merupakan maestro tari Bali sekaligus akademisi terkemuka, kembali mencatatkan namanya di panggung internasional setelah menerima Bintang Jasa The Order of the Rising Sun, Gold Rays with Neck Ribbon dari Pemerintah Jepang.
Penghargaan ini diberikan atas dedikasinya dalam mempererat hubungan budaya Indonesia–Jepang selama lebih dari lima dekade.
Upacara penyerahan secara resmi dilakukan di Konsulat Jenderal Jepang di Denpasar, disampaikan langsung oleh Konsul Jenderal Hirohisa Chiba.
“Prof. Bandem adalah jembatan budaya antara Jepang dan Indonesia. Penghargaan ini adalah bentuk apresiasi tertinggi dari Pemerintah Jepang,” ujar Chiba dalam sambutannya dikutip melalui ANTARA News pada Kamis, 12 Juni 2025.
Baca Juga: Video Nyawer di Diskotik Viral, Kuwu Karangsari Klarifikasi; Saya Punya Banyak Usaha
Lahir di Singapadu, Gianyar, pada 22 Juni 1945, Prof. Bandem dikenal sebagai pionir modernisasi tari Bali.
Ia memulai kariernya sebagai penari topeng, kemudian menempuh pendidikan tinggi di Amerika Serikat dan menjadi orang Indonesia pertama yang meraih gelar Ph.D. dalam etnomusikologi dari Wesleyan University.
Melalui berbagai misi budaya, ia telah memperkenalkan seni Bali di panggung dunia, termasuk di Amerika, Eropa, hingga Jepang. Salah satu video dokumenter yang tayang di YouTube @quantumtemple yang berjudul “Preserving the Majesty of Topeng Dance” menampilkan peran Prof. Bandem dalam melestarikan topeng Bali sebagai warisan spiritual dan estetika.
Baca Juga: VIRAL! Kepala Desa Karangsari Sawer Pengunjung di Diskotik, Bantah Pakai Dana Desa
Selain sebagai seniman, Prof. Bandem juga dikenal sebagai pendidik yang visioner.
Ia pernah menjabat sebagai Direktur Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar selama 16 tahun dan Rektor ISI Yogyakarta pada 1997–2006.
Di bawah kepemimpinannya, berbagai program pendidikan seni dikembangkan hingga tingkat doktoral.
Editor : Wiwin Meliana