BALIEXPRESS.ID – Usia boleh menua, tapi semangat Prof. Dr. I Made Bandem justru kian menyala.
Di usianya yang mendekati 80 tahun, maestro tari Bali asal Singapadu, Gianyar ini tak henti-hentinya melahirkan karya, tampil di panggung, serta memperkuat diplomasi budaya melalui seni.
Baca Juga: Mengenal Sosok Prof I Made Bandem; Maestro Tari, Akademisi, dan Duta Budaya Dunia
Dikenal sebagai pionir modernisasi tari Bali sekaligus cendekiawan andal, Prof. Bandem bukan sosok asing dalam dunia seni pertunjukan.
Sejak kecil, ia telah aktif menarikan Tari Baris dan berbagai tari tradisional lainnya.
Kariernya pun terus berkembang hingga menjadi orang Indonesia pertama yang meraih gelar doktor (Ph.D.) dalam bidang etnomusikologi dari Wesleyan University, Amerika Serikat.
Kini, meski telah memasuki usia senja, Prof. Bandem tetap menunjukkan dedikasi yang luar biasa.
Baca Juga: Puitika Tari: Warisan Estetik Prof. I Wayan Dibia yang Menyulam Puisi dari Gerak Tari
Dalam Festival Seni Nusantara 2024, ia kembali memukau penonton dengan membawakan Tari Dalem Arsawijaya, sebuah karya yang memadukan kedalaman filosofi dan kekuatan ekspresi khas seni topeng Bali.
Dalam wawancara terbarunya di kanal YouTube, Prof. Bandem mengatakan, “Seni bukan soal umur, tapi napas hidup itu sendiri.”
Tak hanya aktif di panggung, pada tahun 2023 Prof. Bandem juga menerbitkan buku dua jilid bertajuk “Masks of Bali: Between Heaven and Hell”, hasil kolaborasi dengan Bruce W. Carpenter.
Buku ini dianggap sebagai dokumentasi paling komprehensif tentang seni topeng Bali—menyatukan narasi antropologis, sejarah visual, dan makna spiritual topeng dalam budaya Bali.
Reputasinya pun terus diakui secara internasional. Tahun ini, ia dianugerahi Bintang Kehormatan The Order of the Rising Sun, Gold Rays with Neck Ribbon oleh Pemerintah Jepang—penghargaan prestisius atas peran pentingnya dalam mempererat hubungan budaya Indonesia–Jepang selama lebih dari lima dekade.
Baca Juga: Video Nyawer di Diskotik Viral, Kuwu Karangsari Klarifikasi; Saya Punya Banyak Usaha
Ini melengkapi penghargaan sebelumnya dari Menteri Luar Negeri Jepang pada 2017 dan UNESCO International Music Council Award.
Lebih dari seorang penari atau akademisi, Prof. Bandem adalah simbol hidup bahwa kebudayaan tidak pernah lekang oleh usia.
Ia telah membuktikan bahwa seni tidak hanya diwariskan, tetapi diperjuangkan. Lewat panggung, buku, dan suara intelektualnya, Prof. Bandem terus menjadi jembatan budaya antara Bali dan dunia.
Editor : Wiwin Meliana