Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Prof. Sugita Serukan Etika Berbahasa di Panggung Seni; Butuh Tatanan, Bukan Sekadar Hiburan

Komang Wira Muliartana • Jumat, 13 Juni 2025 | 18:32 WIB

Prof Sugita bicara soal polemik Petruk batal tampil di panggung PKB
Prof Sugita bicara soal polemik Petruk batal tampil di panggung PKB

BALIEXPRESS.ID-Tanggapan tegas datang dari Prof. Dr. Drs. I Wayan Sugita terkait polemik pemanggungan tokoh Petruk dalam Pesta Kesenian Bali (PKB).

Dalam podcast Jeg Bali, maestro drama gong asal Gianyar ini menyoroti pentingnya kesantunan dan etika dalam pertunjukan.

Baca Juga: Bukan Bela Petruk, Bukan Salahkan Kurator; Ini Sikap Bijak Prof. Sugita Soal Polemik PKB

Menurut Prof. Sugita, panggung PKB adalah ruang sakral yang menyajikan hasil budaya adiluhung.

“PKB niki kan hasil-hasil budaya yang adiluhung. Yen kanti cacad ulian keto, sing je ragane gen rugi, tapi seluruh masyarakat Bali juga akan rugi,” tegasnya dikutip pada Jumat (13/06/2025).

Ia menekankan bahwa dalam seni tradisional Bali, setiap lakon memiliki pakem dan aturan yang tak bisa dilanggar.

Baca Juga: ASTUNGKARA! Bantuan Pengabenan untuk Komang Adi Terkumpul, Bocah Tenggelam di Tambak Udang

 “Yen patih dengan raja, memang wajib menggunakan bahasa alus. Apalagi dalam konteks sidang kerajaan. Itu tatanan,” jelasnya.

Menurutnya, dalam seni lawak sekalipun, tidak boleh kehilangan etika.

Ia menyoroti bahwa dalam sor singgih basa sudah terkandung tatanan sosial dan moral.

Baca Juga: Dukungan Terus Mengalir! Ary Kencana Kembali Serahkan Donasi untuk Seniman Petruk, Perak Juga Kebagian

“Iraga selaku pelaku, tekekang ane madan sor singgih basa. Seni pertunjukan harus ada tuntunan,” ujar Prof. Sugita penuh makna.

Ia menambahkan, lawakan boleh menyentil dan mengkritik, tapi tetap dalam bingkai estetika dan tatanan budaya.

Baca Juga: Instagram Raffi Ahmad Diserbu Warganet Usai Unggah Foto Bareng Menteri Bahlil, Ternyata Gara-Gara Ini

 “Basang ngedumel, ketidakpuasan, boleh saja. Tapi dikemas secara halus, tetap sopan. Itu yang membuat seni Bali tetap bermartabat,” pungkasnya.

Editor : Wiwin Meliana
#petruk #Wayan Sugita #Senin #etika #pkb