Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Prof. Sugita: Memahami Sor Singgih Basa Kunci Bijak Menilai Bahasa di Panggung PKB

Putu Ayu Aprilia Aryani • Sabtu, 14 Juni 2025 | 15:49 WIB

Prof. Sugita buka suara terkait polemic PKB 2025
Prof. Sugita buka suara terkait polemic PKB 2025

BALIEXPRESS.ID-Dalam diskusi di podcast kanal YouTube Jeg Bali yang tayang pada Kamis, 12 Juni 2025, Prof. Dr. Drs. I Wayan Sugita memberikan tanggapan kritis terhadap polemik pelarangan penggunaan bahasa kasar dalam Pesta Kesenian Bali (PKB).

Erwin, host Jeg Bali menyampaikan adanya pernyataan dari pihak kurator yang melarang penggunaan bahasa kasar atau memaki (memisuh), namun tanpa memberikan penjelasan mengenai batasan atau konteks penggunaan bahasa tersebut.

Baca Juga: Polemik PKB 2025: Prof. Sugita Bicara Etika, HAKI, dan Perubahan dalam Drama Gong

Menurut Prof. Sugita, pernyataan tersebut dipelintir oleh sebagian pihak. Ia menyoroti kecenderungan masyarakat saat ini yang mudah menyerang secara sepihak, terlebih bila ada perbedaan pandangan dengan pihak-pihak seperti gubernur atau tokoh publik lain.

“Nah, itu kan di plintir, orang-orang yang mlintir karena jaman jani kan mule keto saling plintir. Jeg gorenge be langsung, apalagi berseberangan, ajak gubernur berseberangan, ajak bu Koster, jeg bully nganteg anak sing nawang unduk bully ne,” jelas Prof. Sugita.

Ia mengimbau seluruh pihak, baik pemain, penonton, hingga netizen, untuk bersikap cerdas dan tidak mudah termakan isu atau narasi yang belum tentu benar.

“Nah makanya tuntut iraga, dadi pemain harus cerdas, dadi netizen masi harus cerdas, jadi penonton harus cerdas. Pangsing irage termakan isu,” ucap Prof. Sugita.

Baca Juga: Demi Hadir Tepat Waktu, Dedi Mulyadi Naik Motor Patwal Tanpa Helm, Ngaku Siap Ditilang

Erwin mengarahkan pertanyaan mengenai reaksi netizen yang banyak membela Petruk, namun di sisi lain menyerang kurator dan institusi yang dianggap bertanggung jawab.

Prof. Sugita menganggap dukungan terhadap Petruk dari para penggemar sebagai bentuk kesetiaan atau satya mitra, yakni loyalitas kepada teman atau sosok yang dihormati.

“Dong beneh nak mule susatya nak metimpal dadi netizen, penggemar I Petruk bela habis-habisan. Itulah orang su satya, satya mitra adane nto. Satya metimpal, satya berteman,” ujar Prof. Sugita.

Ia menambahkan bahwa dalam konteks persahabatan atau hubungan dekat, membela satu sama lain adalah hal wajar, namun bukan berarti membenarkan segala tindakan individu tersebut.

“Yen dadi ketua, trus sing menjamin. Yen pelih timpale, bes yang namanya bersahabat kan harus bela. Patuh care munyin tyang tunian, sing gen tekedang sesuatu nto ke senimannya sing ye ade masalah,” ujar Prof. Sugita.

Pertanyaan selanjutnya mengarah pada konsistensi aturan, mengingat dahulu penggunaan bahasa kasar dalam lawakan antara Dolar dan Petruk tidak menimbulkan masalah dan justru menghibur penonton di PKB.

Menurut Prof. Sugita, meski kurator sudah ada sejak dulu, reaksi terhadap penggunaan bahasa kasar baru menjadi masalah besar di era sekarang karena sensitivitas publik yang berbeda.

“Oh ade, cuman kadang-kadang nto be care tyang, nak be biase kita tampil di panggung keto dan sudah biasa diterima oleh penonton. Ngudiang bik to panjang lebarang. Sing ade masalah, cuman di jaman jani mare masalah,” ujar Prof. Sugita.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Tolak Rapat di Hotel, Minta Kepala Daerah Gunakan Gedung yang Ada

Erwin menyimpulkan bahwa inti persoalan bukan pada kata kasarnya, melainkan konteks dan cara penyampaiannya.

Erwin melihat kebingungan netizen muncul karena kurangnya pemahaman terhadap konteks pertunjukan, sehingga menilai penggunaan bahasa hanya dari permukaannya.

Ia menyarankan agar imbauan kurator diperjelas agar tidak terjadi salah tafsir, terutama terkait batasan bahasa kasar dan konteks yang diperbolehkan.

“Berarti himbauan kurator ga boleh pakai bahasa kasar atau memisuh dan jaruh yang tidak sesuai konteks ow, tambahin harusnya bedik ditu,” ujar Erwin yang disambut tawa Prof. Sugita.

Erwin kemudian mengajukan contoh konkret terkait ujaran Petruk yang menjadi viral, dan menanyakan pandangan Prof. Sugita mengenai konteksnya.

“Kalau Petruk berbahasa ‘bangsat ci we’ dan itu tidak membuat penonton tersinggung bahkan tertawa, menurut prof gimana nika?” tanya Erwin.

Prof. Sugita menegaskan bahwa pemahaman terhadap Sor Singgih Basa (tingkatan bahasa) adalah kunci, baik bagi pelaku seni maupun penonton dalam menilai konteks bahasa.

Baca Juga: Riana Putra Resmi Jabat Sekda Bangli, Buka Suara soal Tantangan Besar yang Dihadapi

“Bukan saya membenarkan, kembali kepada cerita tadi, iraga dadi pelaku, dadi netizen harus cerdas. Dalam konteks memahami yang namanya Sor Singgih Basa,” ujar Prof. Sugita.

Ia juga menjelaskan bahwa di daerah seperti Buleleng, penggunaan kata seperti “bangsat” bisa jadi merupakan bentuk keakraban, namun jika dipakai di panggung dan tanpa konteks yang jelas, tetap bisa menimbulkan kesalahpahaman.

“Ya ada nake sing tepat, nto intinya. Yen oraang be di Buleleng, Profesor orange cicing. Nak nto bahasa keakraban. Konteksnya di Buleleng, nak be biasa. Tapi yen di panggung irage tiba-tiba ngorang bangsat, ade kemungkinan salah masi, yen sing irage sing nawang konteks,” jelas Prof. Sugita.

 

Editor : Wiwin Meliana