BALIEXPRESS.ID-Dalam sebuah diskusi yang disiarkan di kanal YouTube Jeg Bali, Prof. Dr. Drs. I Wayan Sugita alias Patih Agung dalam Drama Gong menegaskan pentingnya kecerdasan dan profesionalisme dalam dunia seni, khususnya seni pertunjukan Bali seperti Drama Gong.
Ketika ditanya mengenai tantangan besar yang dihadapi pelawak masa kini, yang harus memicu tawa sekaligus menyadari bahwa apapun yang diucapkan akan cepat tersebar di media sosial, Prof. Sugita, menjelaskan bukan hanya pelawak, tetapi semua seniman panggung (pragina) saat ini menghadapi tantangan berat karena eksistensi media sosial membuat setiap penampilan terus ditunggu publik dan terus dipantau.
Baca Juga: Tak Harus ke Meja Hijau, Masalah Desa Bisa Diselesaikan di Bale Kertha Adhyaksa
“Jangankan pelawak, pragina pun sekarang itu tantangannya. Pidan sing ade medsos memang selalu ditunggu. Semua selalu ditunggu-tunggu.” ujar Prof. Sugita.
Prof. Sugita menekankan pentingnya adaptabilitas, kecerdasan improvisasi, dan respons terhadap perkembangan zaman agar seniman tidak stagnan dalam berkarya.
“Irage harus limbak, pintar improvisasi, pintar menyikapi perkembangan zaman. Yen irage ten memahami itu, maka akan stuck dadi pragina.” jelas Prof. Sugita.
Ia juga menyatakan bahwa pelawak harus punya wawasan dan keberanian. Jika tidak berani tampil dan hanya ragu-ragu, maka tidak akan berkembang sebagai seniman panggung.
Erwin, host Jeg Bali juga membandingkan karakter Petruk dengan Delem dalam Wayang Ceng Blonk yang khas, lalu mempertanyakan apakah gaya bicara Petruk yang kini viral sudah sejak lama seperti itu.
“Yen tyang melihat fenomena Petruk ini, seperti Wayang Ceng Blonk, Delem sing ade megantikan. Nah jani Petruk nak mule keto logatne, apapun itu kan sing ngidang ngubah Prof. Setahu Prof, apakah kak Petruk dari dulu udah bilang ‘bangsat’ itu?” tanya Erwin.
Prof. Sugita kemudian menjawab bahwa penggunaan kata tersebut bukan berasal dari dulu, melainkan karena mengikuti tren. Ketika tren itu "ngenain" atau berhasil, kadang keterusan karena penonton terus menuntut.
“Sing je uli pidan, cuman karena kembali kepada tagline, mengikuti tren. Kadong ngenain nto, kadong keenakan, penonton masi nagih.” ujar Prof.
Ia juga menegaskan bahwa seniman yang cerdas mampu membedakan mana improvisasi bermakna dan mana yang hanya tren. Sayangnya, karena permintaan penonton, gaya yang kurang substansi bisa menjadi ciri khas (brand).
Erwin menyampaikan bahwa kurator PKB merasa dibebani dengan urusan di luar tanggung jawabnya. Ia juga mempertanyakan kenapa seniman dibatasi terlalu ketat dalam ruang festival budaya seperti PKB.
Prof. Sugita menanggapi bahwa harapan memang boleh, tetapi jika seniman hanya mengandalkan improvisasi tanpa kontrol, maka bisa saja ucapan yang keluar menjadi tidak sesuai harapan atau bahkan menimbulkan polemik.
“Kudiang men, harapan boleh tapi to be care munyi tuni, nak pragina nak mengandalkan improv, kadong be pesu kata-katanya kudiang?” jelas Prof. Sugita.
Ia juga menegaskan bahwa niatnya bukan untuk menghakimi atau menyalahkan siapa pun, melainkan untuk memberikan perspektif dan ketenangan di tengah polemik.
“Intinya saya bukan menjustic, apalagi menyalahkan siapapun, tidak. Tyang datang pang ngidang memberikan penyejukan.” ujar Prof. Sugita.
Baca Juga: Gaet Perhatian Ridwan Kamil, Lisa Mariana Tampil Cantik dengan Hijab
Terkait polemik yang saat ini terus menjadi perbincangan, Ia mengimbau semua pihak, baik pelaku seni, netizen, penggemar, hingga kurator, untuk bertindak cerdas dalam menyikapi isu-isu seni budaya.
“Terkait polemik yang berkembang akhir-akhir ini tyang harapkan kepada semua pihak, baik pelaku, netizen, penggemar dan kurator pang irage cerdas. Dadi orang cerdas. Netizen harus cerdas, pelaku harus cerdas dan kurator pun harus cerdas.” ujar Prof. Sugita.
Prof. Sugita juga menekankan bahwa kisruh terjadi karena kurangnya kecerdasan dalam bersikap. Ia mengajak untuk mengembangkan seni Bali yang mengandung unsur hiburan, tuntunan (ajaran moral), dan tatanan (pakem atau nilai adat yang dijaga).
Ia menjelaskan bahwa tatanan adalah nilai dan aturan yang tak boleh diabaikan. Seni seharusnya juga menjadi sarana refleksi diri, dan komunikasi yang baik akan menciptakan kedamaian di Bali.
Ketika ditanya soal apa yang membuat penari bisa dikatakan metaksu, Prof. Sugita menjelaskan bahwa taksu atau kharisma lahir dari profesionalisme. Siapa pun, baik dosen maupun seniman, akan memiliki taksu jika memiliki pengalaman, latihan, dan dedikasi tinggi.
Baca Juga: Bali & Beyond Travel Fair 2025 Sukses Digelar, Catatkan Transaksi Rp 7,84 Triliun
“Taksu sing ade len, keprofesionalan, yen sube orang-orang professional, apapun digeluti di dunia ini pasti metaksu. Seorang dosen bise menyajikan materi, disenangi mahasiswa pasti metaksu. Seorang pelaku seni dikatakan metaksu ulian jam terbang sube tinggi dan harus melalui proses latihan.” Jelasnya.
Menurutnya, taksu akan muncul bila seorang seniman tampil secara total dan profesional dalam setiap penampilannya.
Editor : Wiwin Meliana