SINGARAJA, BALI EXPRESS – Hidup adalah perjuangan, dan Nengah Sukasari, 57 tahun, adalah salah satu contoh ketekunan dan keberanian mengambil risiko, mampu mengubah nasib. Warga Banjar Dinas Anyar, Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula ini dulunya adalah Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH). Kini, ia berdiri tegak sebagai pengusaha dodol rumahan yang sukses, memiliki ternak babi, dan bahkan telah memiliki tiga bidang tanah atas hasil jerih payahnya.
Dibantu sang suami, Wayan Srinada, 58 tahun, Sukasari memulai semuanya dari titik nol. Kehidupan mereka dulu sangat memprihatinkan. Sang suami hanya bekerja sebagai buruh bangunan dengan penghasilan tak menentu. Sementara bantuan PKH sebesar Rp 350 ribu per bulan terasa sangat kecil untuk kebutuhan sehari-hari, apalagi mereka harus menghidupi sembilan orang anak.
Suatu hari pada 2016, sebuah keputusan kecil mengubah segalanya. Saat hendak mencairkan dana PKH di bank, Sukasari berencana membelanjakan semuanya untuk kebutuhan anak. Tapi di tengah perjalanan, ia justru menyisihkan Rp 150 ribu untuk membeli sayur mayur dan lauk di pasar. Barang-barang itu lalu ia jajakan sepanjang jalan pulang. Tak disangka, dagangannya laku keras.
Sejak saat itu, rutinitasnya berubah. Setiap subuh ia bangun dan berjalan kaki ke pasar Bondalem. Pukul 05.00 WITA ia sudah mulai berkeliling menjajakan dagangan. Ia bisa meraup Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu sehari. Tak jarang ia harus meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil, hanya berselimutkan terpal.
“Susah sekali saya dulu. Saya sampai tidak ketemu anak karena berangkat subuh dan pulang sore,” kisahnya sambil meneteskan air mata.
Baca Juga: I Wayan Tama, Kartunis dari Timur Bali
Melihat peluang saat hari raya, Sukasari kemudian memulai usaha membuat dodol. Modal ia pinjam dari bank. Dukungan penuh datang dari sang suami. Dodol produksinya laku keras, terutama menjelang Galungan dan Kuningan. Usahanya berkembang pesat. Omzet bulanannya kini bisa tembus Rp 16 juta.
Tak hanya berhenti di dodol, ia juga merambah peternakan. Kini ia memiliki 16 ekor babi. Ia pun menyediakan berbagai kebutuhan untuk warga sekitar, seperti sayur, lauk, buah, daging babi, bahkan dupa. Konsepnya sederhana, satu tempat belanja untuk segala kebutuhan saat piodalan.
“Biar orang nggak usah repot, semua ada di tempat saya,” ujarnya mantap.
Berkat keberhasilannya, Sukasari resmi mengundurkan diri sebagai penerima bantuan PKH pada 2018. Ia tercatat sebagai KPM Graduasi Sejahtera Mandiri. Bahkan kini ia mempekerjakan empat orang KPM PKH lainnya sebagai tenaga harian pembuat dodol. ***
Editor : Dian Suryantini