Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Begini Kisah Para Penumpang KMP Tunu Pratama Jaya yang Selamat: Kehilangan Istri saat Lompat hingga Ditolong Kapal Nelayan Diesel Mati

Nyoman Suarna • Jumat, 4 Juli 2025 | 22:51 WIB
CERITA DUKA : Febrian asal Rogojampi, Banyuwangi ini selamat karena melompat ke laut bersama istrinya, Cahyani, tapi istrinya tak terselamatkan karena rompi pelampung lepas
CERITA DUKA : Febrian asal Rogojampi, Banyuwangi ini selamat karena melompat ke laut bersama istrinya, Cahyani, tapi istrinya tak terselamatkan karena rompi pelampung lepas

BALIEXPRESS.ID– Tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali masih menyisakan cerita menggetarkan dari para penyintas.

Dalam hitungan menit, kapal itu tenggelam. Tak ada aba-aba. Tak ada waktu untuk berpikir panjang. Bagi sebagian penumpang, tiga menit jadi penentu hidup dan mati.

Salah satunya adalah Rico, anak buah kapal (ABK) asal Banyuwangi. Ia sedang tertidur ketika kapal mulai miring.

Terbangun karena teriakan dan getaran hebat, Rico hanya punya waktu sekitar 3 menit sejak menyadari kapal oleng hingga benar-benar tenggelam ke laut.

“Saya langsung ambil life craft dan bantu penumpang lain yang berenang. Sekitar 6 orang saya tarik naik ke atas,” kata Rico, yang bertugas di dek kendaraan.

Ia dan sekitar 16 orang lainnya terombang-ambing di tengah laut hingga akhirnya diselamatkan oleh nelayan dan dibawa ke Pantai Pebuahan, Desa Banyubiru, Kecamatan Negara.

Salah satu kisah paling memilukan datang dari Febrian (27), warga asal Rogojampi. Ia meloncat ke laut bersama sang istri, Cahyani, saat kapal mulai tenggelam. Keduanya sudah mengenakan life jacket. Tapi takdir berkata lain.

“Kami sudah pakai pelampung, tapi setelah melompat, istri saya tidak muncul lagi ke permukaan,” ujar Febrian dengan suara parau.

Ia menduga life jacket istrinya lepas di bawah air, karena hanya terpasang tanpa mengikat sempurna. Febrian akhirnya naik ke life craft dan diselamatkan nelayan, namun sang istri ditemukan dalam kondisi meninggal di Pantai Pebuahan, tempat yang sama ia mendarat.

Beberapa penumpang lain juga menuturkan hal serupa—tidak ada peringatan atau pengumuman dari awak kapal sebelum kapal miring.

Imron dan Bejo Santoso, dua penumpang lainnya, menyebut kapal mendadak oleng ke kanan dan mesin tiba-tiba mati.

Hanya dalam kurang dari tiga menit, kapal sudah tenggelam.

“Saya langsung lompat saat kapal miring. Tidak sempat ambil pelampung. Untung ada yang dilempar ke laut, jadi bisa saya pakai,” ungkap Imron.

Bejo Santoso juga menyebut bahwa setelah melompat, ia dan penumpang lain saling bantu menaiki life craft.

Mereka kemudian diselamatkan oleh nelayan yang saat itu kebetulan diesel kapalnya mati sehingga bisa mendengar teriakan dari tengah laut.

“Kalau tidak ada nelayan yang dengar, mungkin kami sudah hanyut terlalu jauh,” tutur Bejo.

Saat ini, banyak penyintas masih dalam kondisi trauma dan kelelahan. Mereka dirawat di RSU Negara dan beberapa posko darurat yang dibuka oleh pemerintah daerah serta relawan kemanusiaan.

Pihak keluarga korban yang belum ditemukan terus berdatangan ke posko pencarian, berharap kabar baik. (*)

Editor : Nyoman Suarna
#nelayan #KMP Tunu Pratama Jaya #tenggelam #diesel #selamat #penumpang