Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Berangkat dengan Harapan, Pulang dalam Peti: Putu Mertayasa Korban KMP Tunu Pratama Jaya

Dian Suryantini • Kamis, 10 Juli 2025 | 22:55 WIB

Kabar ini mengakhiri pencarian panjang yang dilakukan keluarga, rekan sesama sopir, dan aparat terkait.
Kabar ini mengakhiri pencarian panjang yang dilakukan keluarga, rekan sesama sopir, dan aparat terkait.
 

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Musibah tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di perairan Selat Bali pada Rabu malam, 2 Juli 2025, membawa duka mendalam bagi keluarga Putu Mertayasa, 43, warga Desa Anturan, Kecamatan Buleleng. Sang sopir truk lintas pulau itu dinyatakan sebagai salah satu korban dalam tragedi laut yang memilukan tersebut.

Setelah seminggu penantian yang penuh kecemasan, jasad Mertayasa akhirnya ditemukan pada Rabu pagi, 9 Juli 2025, di perairan Desa Pengambengan, Kabupaten Jembrana. Kabar ini mengakhiri pencarian panjang yang dilakukan keluarga, rekan sesama sopir, dan aparat terkait.

Jenazah ayah empat anak itu kini telah disemayamkan di rumah duka, Jalan Pulau Serangan, Kelurahan Penarukan, Kabupaten Buleleng. Keluarga besar kini tengah bersiap melangsungkan upacara kremasi, menunggu hari baik untuk pelepasan terakhir sang kepala keluarga.

Menurut sang istri, Kadek Sudiartini, 38, hari keberangkatan suaminya terasa berbeda dari biasanya. Pada Senin, 30 Juni 2025 pagi, Mertayasa pamit untuk bertugas mengambil material bangunan dari Surabaya menuju Tabanan. Ia biasa berangkat dari rumah menuju Tabanan naik sepeda motor sendiri. Namun kali ini, ia meminta diantar ke Terminal Sangket.

“Biasanya berangkat sendiri, tapi hari itu minta saya antar. Katanya mau naik angkutan,” ucap Sudiartini, mengenang hari terakhir ia melihat suaminya.

Perjalanan ke terminal pun tak berjalan mulus. Saat sampai di Desa Sambangan, Mertayasa menyadari dompetnya tertinggal di rumah. Mereka pun harus putar balik. “Dari situ sudah mulai terasa, ada saja yang menghambat,” lanjutnya.

Setibanya di Tabanan, ketika hendak berangkat membawa truk, aki kendaraan malah meledak. Namun Mertayasa bersikeras tetap berangkat, dengan niat mengganti aki setibanya di Surabaya. “Seperti ada yang menahan, tapi karena tanggung jawab pekerjaan, dia tetap berangkat,” ujar Sudiartini lirih.

Mertayasa tiba di Surabaya pada Selasa, 1 Juli 2025. Ia sempat mengabari bahwa ia menunggu giliran memuat besi dan semen. Pada Rabu malam, 2 Juli 2025, sekitar pukul 20.30 WITA, ia melakukan video call dengan keluarga dan mengaku tengah berada di Situbondo.

Sekitar pukul 23.30 wita, ia membuat unggahan terakhir berupa suasana kemacetan di pelabuhan. Namun setelah itu, tidak ada kabar lagi. “Biasanya pagi-pagi dia selalu telepon. Tapi pagi itu tidak ada kabar,” tutur Sudiartini.

Pagi harinya, kabar kapal tenggelam mulai menyebar. Salah satu adik Mertayasa menghubungi Sudiartini, mengabarkan bahwa ada insiden di laut. Ketika ia mencoba menelepon sang suami, ponsel sudah tidak aktif.

“Saat itu saya sudah merasa ada yang tidak beres,” ungkapnya.

Kesaksian dari rekan-rekan sopir dan petugas pelabuhan menguatkan dugaan bahwa Mertayasa memang ikut dalam pelayaran nahas itu. Namun selama beberapa hari, pencarian tidak juga membuahkan hasil.

Malam sebelum jasad ditemukan, Sudiartini mengaku memimpikan suaminya. “Dalam mimpi, dia bilang ‘mani mulih’ (besok pulang),” katanya pelan. Paginya, kabar ditemukannya jasad pria yang identik dengan Mertayasa pun datang. Siangnya, pihak keluarga mendapat konfirmasi bahwa itu benar sang suami.

“Sekarang sudah lebih tenang. Sebelumnya saya terus gelisah, tidak tahu apakah akan bisa ketemu atau tidak,” ucapnya, menahan haru.

Mertayasa telah menekuni profesi sopir sejak lama. Awalnya ia menjadi sopir angkutan umum jurusan Denpasar–Singaraja. Namun seiring waktu, ia beralih menjadi sopir truk yang melintasi Bali, Lombok, Sumbawa, hingga Jawa.

Meski berat, Sudiartini kini berusaha ikhlas menerima kenyataan. Ia mengaku bersyukur sang suami telah ditemukan dan bisa dipulangkan ke rumah.

“Kami sekarang sedang menyiapkan upacara kremasi. Tinggal menunggu hari baik,” katanya.

Tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya tak hanya merenggut nyawa, tapi juga meninggalkan luka mendalam di hati keluarga yang ditinggalkan. Bagi Sudiartini dan keempat anaknya, Putu Mertayasa bukan hanya pencari nafkah, tapi juga pahlawan keluarga yang kini telah berpulang. ***

Editor : Dian Suryantini
#korban #selat bali #anturan #KMP Tunu Pratama Jaya #jembrana #buleleng