Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Putu Sudiarta dan Gerakan Usaha Bersama di Bali Aga

Dian Suryantini • Senin, 21 Juli 2025 | 18:53 WIB

Putu Sudiarta, Ketua Kelompok pengembang Madu Kele Bali Aga di Desa Banyusri
Putu Sudiarta, Ketua Kelompok pengembang Madu Kele Bali Aga di Desa Banyusri

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Di Desa Banyusri, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, terdapat sosok yang diam-diam membangun harapan dari sudut desa. Namanya Putu Sudiarta. Ia bukan hanya seorang peternak lebah atau pengolah kopi, tetapi juga penggerak masyarakat yang mengajarkan bahwa usaha bisa tumbuh meski dari hal yang sederhana—dari madu dan kotoran luwak sekalipun.

Perjalanan Putu dimulai dari satu hal, yakni rasa ingin tahu. Dulu, ia memulai budidaya lebah kele sendirian. Ia mencoba merawat satu dua kotak lebah di halaman rumahnya. Tak disangka, madu hasil budidaya itu diminati banyak orang. Tahun demi tahun, jumlah kotaknya bertambah hingga kini mencapai 250 kotak. Namun perjalanan usahanya tidak selalu mulus.

Ketika pandemi COVID-19 melanda pada 2020, seperti banyak warga desa lainnya, Putu juga ikut terdampak. Tapi justru saat itulah ia membuka diri. Ia tidak ingin berjalan sendiri. Maka ia membentuk kelompok, yang kini dikenal sebagai Kelompok Madu Kele Bali Aga.

“Kami di Bali Aga ini ada 5 desa. Sidetapa, Cempaga, Tigawasa, Pedawa, dan Banyusri. Masing-masing punya usaha sendiri dan tidak sama. Kami di Banyusri mengembangkan Madu Kele,” ujar Putu dengan penuh semangat.

Kelompok ini kini beranggotakan 31 orang. Mereka bukan hanya membudidayakan lebah, tapi juga punya jaringan pencari madu liar dari hutan—atau yang mereka sebut sebagai “pembolang madu”. Ada sekitar 15 orang pembolang yang membantu mencari madu dari hutan sekitar. Dalam sehari, mereka bisa membawa pulang satu liter madu murni dari alam.

“Kami dibantu mereka juga, selain mendapatkan madu dari hasil budidaya,” jelas Putu.

Baca Juga:  Guntur Juniarta : Menenun Tradisi, Menganyam Masa Depan Lewat Mai Kubu

Madu kele hasil budidaya dan madu hutan ini kemudian diolah dan dijual dengan merek khas desa. Harganya cukup bersaing, dan kualitasnya tidak kalah dengan madu dari luar daerah. Usaha ini telah membuka peluang kerja baru di desa, dan perlahan-lahan menjadi tumpuan ekonomi tambahan bagi banyak warga.

“Harganya bervariasi. Mulai dari Rp 100 ribu – Rp 400 ribu, tergantung jumlah takarannya,” ungkap Putu.

Namun, Putu tidak berhenti di situ. Ia juga mulai mengembangkan Kopi Luwak Bali Aga. Usaha ini masih dijalankannya sendiri. Ia memiliki empat ekor luwak dewasa yang setiap hari diberi makan biji kopi pilihan. Dari kotoran luwak inilah, ia mengumpulkan biji kopi yang kemudian dicuci, dikeringkan, dan diolah menjadi kopi luwak khas Bali Aga.

“Kalau ini saya sendiri. Belum dengan kelompok. Baru mulai. Semoga bisa berkembang,” ujar Putu, sembari tertawa kecil.

Menariknya, di balik aktivitas usahanya, Putu juga baru saja diangkat sebagai pegawai PPPK dan ditempatkan di BKKBN Provinsi Bali. Ia bertugas membina tiga desa di Buleleng, seperti Pedawa, Tigawasa, dan tentu saja, desa kelahirannya sendiri, Banyusri.

“Jadi di sela-sela tugas, kalau ada tamu yang datang ke kelompok, saya bisa layani. Satu jam atau dua jam masih bisa. Karena kebetulan tugas saya juga di desa sendiri,” jelasnya.

Tugas Putu sebagai penyuluh BKKBN berkaitan erat dengan pemberdayaan SDM. Ia menyadari bahwa pembangunan manusia bukan hanya soal angka, tapi bagaimana warga desa bisa hidup mandiri, produktif, dan saling mendukung. Ia memanfaatkan perannya di BKKBN untuk menyinergikan program pemberdayaan dengan aktivitas kelompok budidaya madu.

Lewat kelompok itu, Putu tidak hanya memproduksi madu atau kopi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kerja sama, kemandirian, dan rasa percaya diri pada warga desa. Ia percaya bahwa dari desa, siapa pun bisa membangun masa depan—asal punya kemauan dan saling bergandengan tangan. ***

Editor : Dian Suryantini
#kopi #luwak #banyusri #bali aga #madu #lebah