SINGARAJA, BALI EXPRESS — Sebuah topeng perempuan kuno dari Buleleng, Bali, menjadi perhatian dunia setelah ditemukan kolektor asal Swiss pada 1975. Topeng kayu dengan tinggi 17,7 sentimeter dan lebar 18 sentimeter itu kini tersimpan di Museum Etnologi Basel, Swiss, dan tercatat dalam publikasi The Art and Culture of Bali oleh Urs Ramseyer pada 1977.
Topeng tersebut menampilkan ciri khas yang kuat. Matanya besar dan cerdas dengan ujung sedikit sipit. Telinganya lebar, hidung panjang, serta garis bibir tegas. Budayawan Prof. I Made Bandem menyebut ekspresi wajah itu melambangkan keberanian dan kecerdasan. Bentuk wajahnya juga diduga mendapat pengaruh luar, mengingat Buleleng sejak lama menjadi jalur perdagangan melalui pelabuhan kuno seperti Julah.
“Kemungkinan seperti itu. Dulu, Buleleng adalah pintu masuk Bali, lewat pelabuhan-pelabuhan yang tersebar,” kata Prof. Bandem, belum lama ini.
Berbeda dengan topeng yang biasa dipakai dalam pertunjukan atau ritual, topeng perempuan Buleleng ini diyakini bukan untuk dipakai. Topeng itu dibuat, diduga sebagai persembahan sakral untuk menghormati peran vital perempuan pada masanya.
“Topeng ini lebih merupakan simbol penghormatan, bukan properti pertunjukan,” ungkap Bandem.
Baca Juga: Menjaga Nafas Tapel: Dulu, Kini dan Nanti
Penemuan ini memperkuat bukti bahwa tradisi topeng di Bali memiliki akar sejarah panjang. Selain di Buleleng, topeng kuno juga ditemukan di Gilimanuk berupa topeng mata dari emas yang melekat pada fosil manusia. Di Pejeng, relief topeng hadir pada sarkofagus berbentuk kura-kura serta pada Nekara Pejeng yang melegenda.
Keberadaan topeng juga tercatat dalam sejumlah prasasti kuno. Prasasti Bebetin tahun 896 Masehi menyebut istilah partapuka yang merujuk pada topeng. Tiga prasasti lain menegaskan hal serupa, yakni Prasasti Tengkulak (1049–1077), Prasasti Belantih (1058), dan Prasasti Julah (1071). Catatan itu menunjukkan bahwa topeng sudah dikenal sebagai bagian dari kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Bali sejak abad ke-9.
Dari sisi ilmu ikonografi, topeng-topeng Bali memenuhi beberapa unsur penting. Pertama, laksana atau atribut yang menggambarkan ciri khas tokoh. Kedua, unsur estetika yang menentukan fungsi sakral atau non-sakral. Ketiga, bentuk, pewarnaan, dan struktur yang menegaskan karakter topeng. Terakhir, bawa atau ekspresi yang menghadirkan suasana emosional pada wajah topeng.
“Topeng perempuan dari Buleleng memenuhi seluruh unsur itu. Atribut wajahnya jelas, estetika sakralnya menonjol, bentuk dan strukturnya kuat, serta ekspresi yang dihasilkan menggambarkan kecerdasan sekaligus ketegasan,” papar Bandem.
Penempatan topeng perempuan Buleleng di museum luar negeri menjadi pengingat pentingnya pelestarian artefak budaya. Topeng ini tidak hanya menunjukkan keterampilan seni masyarakat Bali masa lampau, tetapi juga mencerminkan nilai sosial yang menempatkan perempuan pada posisi penting.
Dengan temuan di Buleleng, Gilimanuk, dan Pejeng, sejarah topeng di Bali terbukti melintasi dimensi ritual, spiritual, dan estetika. Dari fosil manusia hingga prasasti kuno, topeng hadir sebagai simbol komunikasi dengan leluhur sekaligus identitas budaya yang terus hidup hingga kini. ***
Editor : Dian Suryantini