BALIEXPRESS.ID- Perjalanan Ni Nyoman Yulianingsih, menjadi seorang pengusaha dupa ternyata tidak mudah. Pasalnya sebelum Yulia hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang mencoba peruntungannya untuk menjadi reseller dupa.
“Saya menjadi reseller sejak tahun 2018, saat itu saya menjual dupa milik orang lain dan mendapat keuntungan dari selisih harga yang saya dapat dari menjual dupa milik orang lain,” jelasnya Senin (22/8).
Dari menjual dupa milik orang lain ini, akhirnya Yulia mencoba peruntungannya untuk memproduksi sendiri dupa yang akan dijualnya.
Modal awal untuk memproduksi dupa ini, diakui Yulia didapat dari keuntungannya selama menjadi reseller.
Ternyata setelah memproduksi dupa sendiri, Yulia mengaku keuntungan yang didapatnya dari menjual produk dupa yang diproduksinya, Yulia bisa memperbesar usahanya.
Bahkan mampu menghasilan omzet Rp50 juta sampai Rp60 juta per bulan.
Selain berusaha untuk memperluas pasar produknya, dalam mengembangkan usahanya, Yulia mengaku jika dirinya juga menerapkan manajemen keuangan yang profesional.
Di mana diakui Yulia, selain modal usaha yang dimilikinya, dirinya juga mendapat pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI.
Pinjaman Rp150 juta diakui Yulia tidak saja digunakan untuk meningkatkan produksi dupa yang dijualnya namun juga digunakan untuk membantu reseller kecil dengan memberikan modal barang.
Di perjalanan, karena merasa telah memiliki jaringan penjualan cukup luas, akhirnya ia memutuskan untuk menggunakan pinjaman KUR tersebut untuk memproduksi sendiri sejak 2020.
“Hingga akhirnya produksi dupa yang dilakukannya di banjar Pemaron ini pun, mampu memproduksi 1.500 pcs dupa dengan mempekerjakan empat orang karyawan. Serta ratusan reselernya tersebar di seluruh Bali hingga ke luar Bali.
Sementara penjualan dilakukan secara online, lewat reseller, dan penjualan konsinyasi di puluhan toko. Area penjualannya mencakup Bedugul, Nusa Dua, Tabanan, Lampung, Lombok, Sulawesi, Kalimantan.
“Jadi modal yang diberikan BRI, full saya gunakan untuk modal usaha, membesarkan usaha dupa. Bahkan dari awalnya menggunakan mobil pribadi untuk mengirim barang, akhirnya sekarang kita punya satu armada khusus untuk pengiriman dan operasional usaha,” tuturnya.
Regional CEO BRI Region 17 Denpasar Hery Noercahya menyampaikan bahwa memang tujuan program KUR adalah untuk membantu pelaku usaha mengembangkan usahanya dan bisa naik kelas.
“BRI pun ingin turut menumbuhkan pelaku usaha di Bali dan Nusa Tenggara agar semakin banyak yang menjadi wirausaha. Semakin banyak wirausaha maka akan tercipta kemandirian ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya. (gek)
Editor : Wiwin Meliana