Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Minikino Film Week 11: Penonton Jadi Bintang Utama Festival

Dian Suryantini • Jumat, 12 September 2025 | 16:00 WIB

Tim Minikino Film Week 11 saat melakukan Pres Conference di Hotel Artotel, Sanur.
Tim Minikino Film Week 11 saat melakukan Pres Conference di Hotel Artotel, Sanur.

 

DENPASAR, BALI EXPRESS  - Bali kembali bersiap menyambut perayaan sinema internasional. Minikino Film Week 11 (MFW11), Bali International Short Film Festival, akan digelar pada 12–19 September 2025. Selama delapan hari, festival ini menghadirkan 254 film pendek dari 59 negara, sekaligus membuka ruang pertemuan lintas budaya antara pembuat film, penonton, komunitas, dan profesional industri.

Minikino Film Week pertama kali dilakukan pada 2015. Dalam satu dekade, festival ini berkembang menjadi ajang internasional yang unik karena menghadirkan pengalaman menonton film pendek secara kolektif di berbagai ruang di Bali. MFW bukan sekadar festival pemutaran, melainkan juga ruang pertemuan untuk berbagi cerita, membuka perspektif baru, dan membangun jejaring lintas budaya.

Pusat kegiatan MFW11 akan berlangsung di MASH Denpasar Art-House Cinema, Jl. Pulau Madura No.5, Denpasar Barat, dan Dharma Negara Alaya, Denpasar, dengan sejumlah program satelit tersebar di berbagai titik di Bali.

“Dalam masa penuh keresahan global, nilai pertemuan budaya jadi semakin mendesak. Film pendek memiliki kekuatan menjembatani jarak—antara bahasa, budaya, mimpi, dan harapan,” ungkap Edo Wulia, Direktur Festival.

Semangat baru MFW11 adalah menempatkan penonton sebagai bintang utama festival. Visual karya ilustrator Beng Rahadian menampilkan 11 karakter penonton yang merepresentasikan beragam pengalaman sinematik. “Kalau filmmaker sudah punya panggung, apa artinya panggung tanpa penonton?” tegas Beng.

Pendekatan ini tercermin dari skala festival yang semakin meluas. Tahun ini, tersaji 34 program film dan 196 aktivasi kegiatan, mulai dari pemutaran publik, diskusi, pasar film, hingga aktivitas edukasi.

“Film pendek adalah alternatif cara membaca zaman. Setiap film di MFW11 adalah undangan untuk berhenti sejenak, mendengar, dan membuka diri,” ujar Fransiska Prihadi, Direktur Program MFW11.

Sorotan utama lainnya adalah Short Film Market, yang kini memasuki edisi ketujuh. Ruang ini menjadi wadah pertemuan pembuat film dan profesional industri untuk berbagi pengalaman dan membuka peluang kolaborasi.

“Short Film Market adalah ruang paling hidup di festival. Energi ekosistem film pendek benar-benar terasa,” kata Putu Wulandari Dyana, Koordinator Short Film Market.

MFW11 juga memperluas jejaring internasional melalui Bali-Glasgow Filmmaker & Programme Exchange, kolaborasi dengan Glasgow Short Film Festival (GSFF) dan British Council. Filmmaker Skotlandia Holly Parnell serta Direktur GSFF, Matt Lloyd, hadir di Bali, sementara GSFF membawa program film pendek bertajuk Whatever It Takes.

Festival ini menaruh perhatian besar pada regenerasi talenta. Melalui Shorts Up 2025, empat kelompok pembuat film muda terpilih menjalani proses mentoring sejak Juni dan akan mempresentasikan proyeknya di festival. Program ini, hasil kerja sama dengan Purin Film Fund (Thailand), menjadi pijakan penting bagi generasi baru untuk masuk ke ekosistem film yang lebih luas. 

Tahun ini, lima film dilengkapi Audio Description bagi penonton dengan hambatan visual, dan lima film lain memiliki Subtitles for the Deaf and Hard of Hearing (SDH).

Selain itu, MFW Education—divisi baru sejak 2024—menghadirkan pengalaman belajar berbasis film pendek untuk anak-anak, remaja, sekolah, dan komunitas. Hampir 60 film masuk ke program edukasi ini, disertai Panduan Nonton dan Belajar untuk memfasilitasi diskusi.

“Film pendek memicu rasa ingin tahu, membangun empati, dan melatih daya pikir kritis. Itulah sebabnya kami bekerja sama dengan sekolah dan komunitas,” jelas Ritaro Hari Wangsa dari tim MFW Education.

Festival juga menghadirkan Community Screening di berbagai titik Bali—mulai dari ruang kreatif, sekolah, hingga pusat kebudayaan—agar film pendek menjangkau penonton baru.

Dengan rangkaian programnya, MFW11 menegaskan posisinya sebagai salah satu festival film pendek paling dinamis di Asia Tenggara. Lebih dari sekadar pemutaran film, festival ini menjadi ruang bersama untuk merayakan ide, imajinasi, dan pertemuan manusia.

“Dengan mempertemukan penonton, pembuat film, komunitas, dan profesional industri, MFW11 menjadi ruang untuk cerita-cerita bisa bertemu dan masa depan perfilman pendek dirancang bersama,” tutup Edo Wulia, Direktur Festival. ***

Editor : Dian Suryantini
#bali #festival #film #internasional