Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dendam yang Melahirkan Emas: Kisah Petarung Luh Mas Sri Diana Wati

Dian Suryantini • Jumat, 19 September 2025 | 17:21 WIB

Luh Mas Sri Diana Wati, peraih medali emas cabang olahraga Muaythai dalam Porprov Bali 2025.
Luh Mas Sri Diana Wati, peraih medali emas cabang olahraga Muaythai dalam Porprov Bali 2025.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Ada satu nama yang belakangan ini kerap disebut dalam gelanggang olahraga beladiri, khususnya muaythai. Ia adalah Luh Mas Sri Diana Wati, perempuan asal Desa Kaliasem, Kabupaten Buleleng, yang baru saja mengukir prestasi gemilang dengan meraih medali emas kelas 57 kilogram putri di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali 2025.

Di balik kilau emas itu, tersimpan kisah perjalanan panjang, jatuh-bangun, bahkan dendam yang sengaja ia rawat agar nyalinya tetap terjaga.

Luh Mas lahir pada 5 April 2002. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang tidak pernah gentar menghadapi tantangan. Saat duduk di kelas 6 SD, ia sudah terjun ke dunia pencak silat tradisional. Kala itu, ia berlatih pada Gede Buda, seorang guru silat yang mengajarkannya jurus-jurus dari aliran Walet Putih.

Namun, di tengah perjalanannya, ia merasa silat tradisional belum sepenuhnya mewadahi jiwa bertarungnya. Di kelas 7 SMP, ia mengambil keputusan untuk pindah ke muaythai. Yang menarik, gurunya tetap sama, hanya saja padepokan Walet Putih telah bertransformasi menjadi Walet Fighter Club yang menekuni aliran muaythai. Alasan kepindahannya sederhana. Ingin kebebasan bertarung.

“Saya beralih ke muaythai karena muaythai lebih brutal. Saya merasa benar-benar menjadi petarung, bisa menggunakan pukulan, siku, lutut, dan kaki. Semua teknik itu bisa mengenai seluruh tubuh lawan, dari kepala sampai kaki,” ujar Luh Mas belum lama ini.

Bagi Luh Mas, Porprov Bali 2025 bukanlah gelanggang pertama. Ia sudah menorehkan deretan prestasi di level nasional maupun internasional. Sejak 2015, ia konsisten naik podium.

Baca Juga: ASN Harus Melayani, Bukan Dilayani

Beberapa prestasi yang pernah ia raih di antaranya, Medali Perak Kejurnas Muaythai Lombok Senggigi (2015), Medali Emas Kejurnas Muaythai Makassar (2015), Medali Perunggu Eksebisi PON Jabar (2016), Medali Emas Kejurnas Muaythai Jakarta Selatan (2017), Medali Emas Kejurnas Muaythai Serang-Banten (2018), Medali Perunggu Kejuaraan Dunia Thailand (2019), Medali Perak PON Papua 2021 (Kategori Waikru Putri),

Medali Perunggu BK PON Aceh-Sumut (2024) dan Medali Emas Porprov Bali (2022).

Deretan capaian ini menegaskan konsistensi Luh Mas sebagai atlet perempuan Bali yang berani menembus kerasnya dunia olahraga beladiri.

Namun di balik semua kemenangan itu, ada juga luka yang membekas. Kekalahan di ajang Pra PON Aceh-Sumut 2024 menjadi titik baliknya. Ia gagal meraih hasil maksimal. Alih-alih patah semangat, Luh Mas justru mengawetkan kekalahan itu sebagai bahan bakar dendam.

“Bertahan di muaythai, karena muaythai sudah menjadi hidup saya. Saya mencintai olahraga ini, tapi di lain sisi saya bertahan karena ada kegagalan di PON Aceh 2024 yang harus saya balas tahun ini, ya, dengan kemenangan,” ungkapnya.

Dendam, bagi sebagian orang mungkin dianggap hal negatif. Namun bagi Luh Mas, dendam adalah energi alternatif untuk menjaga keberanian. Ia tidak menutup luka, justru mengingatnya sebagai pengingat agar lebih tajam, lebih ganas, dan lebih berani di atas ring.

Keberhasilan Luh Mas meraih emas di Porprov Bali 2025 bukanlah akhir, melainkan pijakan untuk langkah berikutnya. Ia sadar, perjalanan menuju panggung yang lebih besar—baik PON maupun kejuaraan dunia—masih panjang.

Bagi perempuan asal Kaliasem ini, muaythai bukan sekadar olahraga, tetapi jalan hidup. Ia tumbuh bersama nyali, ditempa oleh kekalahan, dan kini berdiri tegak berbekal dendam yang dirawat dengan disiplin. Luh Mas telah membuktikan, dendam bisa menjadi pupuk bagi keberanian. ***

Editor : Dian Suryantini
#pencak silat #muaythai #emas #Porprov #april #kaliasem #tradisional