BALIEXPRESS.ID - Tembok GWK Cultural Park akhirnya mulai dibongkar, Rabu (1/10).
Pembongkaran ini dilakukan dari akses warga yang ditutup, seperti gang menuju rumah dan akses pintu pagar warga.
Untuk itu masyarakat Banjar Giri Dharma, Desa Ungasan, Kuta Selatan yang terdampak meminta pembongkaran dilakukan diseluruh tembok pagar GWK.
Baca Juga: Diberi Skor 11 Saat Pilpres, Presiden Prabowo Akui Tak Dendam dengan Anies Baswedan
Salah satu warga, Nyoman Tirtayasa mengatakan, selama setahun sejak penutupan akses oleh GWK sangat merasakan kesengsaraan.
Dirinya pun merasa sedih akses yang sangat vital harus ditutup.
Namun setelah adanya pembongkaran dirinya sedikit merasa senang.
Baca Juga: Bawaslu Klungkung Awasi Coktas di Tiga Desa, Temukan Pemilih Berusia di Atas 100 Tahun
“Kalau dibilang senang ya senang juga, tetapi juga sedikit ada keragu-raguan,” ucap Tirtayasa.
Hal ini lantaran, sesuai dengan rekomendasi DPRD Provinsi Bali pada 22 September 2025, seluruh tembok GWK di Banjar Giri Dharma harus dibongkar.
Hanya saja saat ini baru dilakukan pembongkaran tembok di pintu keluar masuknya dan gang menuju rumah warga.
Baca Juga: Bupati Satria Serahkan SK PPPK Tahap II Tahun 2024, Dorong Aparatur Tingkatkan Semangat Kerja
“Harapan saya, kedepannya supaya tembok-tembok ini semuanya di bongkar sesuai dengan rekomendasi dari DPRD Provinsi Bali. Alangkah baiknya, kami merasakan rasa aman, nyaman, tentram, senang, happy-lah jika kami diberikan jalan sebagai fungsi sosial,” paparnya.
Tirtayasa menyebutkan, jalan tersebut telah ada sejak lama dan telah menjadi aset Pemkab Badung.
Semestinya setelah menjadi fasilitas umum dirinya bersama warga lainnya tidak terisolir.
Untuk itu diharapkan tembok tersebut seluruhnya dipindahkan ke area yang menjadi lahan GWK.
“Kami tidak minta berlebihan, kami hanya meminta akses masyarakat yang mana itu fasilitas umum yang berupa jalan ini yang buktinua sudah diaspal,” ungkapnya.
Lebih lanjut ia menyampaikan, pemerintah daerah mulai dari desa, camat, kabupaten, provinsi hingga Presiden Indonesia untuk menjembatani permintaan masyarakat.
Agar dapat meberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat yang terdampak.
“Konsepnya dulu awal berdiri GWK, itu akan bersinergi dengan masyarakat lokal di sekitar lingkungannya untuk bersama-sama memajukan taraf hidup masyarakat itu sendiri,” jelasnya.
Hal senada juga disampaikan Made Mendra, dirinya mengaku selama setahun ini warga kesulitan keluar masuk rumahnya.
Terlebih akses jalan lainnya memang tidak ada.
Untuk itu Mendra pun sangat menyayangkan hal ini.
Ia menyatakan telah tinggal di lokasi tersebut secara turun temurun, bahkan jauh sebelum berdirinya GWK.
“Harapan saya supaya ini (tembok) di bongkar semua. Kalau dia mau bikin tembok biar di sebelah kanan jalan ini (di area kosong milik GWK). Mau tembok ga setinggi apa, kita sebagai warga tidak ada keberatan,” paparnya. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga