Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

BMKG Peringatkan Potensi Banjir Rob di Sejumlah Pesisir Bali 7–11 Oktober 2025

Rika Riyanti • Selasa, 7 Oktober 2025 | 00:19 WIB

 

Banjir Rob Rendam Rumah Warga di Gilimanuk
Banjir Rob Rendam Rumah Warga di Gilimanuk

 

BALIEXPRESS.ID – Sejumlah kawasan pesisir di Bali diperkirakan akan terdampak banjir rob pada 7 hingga 11 Oktober 2025.

Fenomena ini dipicu oleh fase Perigee yang terjadi pada 7 Oktober serta Bulan Baru pada periode 7–11 Oktober, yang berpotensi meningkatkan ketinggian pasang maksimum air laut.

Berdasarkan pemantauan data water level dan prediksi pasang surut, banjir rob kemungkinan melanda beberapa wilayah, antara lain pesisir Gianyar, Kuta, Tabanan, Klungkung, dan Karangasem.

Kepala Balai BMKG Wilayah III Denpasar, Cahyo Nugroho, menjelaskan bahwa waktu terjadinya banjir rob akan berbeda-beda di tiap lokasi.

Baca Juga: Tempat Penyulingan Minyak Daun Cengkeh di Pelapuan Ludes Terbakar, Kerugian Ditaksir Rp100 Juta

“Potensi banjir pesisir (rob) ini berbeda waktu (hari dan jam) di tiap wilayah, yang secara umum berdampak pada aktivitas masyarakat di sekitar pelabuhan dan pesisir. Seperti, aktivitas bongkar muat di pelabuhan, aktivitas di pemukiman pesisir, serta aktivitas tambak garam dan perikanan darat,” katanya.

Ia mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap dampak pasang maksimum air laut.

BMKG juga meminta publik rutin memantau informasi terbaru melalui layanan resmi BMKG Wilayah III, baik lewat telepon di (0361) 751122 maupun laman bbmkg3.bmkg.go.id dan maritim.bmkg.go.id.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali, Gede Teja, menuturkan bahwa pasang surut air laut dipengaruhi oleh gaya tarik gravitasi Bulan dan Matahari, serta rotasi Bumi.

Baca Juga: NAHAS! Bengkel Sepeda Motor di Semarapura Terbakar, Kerugian Capai Rp70 Juta

“Saat Matahari dan Bulan sejajar (saat purnama), tarikan keduanya saling menguatkan dan menyebabkan pasang naik maksimum. Hal ini berpotensi terjadi banjir rob di beberapa pesisir Bali yang ada hunian atau tempat usaha dengan elevasi datar yang sangat dekat pantai,” jelasnya, Senin (6/10).

Meski demikian, Teja menegaskan bahwa pasang surut merupakan fenomena alamiah yang sudah dipahami masyarakat.

Untuk itu pihaknya berharap hal ini dapat diwaspadai bersama.

Wujud waspada itu melakukan mitigasi bersama.

Ia menambahkan, sejumlah langkah mitigasi telah dilakukan, termasuk pembangunan pemecah ombak dan tanggul di wilayah dengan risiko tinggi.

Peringatan dini juga disampaikan secara berkala mengenai ketinggian gelombang, lokasi, serta waktunya.

Baca Juga: Prabowo Lebih Sering Temui Jokowi Ketimbang Gibran, Politisi PDIP: Berhenti Cawe-Cawe

“Bila terjadi kondisi darurat tentu langkah-langkah kesiapsiagaan akan dilakukan seperti evakuasi dan layanan kebutuhan dasar,” katanya.

Lebih lanjut, pihaknya berharap semua pihak melakukan komunikasi dengan efektif, tanpa informasi yang menyesatkan.

Baik antara masyarakat dengan pemerintah maupun dengan media.(***)

Editor : Rika Riyanti
#banjir rob #bali #bmkg #laut