Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Prosesi Ritual Menek Deha: Wajib Lalui Pengekeban, Jalani Pangliwetan di Dapur  

I Putu Mardika • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 01:05 WIB

 

Prosesi ritual menek deha
Prosesi ritual menek deha
BALIEXPRESS.ID-Menek Deha (Menginjak dewasa) menjadi ritual siklus hidup umat Hindu khususnya di Bali. Ritual ini, sebagai tonggak dari perubahan status seorang gadis maupun remaja putra yang diyakini sudah disusupi oleh Sang Hyang Semara Ratih atau Dewa Asmara.

Sarati Banten asal Kubutambahan, Jro Ketut Utara menjelaskan Upacara menek deha ini utamanya dipersembahkan kepada Sang Hyang Semara Ratih atau Dewa Asmara beserta para Widiadara-Widiadari agar beliau menuntun, membimbing dan mengarahkan remaja.

Upacara menek deha-teruna diyakini sebagai upacara penyucian diri, jasmani dan rohani merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan sebagai usaha untuk mengendalikan diri dan menyempurnakan karena yang terdahulu ataupun sekarang.

Ada sejumlah prosesi atau tata urutan pelaksanaan upacara menek deha. Diantaranya Mandi dan Berkeramas. Sebelum upacara dimulai remaja yang diupacarai harus mandi dan berkeramas dengan air tawar yang langsung keluar dari sumber mata air dengan “jun anyar” (sejenis periuk alat pencari air secara tradisi). Air itu telah dicampur dengan beberapa jenis daun-daun sehingga air itu disebut dengan air “kumkuman”.

“Setelah mandi dan berkeramas, maka remaja yang akan menerima upacara itu harus berjemur dengan sinar matahari sejenak. Tujuannya untuk membersihkan jasmani daripada anak yang diupacarai,” jelas Jro Utara.

Tahap selanjutnya adalah matur piuning. Prosesi ini bertujuan sebagai permohonan (mohon ijin) kepada Tuhan berserta prabhawaNya bahwa remaja yang telah meningkat dewasa melaksanakan upacara menek deha.

Usai mepiuning dilanjutkan dengan Upacara melukat atau majaya-jaya. Prosesi ini berfungsi untuk menyucikan si anak agar bersih lahir dan bathin. Selanjutnya Upacara mabyakala bertujuan untuk menetralisir para bhuta kala yang sering mengganggu jalannya upacara.

Gangguan itu bisa saja berupa energi yang berlebihan yang dapat mempengaruhi rasa emosi dari orang-orang yang melakukan upacara. “Upacara maprayascita dilakukan untuk membersihkan secara rohani kotoran-kotoran yang terdapat pada diri seseorang, khususnya dalam upacara menek deha pada diri si anak remaja yang akan diupacarai,” sebutnya.

Natab sesayut sabuh rah dan sesayut ngraja singa dilakukan untuk memohon anugrah kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar anak remaja yang mulai mengenal cinta asmara dianugrahi kekuatan yang terkendali, sehingga dirinya dapat memanfaatkan kekuatan itu untuk kepentingan orang banyak.

Menariknya, dalam prosesi ini ada perkawinan dengan Sang Hyang Semara Ratih. Ritual ini merupakan simbol penyatuan lahir dan bathin antara si anak dengan Sang Hyang Semara Ratih yang disebut dengan Dewa Asmara agar kerawanan yang dialami dapat terkendali.

Prosesi selanjutnya adalah Sembahyang di meraja sebagai upesaksi terhadap leluhur. Tujuanya untuk memohon anugrah keselamatan dari para leluhur dan sekaligus sebagai laporan bahwa upacara menek deha telah dilaksanakan sebagai pertanda bahwa anak yang diupacarai telah menginjak remaja.

Tahapan yang tak kalah pentingnya dilaksanakan adalah pengekeban. Prosesi ini dalam upacara menek sebagai momentum untuk melaksanakan “anyekung jnana sudha nirmala” (waspada menjaga kesucian diri) terhadap godaan-godaan yang akan timbul.

“Inti upacara pengekeban ini adalah pemujaan kepada Sang Hyang Semara Ratih dan para widiadara widiadari agar beliau berkenan bersemayan di dalam tubuh para remaja agar beliau membimbing di dalam memutuskan suatu masalah tertutama masalah asmara,” paparnya.

Kemudian tahapan mapadamel dilaksanakan untuk membentuk mental remaja agar kuat dalam mengatasi suka dan duka. Remaja diyakini memerlukan tuntunan dari Sang Hyang Semara Ratih agar tidak dikuasai oleh Sadripu.

Setelah masa ngekeb berakhir maka para remaja keluar dengan memakai pakaian baru kemudian langsung menuju dapur khusus melakukan upacara pengliwetan yaitu memasak. Saat prosesi ini dilakukan, yang dimasak adalah sidamule, sidamungkul, sayur asem dan sambal goreng.

Cara memasaknya yaitu ketan gajih direbus dengan kelungah kelapa gading, setelah masak disebut sidamule. Ketan hitam (injin) dicampur dengan basan ubad (ramuan obat), lalu direbus dengan kelapa muda atau kelungah mulung (hijau), setelah masak disebut sidamungkul.

Sayur asem dibuat dari daun kelor dicampur dengan dengdeng kerbau, direbus dengan periuk yang baru. Sambalnya adalah brangbang dan bawang putih yang digoreng, setelah masak dialasi dengan piring yang baru dan dimakan setelah upacara selesai (sebagai labaan).

Setelah natab upakara-upakara yang ada di pengliwetan, dilanjutkan dengan makan nasi liwet dan lauk pauknya hasil dari masakan yang dibuat tadinya. Kemudian dilanjutkan dengan persembahyangan di merajan, majaya-jaya, madudus agung, mapeselang, mapedemal, nunas tirta dan nunas wangsuh pada. Sapai disini upacara menek deha tingkatan utama dianggap selesai.

“Upacara di pengliwetan untuk memohon anugrah secara sekala dan niskala yaitu sekalanya dimakan dan diminum, sedangkan niskalnya natab dengan mejaya-jaya yaitu memohon keselamatan rohani dan bathin. Dan juga berfungsi untuk melatih anak dalam menjalankan tugasnya sesuai dengan kodratnya,” ungkapnya.

Upacara menek deha ini juga dapat dilaksanakan serangkaian dengan upacara potong gigi atau upacara otonan. Inti dari upacara menek deha adalah ngayab sesayut sabuh rah untuk anak perempuan dan sesayut ngraja singa untuk anak laki-laki.

Ada tiga tingkatan yang bisa dilaksanakan dalam ritual menek deha. Mulai dari Tingkat utama yang dapat dilihat dari besar dan lengkapnya upakara atau banten yang diperlukan. Tingkatan dapat disesuaikan dengan kemampuan finansial sang yajamana.

Upakara menek deha pada tingkat utama ini terdiri dari byakala, prayascita, banten pengekeban, banten padedarian, penglukatan, sekar taman, bebangkit, pulagembal, sesayut sabuh rah untuk anak perempuan atau sesayut ngraja singa untuk anak laki-laki berserta reruntuhnya, dan banten tataban.

Tingkat menengah (madya) dimana upakara menek deha ini terdiri dari byakala, prayascita, banten pengekeban,banten padedarian, penglukatan,pulegembal, sekar taman, sesayut sabuh rah untuk anak perempuan atau sesayut ngraja singa untuk anak laki-laki lengkap dengan reruntuhannya

Selanjutnya Tingkat alit pada upakara menek deha pada tingkat ini terdiri dari byakala, prayascita, banten pabersihan, banten tataban dan sesayut sabuh rah untuk anak perempuan atau sesayut ngraja singa untuk anak laki-laki

Dikatakan Jro Ketut Utara, Banten yang digunakan dalam upacara menek deha di areal Merajan diantaranya Pejati, peras, ajuman, ketupat (anaman), daksina, canang, pesucian, segehan. Banten penglukatan yakni Prayascita, durmenggala, bayuan, lis, isuh-isuh.

Sedangkan di areal Pekarangan Rumah menggunakan Banten byakala, Banten prayascita, Banten durmenggala dan Banten Bayuan. Di areal Dapur ada Banten peras, ajuman, ketupat (anaman), daksina, Canang lenge wangi, burat wangi, canang sari, Nyahnyah gula kelapa, Raka-raka, kekiping, pisang mas, Sesari 225

Di areal Kamar tepatnya di Plangkiran dihaturkan banten peras, ajuman, ketupat (anaman), daksina, canang, segehan. Pada Bale gede atau Bale dangin yakni Banten pededarian, Peras, ajuman, ketupat (anaman), daksina.

“Ada juga sarana Banten suci, Sorohan tumpeng pitu, Sesayut pengambian, Sesayut sabuh rah untuk anak perempuan, Sesayut ngraja singa untuk anak laki-laki,” singkatnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#ritual #bali #hindu #Siklus