Dulu bau dan kumuh, kini hijau dan produktif. Desa Baktiseraga menaklukkan persoalan sampah dengan cara cerdas. Mengelola dari sumber, mengubah jadi pupuk, menanam harapan di lahan urban farming.
SINGARAJA, BALI EXPRESS - Pagi itu, suara mesin penggiling sampah terdengar bersahut-sahutan dari sudut kecil di Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng. Di antara tumpukan karung berisi sampah organik, beberapa petugas tampak sibuk memilah sisa sayur dan daun kering. Bau sampah yang biasanya menyengat kini nyaris tak tercium. Justru aroma tanah basah dan kompos yang matang memenuhi udara.
Inilah wajah baru pengelolaan sampah di Baktiseraga — wajah yang tidak lagi kumuh dan memualkan, tapi rapi, produktif, dan ramah lingkungan. Di balik perubahan besar ini, ada satu tekad yang menyala, yakni mengelola sampah dari sumbernya.
Kepala Desa Baktiseraga, I Gusti Putu Armada, masih ingat betul masa-masa ketika sampah menjadi momok menakutkan bagi desanya.
“Sampah itu persoalan yang sangat berat bagi kami,” ujarnya membuka cerita. “Desa kami berada di kawasan perkotaan, jadi tidak punya banyak lahan kosong seperti desa lain. Dulu, tempat pembuangan sampah kami benar-benar kumuh dan berantakan,” tuturnya, Jumat (17/10).
Setiap hari, dua hingga tiga truk sampah mengalir tanpa henti ke TPA Bengkala. Volume sampah terus meningkat, sementara kesadaran warga untuk memilah nyaris nol. Sampah plastik, sisa dapur, dan limbah rumah tangga bercampur jadi satu, menimbulkan bau busuk dan tumpukan tak sedap dipandang.
“Saat itu, kami sadar harus ada langkah besar. Tidak bisa lagi hanya memindahkan masalah dari rumah ke TPA,” kata Armada.
Maka, sejak tahun 2016 ia bersama perangkat desa mulai merancang manajemen pengelolaan sampah yang terintegrasi di bawah payung Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).
Baca Juga: I Komang Artayasa, Pemuda Pembuat Dodol dari Desa Julah
Usaha itu akhirnya mendapat angin segar di tahun 2020. Melalui dukungan Kementerian PUPR dan Pemkab Buleleng, Desa Baktiseraga resmi membangun Tempat Pengolahan Sampah Reuse-Reduce-Recycle (TPS3R). Sebuah langkah kecil, tapi menjadi awal perubahan besar.
Begitu TPS3R berdiri, wajah Baktiseraga berubah drastis. Tempat pembuangan yang dulu jadi sumber keluhan kini disulap menjadi ruang kerja yang tertata. Di sinilah sampah rumah tangga yang sudah dipilah diproses lebih lanjut.
Aktivitas pengambilan sampah dilakukan setiap pagi, mulai pukul 09.00 hingga 11.00 WITA. Setiap rumah tangga diwajibkan memilah sampahnya menjadi tiga jenis. Organik, plastik, dan residu. Sampah organik dibawa ke TPS3R untuk diolah menjadi kompos, plastik dikirim ke bank sampah, sedangkan residu dikirim langsung ke TPA.
“Kalau tidak dipilah, ya kami tidak ambil,” ujar Armada tegas. “Ini bagian dari pendidikan lingkungan juga. Kalau masyarakat dibiarkan, mereka akan terus merasa sampahnya bukan urusan sendiri,” kata dia.
Awalnya, aturan itu sempat menimbulkan protes. Banyak warga mengeluh repot dan bingung cara memilah. Namun, seiring waktu, kesadaran mulai tumbuh. Mereka mulai terbiasa memisahkan sisa dapur dari plastik bekas kemasan. Bahkan, anak-anak di rumah ikut belajar memilah dari kecil.
“Sekarang, kalau petugas tidak datang, warga malah protes. Itu artinya mereka sudah mulai sadar,” kata Armada tersenyum.
Sistem ketat diberlakukan bukan tanpa alasan. TPS3R hanya akan menerima sampah yang sudah terpilah. Petugas pengangkut yang berjumlah 13 orang memiliki wilayah kerja masing-masing, dan semuanya wajib memastikan sampah dari rumah tangga pelanggan sudah dipisahkan sesuai jenisnya.
Bagi masyarakat yang tidak berlangganan layanan pengangkutan dan memilih membuang langsung ke TPS3R, aturan serupa berlaku. Petugas akan memeriksa isi kantong sampah. Jika belum dipilah, warga diminta memilah di tempat atau bahkan membawa kembali sampahnya.
“Aturan ini keras, tapi efektif. Kalau dibiarkan satu orang buang sembarangan, besok semua ikut-ikutan,” kata Armada.
Kini, Baktiseraga sudah memiliki 1.000 pelanggan aktif. Dari jumlah itu, setiap rumah tangga menyetor sampah yang sudah dipilah, dan hasilnya volume sampah yang dibuang ke TPA menurun drastis. Dari dua truk besar per hari menjadi hanya satu LHC (Load Haul Container).
Selain itu, dominasi sampah organik yang sebelumnya dianggap beban justru menjadi potensi besar. TPS3R mengolahnya menjadi pupuk organik berkualitas.
Di halaman belakang TPS3R, terlihat deretan drum biru dan bak fermentasi besar. Di sanalah sampah organik diolah menjadi pupuk kompos. Prosesnya sederhana tapi penuh ketelitian — sisa sayuran dan daun kering dicampur dengan bioaktivator, kemudian difermentasi selama beberapa minggu. Hasilnya, pupuk organik yang kaya nutrisi dan siap pakai.
“Awalnya kami hanya buat untuk mengurangi bau dan volume sampah. Tapi setelah kami lihat hasilnya bagus, kami mulai berpikir, kenapa tidak dimanfaatkan?” kata dia.
Dari situ, lahirlah ide urban farming — konsep pertanian kota yang memanfaatkan lahan sempit untuk menanam sayur-mayur secara organik.
Tepat di depan TPS3R, terbentang sebidang tanah kosong milik warga. Armada bersama perangkat desa meminta izin untuk memanfaatkannya, dan sang pemilik setuju. Lahan itu kemudian diubah menjadi kebun kecil penuh tanaman hijau — sawi, kangkung, tomat, cabai, hingga selada.
Urban farming ini dikelola oleh dua pekerja tetap dan para ibu-ibu PKK Desa Baktiseraga. Pupuknya berasal dari hasil olahan sampah organik di TPS3R. Semuanya serba alami, tanpa bahan kimia.
“Dulu kami pusing lihat tumpukan sampah, sekarang malah semangat melihat tanaman tumbuh subur,” kata salah satu ibu PKK sambil tersenyum.
Yang menarik, hasil panennya bisa dibeli langsung di lokasi. Warga datang, memilih sayur, lalu memetik sendiri dari kebun. Pengalaman “petik langsung” ini menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi warga kota yang jarang bersentuhan dengan alam.
“Responnya luar biasa. Kadang kami kewalahan melayani permintaan. Hasil penjualan bisa sampai Rp 3 juta per bulan. Bukan angka besar memang, tapi ini bukti bahwa dari sampah pun bisa lahir berkah,” ujarnya.
Keberhasilan ini tak luput dari perhatian pemerintah. Desa Baktiseraga menerima penghargaan Bhakti Pertiwi Bali Nugraha, sebagai bentuk apresiasi atas inovasi pengelolaan sampah berbasis sumber yang berkelanjutan.
Selain itu, Bank BPD Bali juga memberikan CSR senilai Rp 50 juta, yang digunakan untuk memperluas area fermentasi, memperkuat sistem urban farming, serta membangun warung PKK sebagai tempat penjualan hasil olahan.
Kini, TPS3R Baktiseraga bukan sekadar tempat pengolahan sampah, tapi juga pusat pembelajaran lingkungan. Banyak sekolah datang berkunjung untuk belajar tentang daur ulang dan pertanian organik. Anak-anak diajak melihat langsung bagaimana sisa makanan bisa berubah jadi pupuk, lalu menumbuhkan sayuran yang sehat.
“Sudah beberapa kali sekolah-sekolah datang untuk edukasi. Anak-anak antusias sekali. Mereka jadi tahu bahwa sampah bukan musuh, tapi sumber kehidupan kalau dikelola dengan benar,” ungkapnya.
Perubahan besar yang terjadi di Baktiseraga sesungguhnya bukan hanya soal fasilitas atau teknologi. Kuncinya ada pada perubahan perilaku masyarakat.
Butuh waktu, butuh kesabaran, dan tentu saja butuh ketegasan. Armada menyadari, tanpa partisipasi warga, TPS3R hanya akan menjadi bangunan kosong. Karena itu, setiap langkah selalu diiringi sosialisasi dan edukasi berkelanjutan.
Dengan sistem yang berjalan baik, Desa Baktiseraga berhasil menekan jumlah sampah yang dibuang ke TPA dan sekaligus menciptakan sumber ekonomi baru.
Sampah organik menjadi pupuk, pupuk menumbuhkan tanaman, tanaman menghasilkan panen, dan panen memberi penghasilan. Sebuah rantai ekonomi sirkular yang berawal dari kesadaran akan kebersihan.
Program ini juga mendukung visi besar pemerintah tentang pengelolaan sampah berbasis sumber, sebagaimana diatur dalam Pergub Bali Nomor 47 Tahun 2019.
“Kalau semua desa bisa seperti ini, saya yakin masalah sampah di Buleleng bisa berkurang drastis. Desa bersih tanpa mengotori desa lain. Kan keren,” ujar Armada. ***
Editor : Dian Suryantini