Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pasamuhan Alit 2025 Angkat Isu Ketahanan Budaya di Tengah Gempuran Pariwisata

Rika Riyanti • Senin, 20 Oktober 2025 | 18:05 WIB

PASAMUHAN ALIT: Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha
PASAMUHAN ALIT: Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha

 

 

BALIEXPRESS.ID – Di balik gemerlapnya pariwisata Bali yang mendunia, tersimpan kegelisahan mendalam akan nasib kebudayaan lokal.

Modernisasi dan komersialisasi yang menyertai industri pariwisata dianggap mulai mengikis nilai-nilai luhur budaya yang selama ini menjadi ruh Pulau Dewata.

Kondisi tersebut mendorong Dinas Kebudayaan Provinsi Bali melalui Majelis Kebudayaan Bali (MKB) menggelar Pasamuhan Alit 2025 dengan tema besar “Menjaga Tanah Bali dan Ketahanan Budaya dalam Industri Pariwisata Bali.” Kegiatan ini akan berlangsung pada 22–23 Oktober 2025 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar.

Baca Juga: Maylia Ardani Putri: Gadis Sambangan yang Menaklukkan Tebing dan Takdir

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, menegaskan pentingnya forum tahunan ini untuk merespons isu-isu aktual yang mengancam keberlangsungan budaya Bali di tengah pesatnya perkembangan industri pariwisata.

“Pasamuhan Alit ini membicarakan hal-hal aktual di tahun ini. Isu ini penting disikapi. Persoalan-persoalan yang terjadi ujung-ujungnya dapat menghancurkan budaya Bali,” ujar Prof. Arya dalam rapat persiapan di Kantor Dinas Kebudayaan Bali.

Ia menekankan, hasil dari forum ini diharapkan tidak hanya sebatas rekomendasi normatif, tetapi mampu melahirkan gerakan nyata untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga jati diri budaya Bali.

Baca Juga: De Gadjah Ucapkan Selamat Ultah ke Prabowo, Doakan Sehat dan Kuat Pimpin Indonesia

“Majelis Kebudayaan Bali (MKB) tidak boleh hanya menjadi forum yang berbicara tanpa aksi. Kita perlu langkah konkret untuk menyeimbangkan antara kemajuan ekonomi dan pelestarian budaya,” tegasnya.

Untuk memperdalam pembahasan, Pasamuhan Alit akan menghadirkan empat subtema utama, yakni: Strategi Menjaga Tanah dan Manusia Bali untuk Generasi Mendatang, Redefinisi Indikator Pariwisata Budaya Bali, Peran Desa Adat dalam Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan, serta Menjaga Kedaulatan Bali melalui Konsep Desa Budaya.

Sejumlah akademisi dan tokoh budaya terkemuka akan menjadi pembicara, di antaranya Prof. Dr. I Dewa Gde Palguna, Prof. Dr. I Wayan Windia, Prof. Dr. I Gde Pitana (Ida Pandita Mpu Brahmananda), dan Prof. Dr. I Made Bandem, dengan moderator Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra.

 

Diskusi akan melibatkan peserta lintas sektor, seperti POKJA Percepatan Pembangunan Provinsi Bali, MDA, MKB, PHDI, pelaku industri pariwisata, akademisi, seniman, praktisi hukum, serta insan pers.

Ketua Harian Majelis Kebudayaan Bali, Prof. Dr. I Komang Sudirga, menjelaskan bahwa hari kedua Pasamuhan Alit akan menghadirkan talkshow interaktif dengan tokoh-tokoh muda yang aktif memperjuangkan pelestarian budaya dan lingkungan.

Para narasumber yang akan tampil antara lain I K. Eriadi Ariana (Jro Penyarikan Duuran Batur), I Gusti Ari Rai Temaja (pegiat peduli sungai), I Gede Adrian Mahaputra (penggiat media sosial), dan I Kadek Wahyudita (pegiat budaya), dengan moderator I Wayan Juniarta, jurnalis budaya.

Baca Juga: Desa Adat Batur Tegas Menolak Rencana Pengoperasian Kapal Pesiar di Danau Batur

Forum ini juga melibatkan peserta dari berbagai kalangan, seperti Pasikian Yowana, mahasiswa dari perguruan tinggi se-Bali, komunitas budaya dan lingkungan, Abhinaya Basa Bali Wiki, penggiat media sosial, penulis, serta wartawan budaya.

Melalui Pasamuhan Alit 2025, pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat komitmen menjaga identitas Bali agar tidak sekadar menjadi kemasan pariwisata, tetapi tetap hidup sebagai nilai dan roh kehidupan masyarakatnya.

“Kita ingin Bali tetap Bali. Bukan hanya dalam bentuk, tapi juga dalam jiwa,” tutup Prof. Arya penuh makna.(***)

Editor : Rika Riyanti
#Pasamuhan Alit #dinas kebudayaan provinsi bali #Majelis Kebudayaan Bali #pariwisata