BALIEXPRESS.ID- Momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di Bali menjadi ajang memperkuat semangat pengabdian dan solidaritas para dokter di Bali.
Puncak peringatan yang digelar di Museum Gunungapi Batur, Kecamatan Kintamani, Bangli, Minggu (2/11/2025), dihadiri ratusan dokter dari sembilan cabang IDI kabupaten/kota se-Bali.
Ketua Panitia HUT IDI, dr. I Ketut Sutarjana, M. Biomed., Sp.PD., FINASIM, dari IDI Cabang Bangli dalam sambutannya menyampaikan bahwa tema tahun ini, “Berkarya Membangun Kesehatan Bangsa”, mengingatkan pentingnya kolaborasi, sinergi, dan kebersamaan dalam pengabdian di bidang kesehatan.
“Sebagai panitia pelaksana, IDI Cabang Bangli berkomitmen agar rangkaian kegiatan HUT IDI ini tidak hanya menjadi seremoni peringatan, tetapi juga menjadi wadah silaturahmi, kebersamaan, sekaligus aktualisasi nilai-nilai pengabdian dan solidaritas antar sejawat dokter di Bali,” ujar dr. Sutarjana.
Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan HUT IDI telah dimulai sejak awal Oktober lalu dengan sejumlah ajang olahraga seperti lomba catur, turnamen bulutangkis beregu, dan mini soccer.
Kegiatan tersebut sebagai ajang membangun sportivitas dan menjaga kebugaran dokter.
Selain itu, kegiatan Fun Run di Desa Wisata Penglipuran menjadi daya tarik tersendiri karena memadukan nilai olahraga dengan promosi kearifan lokal Bangli yang hijau dan lestari.
Adapun Mini Simposium Ilmiah bertema “Deteksi dan Tatalaksana Kegawatdaruratan Hipertensi dan Diabetes pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama” turut digelar sebagai upaya peningkatan kapasitas dokter dalam pelayanan dasar.
Acara puncak di Museum Gunungapi Batur, lanjut Sutarjana, menjadi simbol keindahan alam dan keteguhan masyarakat Bangli dalam menjaga keseimbangan alam dan kehidupan.
“Peringatan HUT IDI bukan semata-mata tentang usia organisasi, tetapi tentang perjalanan panjang pengabdian profesi dokter kepada bangsa dan negara. Dalam setiap langkah, kita diingatkan bahwa menjadi dokter bukan hanya sebuah pekerjaan, tetapi panggilan kemanusiaan," jelasnya.
Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan terus memperkuat rasa memiliki terhadap organisasi profesi, mempererat solidaritas antarsejawat dan memperbarui semangat pelayanan kepada masyarakat.
Sutarjana menutup sambutannya dengan pesan reflektif. "Kita mungkin tidak bisa menyembuhkan semua luka dunia, tetapi dengan ilmu, empati dan pengabdian, kita dapat membuat dunia ini sedikit lebih sehat setiap harinya," tutupnya. (*)
Editor : I Made Mertawan