BALIEXPRESS.ID - Pemkab Badung kini mulai serius dalam upaya menyelasikan permasalahan air bersih di wilayah Badung selatan.
Apalagi aliran sungai dari hulu ke hilir di Badung tidak dapat dimanfaatkan secara penuh.
Hal ini dibuktikan dengan kunjungan untuk mempelajari langsung instalasi desalinisasi air laut melalui metode sea water reverse osmosis (SWRO) di kawasan Gili Trawangan, Lombok Utara, Kamis (6/11).
Kunjungan tersebut dipimpin oleh Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Badung, Ida Bagus Gede Arjana.
Kemudian hadir juga Direktur Teknik Perumda Air Minum Tirta Mangutama, Made Suarsa, Kabag Prokopim Setda Badung, I Made Suardita, perwakilan dari Kejaksaan Negeri Badung, dan instansi seperti PUPR dan BRIDA.
Ida Bagus Arjana mengatakan, teknologi SWRO menjadi salah satu opsi strategis bagi Kabupaten Badung dalam menghadapi keterbatasan air baku permukaan.
Baca Juga: Bahas Ranperda APBD 2026, Komisi I DPRD Badung Panggil Sejumlah OPD
Untuk distribusi air yang dihasilkan oleh Perumda Tirta Mangutama saat ini menjadi perhatian pemerintah daerah maupun DPRD, khususnya terkait pemenuhan air bersih di Badung Selatan yang masih dalam tahap pembangunan infrastruktur.
“Saat ini, pembangunan SWRO di Badung masih berada dalam tahap studi kelayakan (Feasibility Study/FS),” ujar Arjana.
Pihaknya menyebutkan, biaya investasi SWRO memang cukup besar bagi Pemkab Badung.
Baca Juga: Tahun 2025 Bank BPD Bali Salurkan KUR ke 6.070 UMKM Baru, Dorong UMKM Bali Naik Kelas!
Hanya saja hal ini tetap diupayakan karena kondisi wilayah selatan yang lebih dekat dengan laut, sehingga layak dipertimbangkan.
Ia mencontohkan kondisi di Gili Trawangan yang tidak jauh beda dengan kondisi di Badung Selatan, yakni keberadaan laut sebagai sumber air baku yang sangat dekat.
Sementara itu, Made Suarsa menyampaikan, fokus utama saat ini adalah wilayah Badung selatan, karena di utara sumber air relatif masih cukup.
Selain SWRO, saat ini sedang dilakukan pembangunan infrastruktur pipa bawah laut.
“Sementara sebagai cadangan (backup) melalui reservoir juga sedang disiapkan sambil menunggu pipa bawah laut selesai. Sehingga apabila pipa bawah laut belum rampung, maka reservoir ini akan menjadi backup untuk menjaga stabilitas suplai,” terang Suarsa.
Pihaknya mengungkapkan, kebutuhan air di Badung Selatan minimal 1.500 liter per detik dan maksimal hingga 2.000 liter per detik.
Namun kekurangan kebutuhan air tercatat sekitar 1.000 liter per detik.
PDAM Badung pun melihat opsi SWRO sebagai pilihan selanjutnya untuk menutupi kekurangan tersebut.
“Kunjungan kerja ini menjadi langkah penting dalam upaya Pemkab Badung untuk mengamati dan belajar dari praktik pengolahan air laut menjadi air tawar, dengan harapan nantinya bisa diterapkan di Badung Selatan,” harapnya. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga