Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sekaa Teruna Banjar Mas Sayan, Pencetus Event Sayan Nguni

Putu Agus Adegrantika • Sabtu, 8 November 2025 | 11:55 WIB
HIBURAN: Salah satu hiburan berupa dolanan saat even Sayan Nguni.
HIBURAN: Salah satu hiburan berupa dolanan saat even Sayan Nguni.

BALIEXPRESS. ID- Wakil Ketua Panitia Sayan Nguni, Anak Agung Bagus Mahardika, mengungkapkan bahwa nama “Sayan Nguni” bukan sekadar identitas, melainkan memiliki makna yang mendalam. “Sayan” menggambarkan tempat di mana para penggagas tumbuh dan berakar, sedangkan “Nguni” berarti masa lampau.

"Melalui nama ini, para pemuda ingin mengajak masyarakat untuk menoleh ke belakang, mengenang, dan menghargai nilai-nilai budaya yang menjadi warisan leluhur, " jelasnya, Jumat (7/11).

Dijelaskan, kegiatan Sayan Nguni menjadi wadah bagi generasi muda untuk memperkenalkan kembali tradisi-tradisi Bali yang mulai jarang terlihat di kehidupan modern. Semangat ini muncul dari keinginan agar budaya Bali tetap hidup, tidak hanya di masa kini, tetapi juga terus diwariskan kepada generasi mendatang. Dengan mengangkat nilai lokal, kegiatan ini menjadi simbol kolaborasi antara kebanggaan daerah dan semangat pelestarian.

Gagasan ini berawal dari inisiatif Sekaa Teruna Bina Warga Banjar Mas,Desa Sayan, Ubud yang pertama kali melaksanakan kegiatan Sayan Nguni pada Agustus 2023. Melalui kerja sama dan gotong royong, para pemuda berhasil menghadirkan kegiatan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat makna budaya dan edukasi.

"Kalau pencetusnya itu kami semua dari Sekaa Teruna Bina Warga Banjar Mas. Karena event ini dari beberapa masukan anggota STT dikolaborasikan, hingga menjadi Sayan Nguni ini, " tegas Agung Mahardika. 

Menariknya, sebelum Sayan Nguni terbentuk, para pemuda Banjar Mas Sayan pernah menggelar kegiatan bertajuk “Gowes for Love” pada tahun 2019, 2021, dan 2023. Kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk belajar manajemen acara, berinovasi, serta membangun semangat kolaborasi sejak dini. Pengalaman itu kemudian menjadi pondasi kuat dalam mewujudkan Sayan Nguni sebagai kegiatan budaya yang lebih matang dan berdaya guna.

"Kini, Sayan Nguni bukan hanya sekadar acara, melainkan gerakan yang menginspirasi. Di tangan para generasi muda, tradisi Bali kembali menemukan napasnya—menyatu dengan semangat zaman tanpa kehilangan jati diri. Melalui kegiatan seperti ini, harapan untuk menjaga dan menghidupkan budaya lokal bukan lagi sekadar wacana, melainkan nyata dalam tindakan," paparnya. *

Editor : Putu Agus Adegrantika