BALIEXPRESS.ID-Marmar Herayukti, sang seniman muda Bali kembali menorehkan jejak signifikan di dunia seni rupa Indonesia, melalui persembahan karya monumental bertajuk “Diorama Puputan Badung” yang dibangun di atas Patung Pahlawan di Lapangan Puputan Badung, Bali. Karya ini merupakan reinterpretasi artistik terhadap salah satu peristiwa paling bersejarah dalam sejarah Bali yaitu "Puputan Badung 1906".
Proses kreatif Marmar Herayukti melibatkan pendapat para ahli sejarah, budaya, sastra, arsitektur Bali, serta anggota keluarga Puri. Keluarga Edhi Sunarso juga memberikan dukungan melalui informasi yang dibagikan oleh tim pengarsipan mereka, termasuk foto-foto dan arsip penting terkait pembuatan patung pahlawan yang terletak di atas diorama ini
Baca Juga: “Diorama Puputan Badung” Karya Marmar Herayukti: Napas Baru bagi Sejarah Perjuangan Bali
Marmar juga melakukan riset mendalam selama berbulan-bulan, menelusuri lokasi bersejarah, mengumpulkan referensi visual dan geografis dari arsip foto berusia seabad, serta meneliti artefak era Puputan beberapa di antaranya baru-baru ini dikembalikan ke Indonesia oleh pemerintah Belanda dan tersimpan di Musemum Nasional Jakarta.
Perjumpaan dengan benda-benda pusaka tersebut memperkaya detail figur dan adegan dalam diorama, menjadikan karya ini bukan hanya representasi sejarah, tetapi juga penghidupan kembali semangatnya.
Jembatan Antargenerasi
Dibuat dari rasa cinta, gairah terhadap sejarah, dan tanggung jawab untuk melestarikannya. “Diorama Puputan Badung” berdiri sebagai jembatan antargenerasi ,pengingat akan ketangguhan budaya Bali sekaligus persembahan bagi masa depannya.
Narasi per Panel , Diorama Puputan Badung
Panel 1
Kerajaan Badung di bawah kekuasaan tri tunggal — Pemecutan, Denpasar, dan Kesiman — muncul sebagai salah satu kerajaan terpandang di Bali, dikenal karena kemajuan ekonomi, kebudayaan, dan kekuatan militernya.
Baca Juga: Harga Perak dan Emas Naik Tajam, UMKM Bali Kesulitan Bersaing di Pasar Internasional
Panel 2
Rakyat menghadap Raja Denpasar, I Gusti Ngurah Made Agung, untuk menyampaikan keberatan atas tuduhan penjarahan kapal Sri Komala yang terdampar pada 27 Mei 1904 di Pantai Sanur. Mereka bersumpah bahwa tuduhan tersebut tidak benar.
Panel 3
Meski mendapat tekanan dari Belanda, sang Raja -yang juga seorang pujangga - tidak bergeming. Rakyat bersatu membela kepatutan. Pada 14 September 1906, invasi militer tak terelakkan; Puri Kesiman pun diserang.
Panel 4
Tembakan meriam menghujani Puri Denpasar dan Puri Pemecutan. Di tengah suasana mencekam, Raja menggelar upacara palebon (kremasi) kakandanya, sebagai pemercikan tirtha pangentas bagi mereka yang siap mapuputan hingga titik darah penghabisan.
Panel 5
Tanggal 20 September 1906, Raja Denpasar beserta pasukan, perempuan, dan anak-anaknya turun ke medan laga. Mereka melempar uang dan perhiasan sambil menyerbu Belanda. Dalam pertempuran sengit, Raja gugur dengan keris Singapraga dan Jalak Kadingding di tangan — menandai runtuhnya Puri Denpasar.
Panel 6
Pasukan Badung menyergap pasukan Belanda di Tukad Badung. Pemimpin Belanda tewas ditikam keris di atas kuda saat menyeberangi sungai .
Panel 7
Sore harinya, Belanda menyerbu Puri Pemecutan. Raja Pemecutan ditandu di atas jempana, diiringi keluarga dan rakyat. Pertempuran sengit menelan banyak korban. Raja gugur dengan gagah, menjunjung “darmaning ksatriya ngukuhin kepatutan” — tugas suci kesatria adalah menegakkan kebenaran.
Panel 8
Puputan berakhir, namun semangatnya abadi. Prinsip “Mati tan Tumut Pejah” — mati di medan perang, tetapi perjuangan tidak mati — menjadi simbol keteguhan jiwa ksatria Bali yang terus hidup lintas zaman.
Baca Juga: Harga Perak dan Emas Naik Tajam, UMKM Bali Kesulitan Bersaing di Pasar Internasional
Tentang Marmar Herayukti Herayukti
Putu Marmar Herayukti Herayukti atau yang akrab disapa Marmar Herayukti adalah seorang seniman multitalenta asal Banjar Gemeh, Denpasar, Bali, kelahiran 13 September 1983. Ia merupakan putra asli Bali yang dikenal memiliki semangat eksplorasi dan karakter seni yang berbeda dari kebanyakan seniman di wilayahnya.
Sejak kecil, Marmar Herayukti sudah menunjukkan minat yang kuat pada dunia seni — hal yang sedikit berbeda dari keluarganya yang lebih banyak menekuni seni bela diri. Kecintaannya terhadap seni semakin terasah sejak duduk di bangku kelas 2 SMP, dan pada kelas 3 SMP ia pertama kali membuat ogoh-ogoh, yang menjadi titik awal perjalanan seninya.
Selain sebagai pematung, Marmar Herayukti juga dikenal sebagai pelukis, tattoo artist, vokalis band rock, serta aktif dalam olahraga bela diri kickboxing. Ia adalah sosok otodidak multitalenta dengan darah seni yang sangat kental.
Pada tahun 2014 Marmar Herayukti memulai gerakan Ogoh-Ogoh ramah lingkungan, dengan mengembalikan tradisi “ ngulat” yang merupakan pembuatan Ogoh-Ogoh menggunakan teknik anyaman bambu. Marmar dikenal konsisten menghidupkan kembali tradisi pembuatan ogoh-ogoh berbahan alami dan berkelanjutan, sebagaimana praktik lama masyarakat Bali.
Pada tahun 2019 Marmar Herayukti mendirikan “MarmarHerrz Studio”, sebuah studio seni berbasis di Bali yang menjadi wadah eksplorasi gagasan, karya, dan kolaborasi lintas disiplin. Karya-karyanya mengeksplorasi hubungan antara bentuk, material, dan makna kultural, dengan pendekatan yang memadukan kepekaan estetika, teknik tradisional, dan gagasan kontemporer.
Melalui praktik seni yang melibatkan komunitas dan sejarah lokal, Marmar Herayukti berupaya menjadikan karya seninya sebagai ruang dialog antara masa lalu dan masa kini. Salah satu karya publiknya yang paling dikenal adalah patung Ratu Ayu Mas Melanting, yang berdiri kokoh di halaman Pasar Badung, Denpasar. Karya ini menjadi simbol perpaduan antara nilai tradisi, spiritualitas, dan kekuatan visual khas Marmar Herayukti.
Ketika sedang tidak berada di studio tattoo, studio seni, ring tinju, atas panggung musik, atau di Sang Mong Coffee Shop miliknya, Marmar Herayukti kerap menghabiskan waktu dengan berpetualang menggunakan motornya, menikmati kebebasan dan menuai inspirasi dari perjalanan.
Editor : Wiwin Meliana