Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ramai Soal Penjor, Ajus Linggih Desak PLN Hormati Tradisi dan Tuntaskan Janji Kompensasi Blackout

Rika Riyanti • Rabu, 19 November 2025 | 02:30 WIB

Ajus Linggih turut buka suara terkait pembongkaran bangunan di Kawasan Pantai Bingin
Ajus Linggih turut buka suara terkait pembongkaran bangunan di Kawasan Pantai Bingin

 

BALIEXPRESS.ID - Menjelang perayaan Galungan dan Kuningan, sorotan publik kembali tertuju pada imbauan PLN terkait jarak aman pemasangan penjor dari kabel listrik.

Ketua Komisi II DPRD Bali, Agung Bagus Pratiksa Linggih atau Ajus Linggih, turut memberikan tanggapan atas polemik yang kembali mencuat tersebut.

Sebagai Ketua HIPMI Bali, Ajus menilai PLN semestinya mampu memahami dan menyesuaikan diri dengan konteks budaya lokal.

Ia menekankan bahwa perayaan Galungan merupakan tradisi tua yang telah berlangsung sejak abad ke-9, lengkap dengan simbol-simbol sakral salah satunya penjor.

Baca Juga: Buktikan Kepemimpinan Keberlanjutan di Asia, BRI Sabet 3 Penghargaan di Asia Sustainability Reporting Awards 2025

"Yaa harusnya PLN yg menyesuaikan. Masyarakat Bali kan sudah menaikkan penjor sebelum tiang listrik ada. Harusnya memasang tiang listrik itu mengantisipasi penjor-penjor yang ada di Bali," ujarnya di Denpasar, Senin (17/11).

Isu penjor ini juga memantik perhatian banyak tokoh, mulai dari Rektor Undhira Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, Pengamat Budaya Wayan Suyadnya, Ketua Paiketan Krama Bali Dr. Ir. I Wayan Jondra, Ketua PHDI Bali I Nyoman Kenak, Sekretaris Komisi I DPRD Bali I Nyoman Oka Antara, hingga tokoh publik Dr. Somvir dan Ketua Fraksi Golkar DPRD Bali, Anak Agung Bagus Tri Candra Arka (Gung Cok).

Dalam kesempatan yang sama, Ajus kembali menagih kepastian janji PLN soal kompensasi bagi pelanggan yang terdampak pemadaman listrik massal pada Mei 2025.

Kompensasi tersebut sebelumnya dijanjikan bakal diberikan melalui pengurangan tagihan listrik, mengacu pada Permen ESDM Nomor 27 Tahun 2017.

Baca Juga: HUT Mangupura, Pemkab Badung kini Siapkan Pesta Rakyat Mangu Cita

Peristiwa blackout pada Jumat (2/5) terjadi menjelang Hari Raya Kuningan dan berlangsung lebih dari 12 jam, bahkan disertai pemadaman lanjutan di beberapa wilayah.

Ajus menilai kejadian itu merupakan bentuk kelalaian yang memberi dampak besar pada roda perekonomian Bali.

"Belum ada pengumuman itu (kompensasi), Ya kasus blackout kemarin pun masyarakat Bali belum dapat kompensasi," tegasnya.

Sementara itu, Gung Cok memberikan sudut pandang berbeda mengenai imbauan PLN.

Ia menilai imbauan terkait jarak aman penjor secara teknis masuk akal, namun harus diimbangi dengan pemahaman terhadap tradisi masyarakat.

"Kalau himbauan nike bersifat positif menurut saya, tapi tidak seperti dalam arti menyampingkan tradisi dari orang Bali membuat penjor sekarang kan pas kabel PLN itu di depan rumah dan sejajar dengan rumah, pernah kejadian juga di Kerobokan kejadian terkena setrum pada saat membuka penjor," jelasnya saat dikonfirmasi media, Senin (17/11).

Gung Cok menegaskan bahwa keselamatan tetap penting, terlebih insiden tersetrum akibat bambu penjor pernah terjadi.

Baca Juga: Pengakuan Arif, Sopir Hiace dalam Kecelakaan yang Tewaskan 5 Wisatawan di Buleleng

Namun, ia mengingatkan perlunya menjaga makna sakral dalam pelaksanaan tradisi.

"Yang artinya penjor tersebut diupacarai, kalau menurut saya sich positif, agar tidak terjadi musibah atau kecelakaan," tambahnya.

PLN melalui Manager PLN UP3 Bali Utara, Elashinta, telah mengeluarkan klarifikasi atas imbauan tersebut.

Dalam pernyataannya pada Kamis (13/11), ia menerangkan bahwa imbauan dikeluarkan semata karena faktor keselamatan, terutama memasuki musim hujan di mana bambu penjor dapat menjadi konduktor listrik.

Baca Juga: Update! Kasus Laka di Padangbulia, Sopir Hiace Patah Tangan, Lima WNA Tiongkok Meninggal

“Imbauan ini kami sampaikan karena saat ini telah memasuki musim penghujan. Bambu penjor yang basah dapat menghantarkan arus listrik apabila terlalu dekat dengan jaringan. Kondisi tersebut tentu berpotensi menimbulkan bahaya, sehingga penting bagi kita semua untuk saling mengingatkan demi keselamatan masyarakat,” jelasnya.

Elashinta juga menyampaikan permohonan maaf apabila imbauan itu menimbulkan kesalahpahaman.

“Dengan penuh kerendahan hati, saya menyampaikan permohonan maaf apabila penyampaian tersebut menimbulkan kesalahpahaman atau menyinggung perasaan masyarakat Bali. Semata-mata, niat kami adalah memastikan seluruh umat dapat merayakan hari suci ini dengan aman dan damai,” ujarnya.

Dukungan terhadap pentingnya aspek keselamatan juga disampaikan Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Kabupaten Buleleng, Dewa Putu Budarsa.

 

Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa menjaga adat dan keselamatan bukanlah dua hal yang saling bertentangan.

“Apa yang disampaikan sebenarnya adalah bentuk perhatian terhadap keselamatan bersama. Nilai-nilai budaya tetap kita junjung, namun keamanan masyarakat juga harus dijaga. Ini bukan hal yang bertentangan, justru saling melengkapi,” katanya.

Pernyataan berbagai pihak ini menegaskan bahwa harmonisasi antara tradisi dan keselamatan perlu terus dijaga, sehingga perayaan Galungan dan Kuningan dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan tetap memiliki makna mendalam bagi masyarakat Bali.(***)

Editor : Rika Riyanti
#penjor #pln #Ajus Linggih #blackout