Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pemilihan Jro Mangku di Desa Adat Buleleng Gunakan Lekesan Sesuai Awig-Awig

Dian Suryantini • Jumat, 21 November 2025 | 00:30 WIB

Putu Andi Permadi Putra (baju putih berkacamata) yang terpilih menjadi jro mangku di Pura Desa, Desa Adat Buleleng melalui lekesan.
Putu Andi Permadi Putra (baju putih berkacamata) yang terpilih menjadi jro mangku di Pura Desa, Desa Adat Buleleng melalui lekesan.

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Suasana Pura Desa Adat Buleleng terasa lebih sakral dari biasanya pada Hari Raya Galungan Rabu (19/11) malam. Di tengah rangkaian Pujawali, warga desa adat melaksanakan sebuah prosesi pemilihan Jro Mangku Pura Desa yang baru. Proses ini dilakukan melalui sistem lekesan, yang merupakan sebuah tradisi bernuansa spiritual. Proses ini telah diwariskan sejak bertahun-tahun lamanya.

Dalam prosesi tersebut, Putu Andi Permadi Putra putra almarhum Jro Mangku Desa, Nyoman Wiryasa, terpilih sebagai Jro Mangku Pura Desa. Pria 32 tahun itu dipilih dari empat calon yang mengikuti proses lekesan, yakni I Made Slamet Ganeawan, Putu Nunuk Satriawan, Putu Andi Permadi Putra, dan Kadek Adi Yudha Permana.

Pemilihan ini dilakukan karena jro mangku sebelumnya, almarhum Nyoman Wiryasa, meninggal dunia pada September lalu setelah sakit. Untuk mengisi kekosongan, prajuru desa adat memutuskan untuk segera menggelar pemilihan berdasarkan awig-awig yang berlaku.

Pemilihan menggunakan sistem lekesan bukanlah keputusan spontan. Proses ini mengacu pada Awig-awig Desa Adat Buleleng Nomor 1 Tahun 2013, khususnya pada Pasal 60 ayat (1) yang menyebutkan bahwa pemilihan Jro Mangku Kahyangan Tiga dapat dilakukan melalui tiga cara yakni sistem keturunan, sistem Lekesan dan Nyanjan / Metuun.

 Baca Juga: Unik, Dipilih Lewat Lekesan, Ariadi Sah Jadi Jro Mangku Pura Desa Buleleng

Kelian Desa Adat Buleleng, Jro Nyoman Sutrisna, menjelaskan bahwa lekesan dipilih karena jumlah calon lebih dari satu. Keputusan tersebut juga telah disahkan melalui paruman desa dan dilaksanakan secara terbuka.

Lekesan adalah bagian penting dalam ritual Hindu di Bali. Bahan-bahan yang digunakan bukan sekadar pelengkap upacara, namun mengandung makna spiritual mendalam.

“Dalam proses pemilihan, lekesan dibuat dari dua helai daun sirih yang diolesi kapur sirih, kemudian digulung runcing menggunakan benang Bali (tridatu). Gulungan ini kemudian dimasukkan ke dalam kojong berbentuk runcing yang berisi gambir dan sirih,” kata Jro Sutrisna, Kamis (20/11) siang.

Lekesan yang digunakan sebagai sarana pemilihan jro mangku di Pura Desa, Desa Adat Buleleng.
Lekesan yang digunakan sebagai sarana pemilihan jro mangku di Pura Desa, Desa Adat Buleleng.

Secara simbolis, bahan-bahan tersebut memiliki makna. Daun sirih sebagai simbol penghormatan, penyucian, dan penolak energi negatif. Kapur sirih melambangkan kesucian dan kejernihan pikiran. Benang tridatu yang digunakan untuk mengikat adalah simbolisasi dari kekuatan Brahma, Wisnu, dan Siwa serta keseimbangan alam.

Daun pisang sebagai kojong memiliki kesederhanaan, kesuburan, dan harapan baik. Sementara, Pinang, gambir, dan tembakau simbol kemakmuran dan pelengkap tradisi turun-temurun.

Menariknya, tidak ada perbedaan jenis lekesan yang digunakan untuk pemilihan dengan lekesan yang dipakai sebagai sarana banten sehari-hari, seperti yang rutin digunakan saat Purnama di Bale Panjang Pura Desa Adat Buleleng. Semua lekesan dibuat dengan prinsip kesucian dan makna yang sama.

Dalam proses pemilihan saat itu, terdapat empat lekesan yang disiapkan sesuai jumlah calon. Dari empat gulungan tersebut, satu lekesan berisi simbol Ongkara yang dibuat dari janur—inilah tanda yang menentukan siapa calon terpilih.

Ketika lekesan dibuka di hadapan prajuru dan krama desa, lekesan yang berisi Ongkara menunjukkan calon yang dipercayai dan disucikan secara niskala untuk memegang jabatan Jro Mangku.

“Sebelum dibuka lekesan itu, kami matur piuning  terlebih dahulu. Memohon restu kepada-Nya. Setelah itu baru bisa dibuka. Para kandidat membuka lekesan secara bersama-sama,” ungkap Jro Sutrisna.

Simbol ongkara yang dibungkus dalam lekesan. Bagi yang mendapatkannya saat pemilihan, maka dialah yang terpilih sebagai jro mangku.
Simbol ongkara yang dibungkus dalam lekesan. Bagi yang mendapatkannya saat pemilihan, maka dialah yang terpilih sebagai jro mangku.

Dalam proses kali ini, lekesan bertanda Ongkara jatuh pada Putu Andi Permadi Putra. Perjalanan Putu Andi sebagai Jro Mangku Pura Desa tidak langsung dimulai begitu lekesan dibuka. Ia harus menjalani rangkaian proses pewintenan terlebih dahulu sebelum resmi menjalankan tugas penuh.

Jro Nyoman Sutrisna menyampaikan bahwa pembinaan akan dilakukan secara berjenjang, sebagaimana tradisi pembelajaran spiritual di desa adat.

“Jro Mangku terpilih akan diberikan pelatihan dan mendampingi Jro Mangku Kahyangan Tiga lainnya hingga benar-benar siap memimpin pelaksanaan upacara di Pura Desa. Sederhananya, magang dulu. Kalau sudah siap baru dilepas,” jelasnya.

Sistem pemilihan ini sudah digunakan sejak berdirinya Desa Adat Buleleng dan diperkuat dalam awig-awig, khususnya Pasal 60 dan 61 yang mengatur mekanisme pemilihan dan penetapan Jro Mangku.

Dalam praktiknya, sistem keturunan selalu diprioritaskan. Namun ketika jumlah calon lebih dari satu atau tidak terdapat calon langsung dari garis keturunan, lekesan menjadi pilihan sesuai kesepakatan paruman desa.

Hingga saat ini, menurut prajuru desa adat, belum ada hambatan berarti dalam penerapan sistem lekesan. Pelaksanaan berjalan baik selama prajuru adat menjalankan proses sesuai awig-awig dan keputusan paruman.

Pemilihan Jro Mangku melalui lekesan bukan sekadar memilih pemimpin spiritual, tetapi memastikan bahwa prosesnya sejalan dengan nilai-nilai sakral, tradisi, dan kesepakatan adat.

“Jika seluruh tahapan dilakukan dengan benar dan transparan, proses ini tidak hanya adil, tetapi juga menjaga keluhuran tradisi desa adat,” ujar Jro Sutrisna. ***

Editor : Dian Suryantini
#desa adat buleleng #lekesan #awig-awig #jro mangku #Nyanjan #galungan #september