BALIEXPRESS.ID– Pembukaan event kuliner jalanan “Sayan Nguni” berlangsung meriah dengan kehadiran Chef I Gede Krisna Wibuwana Putra yang membawakan demo memasak bertema fushion food, Sabtu (22/11) di Banjar Mas Sayan, Ubud. Chef muda berbakat ini memperkenalkan kreasi unik berbahan lindung (belut) yang diolah menjadi lawar bernuansa tradisi persawahan.
Konsep menu tersebut sejalan dengan karakter Sayan Nguni sebagai event yang mengangkat potensi pertanian lokal. Krisna menjelaskan bahwa lindung dipilih karena menjadi ikon kehidupan di sawah. Namun, populasi lindung kini makin sulit ditemukan karena penggunaan obat kimia pertanian yang mengurangi keberadaannya di alam.
“Untungnya, sekarang sudah mulai ada usaha budidaya lindung. Jadi kita bisa tetap melestarikan bahan pangan lokal tanpa mengganggu ekosistem,” ujar Krisna di sela-sela demo memasak.
Selain lindung, Krisna juga mengolah berbagai bahan khas Bali seperti nangka dan paku menjadi hidangan fushion yang tetap mempertahankan cita rasa tradisional. Perpaduan teknik modern dan tradisi ini merupakan ciri khasnya dalam berkarya.
Perjalanan Chef Krisna di dunia kuliner tidak muncul secara instan. Lahir di Denpasar sebagai anak kelima dari enam bersaudara, ia tumbuh dalam keluarga sederhana dan aktif menekuni hobi memancing serta memasak sejak kecil. Bahkan, hasil pancingannya dulu sering langsung ia olah di tepi sungai, kebiasaan yang pelan-pelan membentuk karakter kecintaannya pada rasa.
Setelah menempuh pendidikan di International School Hotel, ia mulai menapaki dunia profesional melalui berbagai lomba memasak, hingga dipercaya menjadi konsultan menu hotel. Keberanian berwirausaha mendorongnya membuka usaha kuliner, hingga tahun 2017 ia mendirikan Warung Diteba yang kini dikenal sebagai pelopor menu samsam guling dan cumi suna cekuh.
Keterlibatannya dalam Sayan Nguni menjadi pengingat bahwa kuliner bukan hanya soal makanan lezat, tetapi juga pelestarian budaya dan pertanian lokal.
“Melalui makanan, kita bisa bercerita tentang tanah kita, tradisi kita, dan masa depan pangan Bali,” ucap Krisna.
Event Sayan Nguni sendiri berlangsung hingga 23 November, menghadirkan 22 UMKM kuliner tradisional, hiburan musik, dolanan anak, serta berbagai atraksi edukatif bertema persawahan.*
Editor : Putu Agus Adegrantika