BALIEXPRESS.ID - Di tengah derasnya arus globalisasi dan tantangan modernitas, budaya lokal Bali kembali menjadi sorotan sebagai fondasi pembentukan karakter generasi muda. Salah satunya adalah budaya Menyama Braya, sebuah kearifan lokal yang sarat nilai-nilai luhur dan sejalan dengan ajaran Tri Hita Karana.
Budaya, sebagai hasil cipta, rasa, dan karsa manusia, menjadi identitas masyarakat yang diwariskan turun-temurun. Khusus di Bali, tradisi dan kebudayaan tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga pedoman hidup bermasyarakat. Menyama Braya menjadi salah satu nilai budaya yang memainkan peran penting dalam membangun kerukunan, solidaritas, serta hubungan harmonis antarwarga.
Belakangan ini, muncul fenomena menguatnya rasa persaudaraan di berbagai komunitas. Namun di sisi lain, fenomena ini justru kadang memunculkan sikap eksklusif, di mana kelompok tertentu hanya membenarkan kepentingan internalnya. Kondisi ini menunjukkan pentingnya kembali menanamkan nilai Menyama Braya sebagai perekat sosial yang menyatukan, bukan memisahkan.
Ketua Aliansi Pemuda Hindu Bali (APHB) Kabupaten Klungkung, Nengah Adi Widiastrawan, menegaskan bahwa kearifan lokal Menyama Braya sangat tepat dijadikan media pendidikan karakter, terutama bagi generasi muda. “Ajaran ini mengandung nilai religius dan sosial yang selaras dengan Tri Hita Karana sebagai landasan hidup harmonis dengan Tuhan, manusia, dan alam,” jelasnya.
Secara filosofis, Menyama Braya bersumber dari ajaran karma marga dan adat istiadat Bali. Nilai utamanya adalah persaudaraan, kesetaraan, gotong royong, serta pengakuan sosial bahwa seluruh manusia adalah saudara. Konsep ini terus hidup dan berkembang, bahkan tetap diterapkan oleh generasi muda di tengah kehidupan modern.
Dalam konteks pendidikan karakter, Menyama Braya mampu membentuk sikap empati, tenggang rasa, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab melalui praktik nyata: saling membantu, bekerja bersama, serta menjaga kerukunan sosial.
Thomas Lickona menyebut pendidikan karakter sebagai sistem penanaman nilai moral yang mencakup pengetahuan, kemauan, hingga tindakan nyata. Sementara John W. Santrock menekankan pentingnya pendekatan langsung untuk melatih moralitas peserta didik.
Kedua konsep ini sejalan dengan praktik Menyama Braya, yang memadukan nilai etika, spiritualitas, hingga keterlibatan sosial sebagai bagian dari pembentukan karakter manusia Bali
Tri Hita Karana dikenal sebagai tiga sumber kebahagiaan yang lahir dari hubungan harmonis manusia dengan Tuhan (Parhyangan), dengan manusia (Pawongan), dan dengan alam (Palemahan). Ajaran ini memiliki peran strategis dalam melestarikan budaya di tengah gempuran materialisme.
Konsep ini bahkan dikuatkan dalam Bhagavadgita XIII.28, yang mengajarkan bahwa Tuhan bersemayam dalam setiap makhluk, sehingga manusia tidak semestinya menyakiti sesamanya.
Dalam kehidupan sehari-hari, ketiga pilar Tri Hita Karana dapat diterapkan melalui, Parhyangan: pembiasaan bersembahyang dan menjaga kesucian tempat suci.
Pawongan, praktik gotong royong, saling membantu, serta menerapkan etika sosial. Palemahan, menjaga dan melestarikan lingkungan melalui kerja bakti dan pengelolaan alam secara bijak.
“Semakin kita menghormati alam, sesama, dan Tuhan, maka semakin harmonis kehidupan yang tercipta,” ujar Widiastrawan.
Fenomena degradasi moral pada anak dan remaja menjadi tantangan besar saat ini. Sering terjadi saling menyalahkan antara masyarakat dan sekolah mengenai pembentukan karakter. Melalui budaya Menyama Braya, nilai-nilai Hindu seperti kedisiplinan, tanggung jawab, dan rasa saling asah-asih-asuh dapat ditanamkan secara nyata.
Sejumlah ajaran sastra Hindu, seperti Kekawin Ramayana, juga menegaskan pentingnya bakti kepada Tuhan, leluhur, dan keluarga sebagai fondasi kehidupan yang harmonis.
"Tri Hita Karana dan Menyama Braya bukan sekadar warisan budaya, tetapi pedoman hidup yang relevan di era modern. Keduanya menjadi media efektif dalam pendidikan karakter yang menekankan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam, " pungkas Nengah Adi.*
Editor : Putu Agus Adegrantika