BALI EXPRESS. ID- Panggung Porsenides Desa Lodtunduh, Kecamatan Ubud, berubah menjadi ruang penuh aura magis ketika Fragmentari bertajuk Lurug Suwung dipentaskan beberapa waktu lalu. Pertunjukan ini bukan sekadar tontonan seni, melainkan sebuah pengalaman spiritual yang mengajak penonton menelusuri laku suci Dukuh Jatituhu, salah satu sosok leluhur pada masa pemerintahan Dalem Semara Kepakisan.
Cerita Lurug Suwung membuka tabir sejarah tiga Dukuh sakti: Dukuh Bunga, Dukuh Pantunan, dan Dukuh Jatituhu. Ketiganya dipersekusi setelah memuput palebon Dalem Tarukan tanpa persetujuan Dalem Semara Kepakisan. Amarah Sang Dalem pun memuncak, hingga mengutus Patih Nyuh Aya untuk menangkap para Dukuh tersebut.
Namun berkat kesaktian dan kejernihan batin, para Dukuh berhasil menghilang dan menyepi ke berbagai penjuru. Dukuh Jatituhu memilih berjalan ke arah barat hingga menemukan sebuah hutan lebat yang disinari cahaya suci bawa teja menjulang ke langit. Wangi alami dan pancaran sinar membuatnya tenggelam dalam tapa, yoga, dan semadi.
Di tengah samadhinya, Dukuh Jatituhu menerima petunjuk bahwa lokasi itu merupakan tanah suci. Namun usahanya membangun tempat pemujaan mendapat penolakan dari para penghuni gaib jin, dedemit, hingga harimau penjaga hutan. Dengan ketulusan dan kekuatan spiritualnya, ia menenangkan mereka dan menyampaikan niat suci untuk memuliakan alam. Setelah hati mereka luluh, hutan itu pun diberkati sebagai tempat suci bernama Alasarum, kini dikenal sebagai Pura Penataran Alas Arum.
Pertunjukan Lurug Suwung tampil begitu magis berkat sentuhan kreatif penata tari I Gusti Ngurah Agung Giri Putra dan Dewa Selamet Raharja. Gerak simbolik, dramatika, dan nilai spiritual diramu menjadi sajian panggung yang sarat filosofi. Iringan gamelan karya I Wayan Suharta dan I Made Widana, serta gerong oleh Ni Luh Putu Marselina Damayanti, memberi energi emosional yang kuat dan memperkaya suasana mistis.
Para penari dari Karang Taruna Desa Lodtunduh tampil total, didukung penabuh gamelan dari Sanggar Sami Sameton Banjar Lodsema di bawah pimpinan I Wayan Awan dan pemilik sanggar I Wayan Rawa. Sementara itu, dalang I Wayan Ariwibawa berhasil menghidupkan alur, narasi, dan pesan moral lewat pembawaan yang berwibawa.
Perbekel Lodtunduh, I Wayan Gunawan, menegaskan bahwa pementasan ini bukan sekadar hiburan. “Kisah Dukuh Jatituhu adalah identitas spiritual Desa Lodtunduh. Melalui pementasan ini, kami ingin generasi muda kembali mengenal akar budaya, menghormati leluhur, dan menjaga keberlanjutan tempat suci Alas Arum,” ujarnya, didampingi Sekdes I Putu Ari Saskara.
Fragmentari Lurug Suwung pun meninggalkan kesan mendalam sebuah jembatan antara tradisi leluhur dan semangat pelestarian budaya di era modern. *
Editor : Putu Agus Adegrantika