BALIEXPRESS.ID- Kabupaten Tabanan memiliki satu olahan kuliner unik yang berasal dari Banjar Dalem Baleran, Desa Pejaten, Kecamatan Kediri, yaitu lawar empas atau labi-labi.
Di balik popularitas kuliner ini, ada sosok Wayan Sudarta, 51, penjual lawar empas yang kini menjadi rujukan pencinta daging empas.
Perjalanan Sudarta menekuni kuliner ini berawal secara tidak sengaja.
Kini lawar empas buatannya dikenal luas, ia pun harus mendatangkan empas dari berbagai daerah, bahkan hingga luar Bali.
Semua bermula pada tahun 2020 ketika ia mendapatkan empas seberat 16 kilogram dari hasil memancing di sungai.
“Awalnya saya mau jual, tapi bapak saya minta untuk menjualnya dalam bentuk masakan,” jelasnya.
Saran itulah yang kemudian mengubah hidupnya. Sudarta mulai mengolah empas menjadi lawar dan serapah, lalu menjualnya di sekitar rumah.
Tak disangka, respons masyarakat sangat positif. Pesanan datang terus-menerus hingga ia kerap kewalahan memenuhi permintaan.
Dari sanalah muncul ide untuk menjual olahan empas secara rutin. Untuk memenuhi kebutuhan produksi, Sudarta mencari pasokan empas hampir ke seluruh Bali, mulai dari Bangli, Karangasem, dan lainnya.
Bahkan, ia mendatangkannya dari Jawa dan Kalimantan ketika stok di Bali tidak mencukupi.
Pelanggan Sudarta datang dari berbagai daerah di Bali. Selain masyarakat yang memang menyukai daging empas, banyak pula yang membeli untuk tujuan pengobatan.
"Olahan daging empas ini memang sering dikaitkan sebagai salah satu makanan pembangkit stamina, tapi selain itu, mengkonsumsi olahan daging empas juga bisa menormalkan kadar kolesterol dan mengobati penyakit asam lambung," ungkapnya,” ujarnya.
Sudarta mengelola usahanya di Warung di Pangkung. Satu porsi olahan empas dijual seharga Rp30 ribu, sudah termasuk nasi putih, serapah, lawar, dan satu gelas air kelapa muda.
Sementara minyak empas dijual mulai dari Rp10 ribu per mililiter, atau dalam kemasan botol seharga Rp100 ribu untuk ukuran 20 ml dan Rp400 ribu untuk 100 ml.
"Dalam sehari rata-rata bisa menghabiskan 20 Kg daging empas dan untuk lemaknya, tergantung pada besar dan kecilnya empas yang kami dapat," tambahnya.
Editor : I Made Mertawan