SINGARAJA, BALI EXPRESS - Di tengah dinamika dunia pendidikan yang terus berubah, sosok Ida Bagus Gde Surya Bharata, hadir sebagai nakhoda baru yang siap membawa Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Buleleng menuju arah yang lebih jelas dan terukur. Pelantikannya pada 24 Oktober 2025 bukan sekadar pengisian jabatan struktural, tetapi menjadi penanda babak baru perjalanan pendidikan dan kepemudaan di Buleleng.
Pria kelahiran Bangli, 19 Desember 1979 ini bukan tipikal pemimpin yang lahir mendadak di garis depan. Langkahnya panjang, tenang, dan konsisten. Sinar determinasi itu sudah tampak sejak ia menempuh pendidikan dasar dan menengah di Bangli, sebelum kemudian merantau ke Buleleng untuk duduk di bangku STKIP Singaraja. Dari Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, ia memahami bahwa pendidikan adalah ruang strategis, bukan sekadar ruang belajar.
Perjalanan akademiknya tak berhenti di sana. Ketika meraih gelar sarjana pendidikan pada tahun 2004, ia sebenarnya sudah lama mengabdi sebagai aparatur sipil negara. Tahun 2000 menjadi titik awal kariernya saat diterima sebagai CPNS di Bagian Pemerintahan Setda Buleleng, bermodalkan ijazah SMA. Dari sana, derap langkah birokrasi mulai mengasah ketajamannya.
Dalam arena birokrasi, Surya Bharata tidak pernah menetap di satu ruang yang sama. Kariernya berpindah dari Bagian Pemerintahan, Bagian Umum, hingga Bagian Humas dan Protokol. Kepercayaan demi kepercayaan berdatangan. Ia memegang jabatan-jabatan ad-hoc, salah satunya sebagai Sekretaris dan kemudian Kepala Unit Layanan Pengadaan (ULP) Kabupaten Buleleng.
Penugasan itu bukan tugas ringan. Sambil melayani kebutuhan pimpinan di Humas dan Protokol, ia juga memastikan proses pengadaan barang dan jasa berjalan objektif dan tepat waktu.
“Jadi sambil melaksanakan tugas pelayanan pimpinan juga ada di pengadaan barang dan jasa,” kenangnya.
Tahun 2016 menjadi titik balik. Ia dipindahkan ke Disdikpora sebagai Kepala Subbag Perencanaan. Di sinilah ia mulai mengenali pendidikan bukan dari permukaan, melainkan dari jantung perencanaan. Kurikulum, sarpras, SDM, dan dinamika kebutuhan peserta didik. Ruang perencanaan itu kelak menjadi fondasi cara berpikirnya sebagai Kepala Dinas.
Kariernya terus menanjak. Tahun 2019 ia dipercaya menjadi Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga, lalu dua tahun kemudian diangkat sebagai Sekretaris Disdikpora. Pengalaman ini memperluas pandangannya tentang keterkaitan pendidikan dengan kondisi geografis Buleleng, kemampuan fiskal daerah, hingga potensi wilayah yang tersembunyi.
Ketika akhirnya dilantik sebagai Kepala Disdikpora pada 24 Oktober 2025, ia membawa modal pengalaman yang matang, bukan hanya dalam urusan administrasi tetapi juga dalam membaca arah kebijakan pendidikan jangka panjang.
Meski bukan berangkat dari profesi guru, Gus Surya mempunyai fondasi akademik yang kuat. Ia menyelesaikan S2 Kebijakan Publik di Undiknas, memperdalam pemahamannya terkait layanan dasar pemerintah seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, hingga sosial.
“Kebetulan saya ada basic di pendidikan, jadi saya mencoba menelusuri itu. Disitu belajar tentang kebijakan-kebijakan pendidikan secara lebih mendalam,” ujarnya.
Baginya, pendidikan adalah dunia luas yang tak bisa disederhanakan hanya pada proses pembelajaran. Ada kurikulum, sarpas, kualitas guru, tenaga kependidikan, hingga konteks sosial daerah. Semua harus dipetakan, dipahami, dan dirangkai dalam kebijakan yang realistis dan berorientasi pada masa depan.
Sebagai pimpinan, ia tidak melihat Buleleng hanya sebagai wilayah dengan medan sulit atau keterbatasan anggaran. Ia memandangnya sebagai mosaik dengan ada tantangan, ada potensi.
“Kondisi dan potensi tidak boleh dipisahkan. Di setiap keterbatasan pasti ada sisi kekuatan. Tugas kami adalah mengelola keduanya untuk menemukan solusi terbaik,” katanya.
Arah kebijakan yang ia bawa pun terstruktur. Untuk jangka pendek, ia memetakan kebutuhan pendidikan, pemerataan sarpras, penguatan regulasi kepemudaan, dan kolaborasi olahraga bersama KONI, KORMI, dan organisasi lainnya.
Untuk jangka menengah, dilakukan pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) sebagai tolok ukur kerja daerah. Serta untuk jangka panjang ia ingin membangun generasi muda Buleleng yang cerdas, berkarakter, sehat, dan produktif.
Salah satu tantangan terbesarnya adalah kekurangan guru di Buleleng. Banyak guru pensiun, tetapi formasi ASN terbatas. Pengangkatan guru honorer sudah tidak diperbolehkan, sementara sekolah tetap harus berjalan.
Ia merespons dengan langkah-langkah strategis dengan mengoptimalkan jam mengajar guru yang ada, berkonsultasi intensif dengan pemerintah pusat, hingga bekerja sama dengan komite sekolah untuk menghadirkan tenaga pengabdi non-honor sebagai asisten guru, serta menggandeng yayasan pendidikan untuk menyediakan volunteer terlatih.
“Kami tidak ingin ada proses belajar-mengajar yang terhenti. Selama regulasi belum membuka rekrutmen baru, kami mencari pola yang aman, sesuai aturan, dan tetap memberikan layanan terbaik,” tegasnya.
Pemerintah daerah juga akan mengusulkan formasi guru baru dalam anggaran tahun 2026. Kebutuhan guru mencapai lebih dari seribu orang—angka yang mencerminkan betapa besar tanggung jawab yang ia emban.
Dalam diri Gus Surya Bharata, birokrasi bukan sekadar rutinitas. Ia menjadikannya alat untuk menata pelayanan dasar yang menentukan masa depan ribuan anak di Buleleng. Kepemimpinannya memadukan ketenangan, ketegasan, dan visi yang menatap jauh ke depan.
Ia percaya, pendidikan yang baik tidak hanya mencerdaskan, tetapi membentuk karakter dan membuka peluang. Dengan pandangan strategis dan langkah yang terukur, ia berupaya memastikan generasi Buleleng tumbuh sebagai pribadi yang paten—cerdas, sehat, dan berdaya saing. ***
Editor : Dian Suryantini