BALIEXPRESS. ID- Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, I Made Danu Tirta, menegaskan pentingnya pengelolaan nafsu sebagai kunci keseimbangan hidup. Menurutnya, setiap manusia lahir dengan bekal kama atau nafsu yang berfungsi sebagai pendorong dalam bertindak dan berkembang.
Dalam penjelasannya, Danu Tirta menyebut nafsu sebagai ruang hasrat yang menghasilkan realitas hidup yang kompleks. Dari nafsu, kata dia, lahir kreativitas, kemajuan, namun juga bisa memicu kehancuran bila tidak diatur.
Ia menegaskan bahwa keberadaan nafsu bukan hal yang harus dihindari, tetapi perlu dikelola. Tanpa nafsu, manusia justru kehilangan energi pendorong untuk bertindak dan berkreasi.
Mengutip Sarasamuccaya Sloka 77, Danu Tirta menyampaikan bahwa nafsu dianalogikan sebagai sorga dan neraka. Bila mampu dikendalikan, nafsu menjadi jalan menuju kebahagiaan. Sebaliknya, bila dibiarkan liar, nafsu dapat menyeret seseorang pada kesengsaraan.
Menurutnya, sloka tersebut menjadi pengingat mendalam bahwa nasib manusia banyak ditentukan oleh sikap dalam mengelola nafsunya sendiri. Ia menggambarkan nafsu seperti pedang bermata dua, dapat melindungi, tetapi juga dapat melukai, tergantung siapa yang memegangnya.
“Pedang yang diarahkan dengan baik akan berguna. Namun jika digunakan secara serampangan, pedang itu dapat melukai diri sendiri. Begitu pula dengan nafsu,” jelasnya.
Danu Tirta menambahkan, banyak sastra Hindu menekankan kewaspadaan terhadap nafsu, bukan untuk mematikannya, tetapi agar umat memahami cara memperlakukan dorongan tersebut dengan bijaksana.
Ia menegaskan bahwa kebahagiaan dan penderitaan dalam hidup sangat berkaitan erat dengan kemampuan seseorang mengendalikan nafsunya. Pengendalian itu bukan untuk menekan hasrat, melainkan mengarahkan hasrat pada hal-hal yang membawa kebaikan.
Menurutnya, orang yang memanfaatkan nafsu sebagai pendorong kebaikan akan lebih mudah mencapai kebahagiaan sejati. Namun, mereka yang membiarkan nafsunya merugikan orang lain akan menuai kesengsaraan.
Pada sisi lain, Danu Tirta menyampaikan bahwa hidup tanpa nafsu justru menimbulkan kehampaan. Manusia membutuhkan dorongan rasa untuk menjalani aktivitas dan memberikan makna pada kehidupan.
Meski demikian, ia mengakui bahwa intensitas nafsu dapat berubah seiring fase usia. Pada masa muda, nafsu cenderung aktif sebagai energi pertumbuhan. Namun pada usia lanjut, secara alami nafsu menurun seiring kebutuhan hidup yang juga berbeda.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa nafsu memiliki hubungan erat dengan pikiran. Nafsu bekerja sebagai dorongan, sedangkan pikiran berfungsi sebagai perumus tindakan yang harus dilakukan manusia.
“Pikiran yang terstimulasi oleh nafsu akan menggerakkan tubuh untuk mewujudkan apa yang dianggap menyenangkan. Di sinilah pentingnya peran pikiran sebagai pengendali,” imbuhnya.
Ia menjelaskan pula bahwa nafsu turut berkaitan dengan hak dan kewajiban manusia. Ketika seseorang bekerja sesuai bidang yang disukai, hasil kerjanya cenderung lebih total dan berkualitas karena didorong rasa senang.
Namun, Danu Tirta mengingatkan bahwa nafsu yang mendorong pikiran berlebihan dapat berubah menjadi ambisi yang tidak sehat. Ambisi awalnya lahir dari keinginan untuk mencapai tujuan tertentu, tetapi bisa berkembang menjadi ambisius ketika hilang kendali.
Menurutnya, orang yang ambisius akan menghalalkan berbagai cara demi memenuhi dorongan nafsunya. Mereka tidak hanya menggunakan strategi positif, tetapi juga dapat tergelincir pada cara-cara negatif.
“Ketika pikiran tidak mampu lagi mengendalikan nafsu, maka lahirlah sikap keras, ngotot, dan tidak kompromi. Ini yang berbahaya,” jelas pria asli Penebel Tabanan ini.
Ia menegaskan kembali bahwa semua bentuk tindakan, baik positif maupun negatif, pada akhirnya bermula dari bagaimana seseorang mengolah nafsunya. Karena itu, manajemen nafsu menjadi bagian penting dalam perjalanan spiritual dan moral seorang manusia.
Bagi Danu Tirta, pengelolaan nafsu yang baik tidak hanya membawa ketenangan batin, tetapi juga membantu seseorang menghasilkan karma baik. Karma baik itulah yang menjadi tugas dasar manusia selama hidup di dunia.
Dikatakannya bahwa hidup menjadi lebih bermanfaat ketika nafsu diarahkan pada hal-hal yang mengangkat nilai diri dan membawa kebahagiaan bagi sesama. Sebaliknya, nafsu yang dibiarkan liar akan menggerus kualitas hidup.
Manajemen nafsu, menurutnya, bukan proses sekali jadi, tetapi perjalanan panjang yang membutuhkan kesadaran, latihan, dan ketulusan dalam menjalani kehidupan.
Ia pun mengajak umat Hindu untuk senantiasa mengevaluasi dorongan-dorongan dalam diri, membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang membawa kerugian.
Dengan demikian, setiap tindakan yang lahir bukan sekadar reaksi terhadap keinginan, tetapi keputusan sadar yang berlandaskan dharma atau kebenaran.
Danu Tirta menegaskan pentingnya menjadikan nafsu sebagai energi positif. Nafsu bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dipahami dan dipelajari.
“Jika nafsu dikelola dengan benar, ia menjadi motor penggerak kehidupan yang berkualitas. Namun jika diabaikan, ia bisa menjadi sumber kehancuran,” ujarnya.
Ia berharap umat Hindu, khususnya generasi muda, mampu menjadikan ajaran Sarasamuccaya Sloka 77 sebagai pedoman dalam mengarungi dinamika kehidupan modern.
Melalui pengendalian diri dan pemahaman terhadap nafsu, umat dapat membentuk karakter luhur dan mewujudkan kebahagiaan sejati yang menjadi tujuan hidup.
“Mari kita manajemen nafsu dengan baik, agar hidup kita menjadi lebih bermanfaat, lebih berkualitas, dan lebih selaras dengan dharma," pungkas Danu. *
Editor : Putu Agus Adegrantika