Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Wabah Ulat Bulu di Serongga Tengah, Warga Resah dan Produksi Bunga Sandat Terancam

Putu Agus Adegrantika • Jumat, 12 Desember 2025 | 01:29 WIB
ULAT : Wabah ulat bulu di Banjar Serongga Tengah, Gianyar.
ULAT : Wabah ulat bulu di Banjar Serongga Tengah, Gianyar.

BALIEXPRESS. ID – Keresahan tengah melanda warga Banjar Serongga Tengah, Desa Serongga, Gianyar. Selama hampir sepekan terakhir, ribuan ulat bulu menyerang pohon sandat hingga memasuki rumah-rumah penduduk. Fenomena ini bukan kali pertama terjadi, tahun lalu, serangan serupa juga sempat membuat warga panik.

Pohon sandat, yang selama ini menjadi ikon sekaligus sumber penghasilan utama masyarakat, tampak gundul dan rusak setelah dedaunannya habis dimakan ulat. Berbagai upaya penanggulangan sudah dilakukan warga secara mandiri, mulai dari mengumpulkan ulat secara manual hingga menyemprotkan cairan pembasmi serangga. Namun, hasilnya nihil. Ulat tetap muncul dalam jumlah besar.

“Untuk antisipasi, tiang mohon pihak terkait bisa membantu untuk penanganannya,” ujar I Ketut Astawa Suyasa yang merupakan warga asli Serongga Tengah ini , Kamis (11/12).

Ia menegaskan bahwa kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena sudah mengganggu kenyamanan dan aktivitas warga.

Ratusan warga kini terdampak secara langsung. Ulat bulu tidak hanya memenuhi pohon-pohon sandat, tetapi juga merayap masuk ke ruang tamu, kamar tidur, dapur, hingga area istirahat. Banyak warga mengaku sulit tidur akibat rasa gatal dan potensi alergi yang timbul dari kontak dengan ulat.

Dampak ekonomi pun mulai terasa. Dewa I Nyoman Sudiarta, salah satu warga yang menggantungkan hidup dari penjualan bunga sandat, mengungkapkan bahwa produksi bunga menurun drastis.

“Sandat sudah bertahun-tahun menjadi sumber utama penghasilan di Banjar Serongga Tengah. Kalau terus begini, kami sangat kewalahan,” keluhnya.

Pohon sandat dikenal sebagai tanaman khas Banjar Serongga Tengah. Hampir setiap rumah menanamnya untuk dijual ke pasar, pedagang canang, dan kebutuhan upacara adat. Wabah ulat bulu yang datang hampir setiap tahun membuat warga khawatir tanaman yang menjadi identitas desa itu terancam punah.

Warga berharap pemerintah dan instansi terkait segera melakukan penanganan terpadu, mulai dari penyemprotan berskala besar hingga kajian penyebab wabah agar langkah pencegahan dapat dilakukan lebih efektif. Situasi ini menjadi alarm serius bahwa serangan hama musiman bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga dapat mengancam kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup pada hasil alam.*

Editor : Putu Agus Adegrantika