Acara DWP ini diawali dengan seminar bertema “Ibu Sehat, Keluarga Kuat : Cegah Kanker Serviks dan Kanker Payudara Sejak Dini” di Aula Rektorat, Kampus Menjangan, IAHN Mpu Kuturan.
Ketua panitia peringatan DWP ke-26, Ni Made Yunitha Asri Diantary menjelaskan kegiatan ini menjadi momen istimewa untuk merayakan perjuangan perempuan untuk keluarga dan masyarakat.
“Tema ini adalah pengingat bahwa dalam setiap sentuhan seorang ibu tersimpan seribu kekuatan yang menghidupkan. Perempuan buka hanya tiang keluarga tapi sumber inspirasi,” kata Yunitha Asri.
Ia menambahkan, perayaan HUT DPW ke 26 di Institut Mpu Kuturan ini diikuti sebanyak 140 orang peserta. Pihaknya berharap, kegiatan seminar menjadi kesempatan untuk menambah pengalaman dan wawasan sehingga semakin kuat untuk merawat keluarga.
“Semoga kegiatan ini memperkokoh kebersamaan kita. Terimakasih kepada pimpinan dan jajaran di lingkungan IMK, Panitia, narasumber, dan peserta. Salam sehat berdaya,” paparnya.
Sementara itu, Ketua Ketua DWP Institut Mpu Kuturan, Ni Wayan Ayuk Wirastini Suwindia saat membuka kegiatan menjelaskan, peringatan HUT DWP yang ke 26 menjadi renungkan semangat perempuan dan emansipasi guna meningkatkan kualitas diri agar menjadi lebih kuat dan relevan.
H”UT ini merupakan esensi perjuangan perempuan perempuan multitalenta banyak bergelar di rumah tangga sebagai ibu, pekerja dan pendidikan kepada anak-anak kita” ungkapnya.
Ayuk Wirastini menambahkan, DWP bukan sekadra Organi istri PNS namun garda terdepan dalam membangun masyarakat dalam mensosialisasikan program pemerintah. Sejalan dengan tema besar DWP peran strategis dharama wanita.
“Disini kita memberikan pendidikan terkecil mulai dari keluarga karena kita garda terdepan dan garda paling vital karena seorang ibu adalah tokoh panutan dalam keluarga. Terimakasih kepada ibu-Ibu DWP kita sudah melaksanakan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Santunan ke panti asuhan, seminar parenting dan seminar Kesehatan,” sebutnya.
Ia juga berharap kedepan DWP harus menjadi organisasi yang merangkul dalam perkembangan zaman. DWP IAHN agar membuat program kegiatan yang mendukung dan berkontribusi demi masyarakat.
“Seminar Kesehatan ini menjadi edukasi penting bagi ibu-ibu, karena rentan terkena penyakit. Sehingga momentum ini menjadi deteksi awal, sehingga bisa melakukan pencegahan,” pungkasnya.
Sementara itu, Nyoman Yuniari, SST dari Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng dalam pemaparannya menjelaskan upaya pencegahan kanker serviks dan kanker payudara kembali menjadi perhatian utama dalam kampanye kesehatan perempuan yang dilaksanakan di Kabupaten Buleleng.
Kegiatan bertema “Ibu Sehat, Keluarga Kuat” ini menekankan pentingnya deteksi dini, mengingat dua jenis kanker tersebut masih menjadi penyebab kematian tertinggi pada perempuan Indonesia.
Data nasional menunjukkan bahwa kanker serviks merupakan penyebab kanker ke-2 pada perempuan di Indonesia, dengan 70 persen kasus ditemukan pada stadium lanjut dan sekitar 50 persen pasien meninggal akibat terlambat ditangani.
“Minimnya literasi kesehatan, rendahnya cakupan imunisasi HPV, serta partisipasi skrining yang masih terbatas menjadi tantangan serius dalam upaya eliminasi penyakit ini,” jelasnya.
Dijelaskan bahwa infeksi Human Papilloma Virus (HPV) tipe 16 dan 18 merupakan penyebab utama kanker serviks. Infeksi HPV awalnya bersifat sementara dan dapat sembuh dalam 12–24 bulan, namun jika menjadi persisten, dapat berkembang menjadi kanker dalam rentang waktu 10–15 tahun.
Oleh karena itu, perempuan dianjurkan rutin melakukan skrining melalui IVA Test atau Pap Smear untuk memantau perubahan sel serviks. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah mengadopsi strategi Triple Intervention 90-70-90, yaitu mendorong 90 persen perempuan mendapatkan imunisasi HPV, memastikan 70 persen perempuan melakukan skrining secara berkala, serta menjamin 90 persen pasien yang terdiagnosis mendapatkan tatalaksana yang sesuai.
“Perubahan perilaku seksual berisiko, kebiasaan merokok, serta riwayat keluarga turut meningkatkan kerentanan perempuan terhadap kanker serviks,” katanya.
Selain kanker serviks, ancaman kanker payudara, yang muncul akibat pertumbuhan sel abnormal pada jaringan payudara dan berpotensi menyebar ke organ lain. Faktor risiko meliputi usia di atas 50 tahun, riwayat menstruasi dini, tidak memiliki anak atau tidak menyusui, konsumsi alkohol, obesitas, dan riwayat keluarga dengan penyakit yang sama.
Deteksi dini melalui SADARI (periksa payudara sendiri) setiap bulan serta SADANIS (pemeriksaan klinis) setiap tiga tahun dinilai sangat penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan.
“Oleh karena itu, kami menegaskan bahwa pencegahan primer melalui gaya hidup CERDIK serta skrining berkala merupakan langkah paling efektif menurunkan angka kematian. Pengetahuan dan deteksi dini adalah kunci. Semakin cepat ditemukan, semakin besar peluang untuk pulih,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika