Dengan hasil tersebut, status juara bertahan berpindah tangan dan Jawa Timur mencatatkan diri sebagai juara baru.
Keberhasilan penyelenggaraan yang telah memasuki edisi kedua ini menegaskan posisi Soekarno Cup sebagai salah satu ajang penting dalam pembinaan dan pengembangan pemain muda di Indonesia.
Turnamen ini dinilai mulai menjadi destinasi utama bagi talenta-talenta sepak bola usia muda dari berbagai daerah.
Selain kompetisi pembinaan yang telah lebih dulu dikenal seperti Soeratin Cup dan Elite Pro Academy (EPA), kehadiran Soekarno Cup kini menjadi target baru bagi generasi muda sepak bola Tanah Air untuk mengasah kemampuan dan menunjukkan potensi mereka di level nasional.
"Sangat luar biasa PDI Perjuangan membuat event pembinaan usia muda. Anak anak se Indonesia jadinya punya tujuan berlatih untuk tampil di usia 17 Soekarno Cup selain Soeratin, EPA dan event nasional lainnya," kata pelatih Jawa Timur, Anies Septiawan.
Anies juga menilai kualitas penyelenggaraan turnamen ini sudah sangat baik dan hampir setara dengan kompetisi Elite Pro Academy yang berada di bawah naungan PSSI.
"Kalau kualitas eventnya dijaga seperti ini luar biasa. Bisa melebihi event usia muda lainnya," katanya.
Menurutnya, panitia Soekarno Cup mampu menata turnamen secara profesional, mulai dari penjemputan dan akomodasi peserta hingga kesiapan venue pertandingan yang dinilai berkelas Liga Super Indonesia (Liga 1).
"Semua panitia di Bali luar biasa. Ini top level, sekelas turnament yang bukan resmi dari PSSI, bisa memberi kami bermain lapangan kualitas bagus. Bermain di stadion yang dipakai tim Liga 1.Kami berterima kasih kepada PDIP dan semua panitia di Bali," katanya.(ika)
Editor : I Putu Mardika