Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Melihat Persiapan Perayaan Natal di Banjar Piling Tabanan yang Lekat dengan Tradisi Bali

IGA Kusuma Yoni • Rabu, 24 Desember 2025 | 15:18 WIB
Persiapan perayaan Natal di Gereja Immanuel Piling, Desa Mengerti, Tabanan. 
Persiapan perayaan Natal di Gereja Immanuel Piling, Desa Mengerti, Tabanan. 

BALIEXPRESS.ID- Banjar Piling, Desa Mengerti, Kecamatan Penebel, Tabanan, menjadi salah satu tempat yang diperkirakan bakal meriah saat perayaan Natal.

Banjar Piling menjadi salah satu banjar di Bali dengan komunitas umat Kristen yang sudah berusia puluhan tahun. 

Oleh karena itu, momen Hari Raya Natal, menjadi salah satu perayaan yang meriah, tidak saja untuk perayaan keagamaan, namun juga bagian dari tradisi di banjar setempat.

Hal ini karena umat Kristen melaksanakan perayaan Natal dengan memadukan nilai keagamaan dan kearifan lokal Bali. 

Menurut panitia pembangunan Gereja Immanuel Piling, I Wayan Suka Artha, tradisi tersebut diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu tradisinya yang masih abadi sampai sekarang adalah kegiatan ngejot atau saling berbagi makanan ke rumah warga, termasuk kepada umat Hindu di sekitar lingkungan banjar.

"Selain tradisi ngemot ini, ketika merayakan Natal kami juga melakukan persiapan layaknya persiapan Hari Raya Hindu, salah satunya adalah memasang penjor, janur, dan gebogan dan beberapa hal lainnya," jelasnya Selasa (23/12/2025). 

Untuk perayaan Natal tahun ini, Suka Artha menjelaskan bahwa persiapannya sudah dilakukan dimulai dengan jemaat bergotong royong membersihkan area gereja serta menghiasnya dengan ornamen khas Natal yang dipadukan unsur adat Bali.

Rangkaian persiapan Natal ini disebutkan sudah dilakukan sejak tanggal 20 hingga 22 Desember 2025.

Persiapan tersebut meliputi kegiatan ngejot dan mebat atau memasak bersama seperti yang dilakukan masyarakat Hindu ketika menyambut hati Raya Galungan. 

“Kami membuat lawar untuk kegiatan ngejot yang dibagikan kepada umat Hindu di sekitar. Selain lawar, ada juga jajanan Bali. Ini sudah menjadi tradisi yang dijaga turun-temurun yang bertujuan untuk menjaga suka cita menyambut hari raya," lanjutnya. 

Setelah aktivitas menatap dan Ngejot ini, persiapan Natal kemudian dilanjutkan dengan menghias altar Natal yang ada di Gereja mulai dari emasang penjor, serta membuat gebogan dari janur yang dikerjakan oleh kaum ibu.

Di masing-masing rumah jemaat pun turut dilakukan persiapan serupa.

Ibadah malam kudus dilaksanakan pada 24 Desember, dilanjutkan perayaan Natal keesokan harinya.

Untuk rangkaian ibadah, pelaksanaan mengikuti liturgi malam kudus yang berlaku di seluruh Bali.

Rangkaian tersebut meliputi pembukaan, tarian, panggilan ibadah, doa, ilustrasi kelahiran Yesus Kristus, hingga perayaan malam lilin. 

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, saat acara peribadatan di gereja, para jamaat diwajibkan mengenakan pakaian adat Bali. Untuk laki-laki mengenakan pakaian khas Bali dari udeng hingga kamen, sedangkan perempuan mengenakan kebaya. 

“Harapan kami di Natal tahun ini, jemaat diberikan kedamaian dan kesejahteraan, serta hubungan harmonis antarumat beragama di Bali tetap terjaga seperti yang telah diwariskan leluhur,” ungkapnya. (*) 

 

Editor : I Made Mertawan
#Umat Kristen #Natal #tabanan