Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ngerebeg Penuh Inovasi di Pura Duur Bingin Tegallalang, Pasek Manik Pradana Jadikan Ruang Ekspresi Budaya

Putu Agus Adegrantika • Jumat, 26 Desember 2025 | 00:49 WIB

 

TRADISI : Pelaksanaan tradisi ngerebeg di Desa Adat Tegallalang, Gianyar, Rabu (24/12).
TRADISI : Pelaksanaan tradisi ngerebeg di Desa Adat Tegallalang, Gianyar, Rabu (24/12).

BALIEXPRESS .ID- Setiap enam bulan sekali, tepat pada hari Buda Kliwon Pahang atau Buda Kliwon Pegatwakan, Desa Adat Tegallalang, Kabupaten Gianyar, kembali diselimuti suasana sakral sekaligus meriah melalui tradisi Ngerebeg di Pura Duur Bingin. Tradisi turun-temurun ini bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi ruang ekspresi budaya yang terus hidup dan berkembang seiring kreativitas warganya.

Ngerebeg dilakukan dengan berkeliling desa, diikuti oleh krama adat yang menghias diri dengan berbagai riasan unik di tubuh mereka. Tradisi ini diyakini sebagai simbol penetralisir energi negatif (bhuta kala), sekaligus wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar keseimbangan alam dan kehidupan masyarakat tetap terjaga.

Di tengah tradisi sakral tersebut, sosok I Gede Pasek Manik Pradana, warga asli Banjar Penusuan, Desa Adat Tegallalang, selalu mencuri perhatian. Setiap perayaan Pegatwakan, Pasen Manik tak pernah absen menghadirkan inovasi hiasan tubuh yang berbeda dari sebelumnya. Konsistensinya berkreasi menjadikan Ngerebeg bukan hanya ritual, tetapi juga panggung kreativitas berbasis kearifan lokal.

“Setiap enam bulan saya selalu berusaha membuat yang berbeda, supaya tradisi ini tetap hidup dan menarik, terutama bagi generasi muda,” ungkap Pasek Manik Pradana saat ditemui di sela-sela prosesi Ngerebeg. Baginya, inovasi adalah bentuk rasa syukur sekaligus tanggung jawab menjaga warisan leluhur.

Pada Pegatwakan kali ini, Pasek Manik mengangkat ide jajan pragembal sebagai tema utama hiasan tubuhnya. Dengan sentuhan imajinasi, jajanan tradisional tersebut diolah menjadi ornamen yang menempel di seluruh tubuh, menciptakan visual unik yang sarat makna budaya. Tak sekadar estetik, karyanya juga menyampaikan pesan tentang pentingnya melestarikan kuliner tradisional Bali.

 

Menariknya, seluruh bahan yang digunakan Pasen Manik berasal dari bahan alam yang tersedia di lingkungan sekitar desa. Ia memanfaatkan daun, bunga, serta unsur alam lainnya tanpa bahan buatan, sebagai simbol keharmonisan manusia dengan alam. “Idenya dari apa yang ada di sini. Alam sudah menyediakan, tinggal bagaimana kita mengolahnya dengan niat yang baik. Dulu sempat menyerupai Kala Ceroncong , Kala Kuluk , Kala Poleng , Kala Nyuh Gadang , Kala Burik, dan sekarang Kala Jaje Peregembal,” jelas pria yang merupakan seorang guru olahraga ini. 

Kehadiran inovasi seperti yang dilakukan Pasek Manik Pradana menambah warna dalam prosesi Ngerebeg. Warga dan pengunjung tampak antusias menyaksikan arak-arakan keliling desa yang penuh kreativitas namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai adat dan spiritual.

Tradisi Ngerebeg di Pura Duur Bingin pun membuktikan bahwa kearifan lokal dapat terus berkembang tanpa kehilangan makna. Melalui sentuhan kreativitas warga seperti Pasek Manik Pradana, warisan budaya leluhur tidak hanya lestari, tetapi juga relevan dengan zaman, menjadi identitas hidup Desa Adat Tegallalang yang patut dijaga dan dibanggakan.*

Editor : Putu Agus Adegrantika